Upaya memutus rekor itu gagal dilakukan Milan di San Siro, Rabu (5/3/2008) dinihari WIB. Sang juara bertahan harus masuk kotak akibat dua gol Arsenal lewat Francesc Fabregas dan Emmanuel Adebayor.
Uniknya, tim terakhir yang mampu mempertahankan gelar adalah Milan sendiri. Il Diavolo Rosso melakukannya dengan menjuarai Piala Champions (nama lama Liga Champions) pada tahun 1989 dan 1990.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada banyak analisis yang mengurai mengapa sulit sekali sebuah klub bisa menjuarai Liga Champions dua kali berturut-turut. Namun alasan yang paling masuk akal barangkali adalah makin panjangnya jalan menuju tangga jawara.
Pada tahun 1990, format Piala Champions adalah sistem gugur. Format ini bertahan hingga tahun 1991. Menuju tampuk juara, Milan hanya bermain sebanyak sembilan kali.
Bandingkan dengan format yang dipakai saat ini. Ambil contoh Milan yang menjadi juara tahun lalu. Berangkat dari babak kualifikasi ketiga, Rossoneri harus melewati 15 partai sebelum bisa mengangkat trofi kemenangan.
Jalan panjang dan berliku itulah yang mungkin jadi penyebab utama sulitnya mencari sebuah klub yang mampu jadi juara back to back. Selain itu, faktor makin meratanya kekuatan sepakbola Eropa (yang tak lagi didominasi satu negara saja) juga menjadi penyebab lainnya.
Meski tersingkir, Milan bisa jadi justru tengah berbangga. Rekor mereka dipastikan akan bertahan setidaknya hingga tahun 2009 mendatang. Dan siapapun yang akan menjuarai Liga Champions tahun ini, tentu tak akan mudah mengulangi prestasinya tahun depan.
Foto: Franco Baresi, kapten Milan, mengangkat trofi Piala Champions 1990 disaksikan oleh Presiden UEFA Lennart Johansson (UEFA)
(arp/key)











































