Presiden Federasi Sepakbola Afrika (CAF) Patrice Motsepe tak masalah dengan sikap Senegal yang mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) setelah pihaknya mencabut gelar Piala Afrika 2025 dari tangan mereka.
"Saya diberitahu bahwa Senegal akan mengajukan banding, yang sangat penting. Setiap dari 54 negara di Afrika memiliki hak untuk mengajukan banding dan kami akan mematuhi dan menghormati keputusan yang diambil di tingkat tertinggi," ujar Motsepe pada Rabu (18/3/2026).
Motsepe juga membantah pihaknya memberikan perlakuan istimewa kepada Maroko, seperti tudingan yang muncul di luar sana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Pemerintah Senegal Sebut CAF Koruptor! |
"Faktor krusialnya adalah tidak satu pun negara di Afrika akan diperlakukan dengan cara yang lebih istimewa, atau lebih menguntungkan, atau lebih baik daripada negara lain di benua Afrika," jelasnya.
Maroko, yang kalah 0-1 dari Senegal di final Piala Afrika 2025 di Rabat pada 18 Januari lalu, menggugat hasil di final tersebut karena Senegal sempat mogok main di pengujung babak kedua akibat keputusan wasit Jean-Jacques Ndala yang memberi penalti ke tuan rumah.
Laga tertunda selama belasan menit dengan sejumlah pemain meninggalkan lapangan. Namun wasit saat itu tidak mengambil sikap kepada Senegal. Ia malah melanjutkan laga usai Sadio Mane membujuk rekan setimnya untuk kembali bermain.
Ketika pertandingan berjalan lagi, penalti Brahim Diaz gagal berbuah gol. Lalu Senegal memastikan kemenangan 1-0 lewat Pape Gueye di babak 2x15 menit.
Awalnya gugatan Maroko ditolak Komite Disiplin CAF beberapa hari setelah final, namun mereka kembali melanjutkan gugatan itu di tingkat Dewan Banding CAF yang kemudian mengabulkan gugatan itu pada 17 Maret lalu. Senegal tak terima dan balik mengajukan banding ke CAS.
Argumen yang dipakai adalah Senegal melanggar pasal 82 aturan Piala Afrika, yakni "meninggalkan lapangan sebelum laga usai tanpa izin dari wasit." Maroko kemudian diganjar kemenangan 3-0 karena Senegal dianggap walkout.
Keputusan ini memicu perdebatan karena laga sudah selesai dan kembali dilanjutkan. Motsepe menyebut keputusan Dewan Banding CAF diambil oleh orang-orang independen.
"Penting agar keputusan Komite Disiplin dan Dewan Banding (CAF) dipandang dengan hormat dan integritas. Jika Anda melihat komposisi badan-badan tersebut, mereka mencerminkan beberapa pengacara dan hakim paling terhormat di benua ini," ujar Motsepe.
"Namun kami masih harus mengatasi persepsi dan kekhawatiran tentang integritas ini. Ini adalah masalah yang berkelanjutan," jelasnya.
(adp/aff)










































