Irak, Antara Damai dan Ketakutan

Piala Asia

Irak, Antara Damai dan Ketakutan

- Sepakbola
Jumat, 27 Jul 2007 14:55 WIB
Irak, Antara Damai dan Ketakutan
Jakarta - Darah yang tertumpah menjadi harga mahal tiket Irak ke final Piala Asia. Namun harapan damai persatuan di Negeri Seribu Satu Malam masih jadi ambisi Younis Mahmoud dkk di final Piala Asia 2007. Mungkin tak banyak keceriaan di tim Irak usai menundukkan Korea Selatan dan meraih tiket ke final Rabu (25/7/2007) lalu. Harapan agar damai tercipta seiring sukses yang di raih Younis Mahmoud cs justru menimbulkan kepiluan saat 51 orang tewas karena bom mobil dalam perayaan kemenangan tersebut."Kami tahu di Irak kami harus berjuang dan kami juga akan berjuang di lapangan karena itu yang bisa kami berikan pada rakyat kami. Kami harus melawan, kita akan tunjukkan ke mereka (rakyat Irak) kalau apa yang kami raih di sini adalah untuk mereka," ungkap kiper Noor Sabri di AFP, Jumat (27/7/2007).Kekhawatiran insiden serupa bakal terjadi pasca laga final, Minggu (29/7/2007) mendatang memang terbersit di hati seluruh pemain dan warga Irak. Tapi justru momen itulah yang dianggap tepat untuk menunjukkan bahwa rakya Irak sebenarnya dalam keadaan bersatu, tanpa memperdulikan asal suku yang kini menjadi sumber pertikaian."Jika kami menang kami akan pergi ke jalanan, bahkan jika bumi berguncang karena ledakan bom. Kami akan menantang kematian sambil mengangkat bendera Irak untuk memberitahu pembunuh dan politisi kalau kami bersatu," ungkap Abdul-Hussein Khazal Obeid, seorang guru dari suku Shiite berusia 28 tahun.Obeid tak sendiri meneriakkan dukungan sekaligus kecaman terhadap para pembunuh serta politisi yang dianggap gagal mempersatukan Irak. Sebaliknya, hampir seluruh warga irak menyebut 24 anggota skuad Irak yang bakal berlaga di Senayan adalah pahlawan baru mereka."Kegembiraan yang muncul mempersatukan Irak dari Zakho sampai Basra! Mereka (skuad Irak) melakukan apa yang politisi tidak bisa lakukan -- membuat kami sangat bergembira," sahut Mohamed Al-Bajari, seorang profesor di Universitas Basra.Irak memang harus melalui Arab Saudi terlebih dahulu sebelum mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di Asia. Namun kalaupun gagal berpesta di Senayan dan kedamaian urung tercipta, segerombolan Singa Mesopotamia telah menjadi pahlawan buat di hati warga Irak. (din/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads