Blatter khawatir kondisi lapangan untuk gelaran Piala Dunia itu kurang memenuhi syarat. Yang jadi alasan adalah kondisi Afrika Selatan, di mana panas dan cuaca kering tiba-tiba bisa diikuti oleh guyuran hujan lebat, yang jelas tidak bagus buat lapangan rumput.
Contoh yang bisa ditarik adalah kondisi permukaan lapangan di Ghana ketika Piala Afrika digelar. Salah satu ketidakpuasan terhadap rumput lapangan terlontar dari pelatih tim tuan rumah, Claude Le Roy, usai memenangi pertandingan pembuka atas Guinea.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah ada gambaran, walaupun belum jadi keputusan akhir, bahwa Piala Dunia 2010 bisa dimainkan di atas permukaan artifisial. Saya pikir kini saatnya bagi wilayah ini untuk memikirkannya. Kondisi permukaan artifisial akan sama sepanjang tahun," argumen Blatter dilansir Telegraph, Selasa (12/2/2008).
"Saya sudah mengikuti sejumlah besar laga Piala Afrika dengan minat besar dan saya harus katakan bahwa sepakbola Afrika memiliki level yang sangat tinggi. Yang saya tidak suka adalah permukaan lapangannya, terutama di Accra, rumputnya terlalu tinggi," tuntas Blatter.
Gagasan Blatter sepertinya bakal menuai reaksi negatif karena banyaknya pemain dan pelatih yang tidak menyukai permukaan artifisial karena merugikan tim-tim yang tidak terbiasa bermain di atasnya.
Pada bulan Oktober lalu, Inggris bersusah payah menghadapi Rusia di Moskow dalam partai krusial kualifikasi Piala Eropa 2008, di atas permukaan lapangan artifisial. Hasilnya The Three Lions kalah 2-1.
(krs/din)











































