Terkadang Kekalahan itu Perlu

Terkadang Kekalahan itu Perlu

- Sepakbola
Jumat, 04 Okt 2013 10:20 WIB
Terkadang Kekalahan itu Perlu
Bayern Munich di final Liga Champions 2012 (AFP/Patrick Stollarz)
Jakarta - Apa yang membuat sebuah tim atau seseorang menjadi besar? Anda boleh tengok kanan-kiri dan mungkin akan menemukan banyak jawaban. Tapi, mungkin salah satu jawabannya adalah: kekalahan.

Ini memang pertanyaan yang menggelitik. Sekeras apapun Anda mencoba mencari jawabannya di dalam benak Anda, dan akhirnya ketemu, akan selalu muncul argumen kontra dengan sendirinya. Tapi, biarlah. Toh, setiap pertanyaan akan menemukan jawaban sesuai dengan konteksnya masing-masing. Bisa jadi tidak ada yang benar-benar benar, atau benar-benar salah.

Dan begitulah pertanyaan itu muncul, tepat ketika penulis menyaksikan Manchester City ditaklukkan 1-3 oleh Bayern Munich di kandang sendiri dua hari lalu. City bukanlah tim kecil, sementara Bayern adalah raksasa. Bahkan gelandang City, Fernandinho, menyebut pertemuan dengan Bayern adalah pertemuan spesial. Dia mengakui bahwa laga melawan Die Roten begitu prestisius mengingat mereka adalah juara Eropa musim kemarin. Status Bayern yang begitu besar telah membuat Fernandinho antusias menghadapi laga itu dengan sendirinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, sulit untuk menyebut City sebagai tim yang biasa-biasa saja karena penuhnya bintang di dalam skuat mereka dan mereka adalah juara liga dua musim silam. Ditambah gaya main mereka juga tidak jelek.

Tapi, rasa-rasanya agak salah juga menempatkan City berada dalam kelas yang sama dengan Bayern. Ketika Bayern menjalani sebuah musim yang luar biasa di liga dan Eropa, City mengakhiri musim tanpa gelar; kalah dari tim yang kemudian akan degradasi di sebuah kompetisi piala domestik atau jadi juru kunci pada fase grup Liga Champions.

Fakta jomplang tersebut membuat keterburu-buruan City untuk menjadi besar --dengan menjadi kaya mendadak dan membeli bintang-bintang mahal-- mendapatkan tantangan. Sebuah tim besar memang akan dinilai dari deretan trofi di lemari mereka, ini tidak bisa dipungkiri. Tapi masuk ke dalam kelas sebuah tim besar, lagi-lagi bisa jadi, bukan soal beli bintang-bintang besar atau merebut satu dua trofi karenanya.

Jika kelas menjadi sebuah tim besar tercipta hanya dengan menang, menang, dan menang melulu, entah apa namanya Liverpool dalam beberapa tahun belakangan. Beranikah Anda menyebut Liverpool tim gurem? Saya tidak. Dan alasannya bukan hanya sejarah panjang mereka baik di Inggris maupun di Eropa, melainkan ketahanan mereka menghadapi masa-masa yang boleh jadi tidak menyenangkan.

Liverpool harus menyaksikan pelan-pelan takhta mereka digerogoti oleh Manchester United dalam dua dekade terakhir. Namun, biar bagaimanapun, mereka tetap kembali dengan kepala tegak setiap musimnya, seraya menjaga keyakinan bahwa setiap musim baru yang datang adalah musim mereka.

Anda boleh mencemooh atas hasil buruk yang kerap didapat tim-tim besar ketika mereka berada dalam masa terendahnya. Tapi, mereka seringkali begitu; mengalami masa buruk, kemudian bangkit lagi setelahnya.

Faktanya, di tengah masa paceklik gelar juara liga selama puluhan tahun itu, Liverpool masih sempat-sempatnya menjuarai Piala UEFA dan Liga Champions. Tim lain seperti United juga pernah dihantam Newcastle United 0-5 pada musim 1996/97, tetapi jadi juara di akhir musim. Semusim setelahnya, mereka dikangkangi Arsenal dalam perebutan gelar juara liga, tetapi pada 1998/99 mereka sukses meraih treble.

Bayern juga demikian. Dua musim dibuat tidak berkutik oleh Borussia Dortmund, mereka akhirnya bangkit dan begitu perkasa ketika menjuarai liga, Piala Jerman, dan Liga Champions sekaligus musim lalu. Real Madrid? Mereka pernah dipermalukan oleh Barcelona, tapi masih sempat jadi juara di musim 2011/2012. Barcelona? Dipermalukan oleh Bayern di Liga Champions musim lalu dan sekarang tampak baik-baik saja. Arsenal? Delapan musim tidak juara apa-apa, tapi sekarang tengah menunjukkan tanda-tanda menanjak.

Sederet catatan di atas membuat penulis berpikir, bisa jadi besarnya kelas sebuah tim tidak melulu diukur dari sebuah trofi. Bisa jadi ada faktor lain, yakni seberapa tahan mereka melewati masa sulit. Tidak melulu hanya mengenal kemenangan, kemenangan, dan kemenangan. Bisa jadi ketahanan melewati berbagai masa buruk itulah yang kemudian melahirkan frase terkenal: Form is temporary, class is permanent.

Kadang-kadang kekalahan itu perlu, mungkin untuk sekadar mengajarkan apa yang tidak bisa diajarkan oleh kemenangan.

Kemenangan bisa jadi akan melenakan dan menagihkan. Bisa jadi, saking menagihkannya, para bos-bos besar di klub-klub seringkali tidak peduli pada yang namanya proses. Gagal berarti pecat. Buruk berarti membeli besar-besaran pada musim berikutnya. Dan seterusnya demikian.

Tidak ada yang salah dengan kemenangan. Tapi, seperti dituliskan oleh Guillem Balague dalam buku biografi Pep Guardiola, kemenangan demi kemenangan yang didapat hanya akan berarti satu: Anda semakin dekat kepada akhir. Ketika akhir itu tiba, mungkin tiba saatnya bagi Anda, seseorang, atau sebuah tim, untuk berhenti sejenak, berpikir, belajar, lalu bangkit lagi setelahnya.




Guardiola digambarkan oleh Balague sebagai orang yang lelah, habis, dan disedot semangatnya oleh berbagai kemenangan dalam empat tahun kariernya di Barcelona. Segala tuntutan akan kemenangan telah membuat rambutnya menjadi kelabu, lalu kemudian habis, dan akhirnya tidak bersisa sama sekali. Ketika pertama kali menjabat manajer Barcelona, Guardiola adalah pelatih muda berusia 37 tahun dengan antusiasme tinggi. Ketika dia pergi, dia tidak terlihat seperti orang yang baru berusia 41 tahun. Dia tampak lebih tua.

Oleh karena lelah tidak berbatas itu juga, Guardiola berusaha mencari jawaban. Pada bincang-bincang singkatnya dengan Sir Alex Ferguson, di pinggir danau Jenewa, Swiss, pada suatu waktu di akhir 2010, Guardiola sedikit menemukan jawaban bagaimana Sir Alex bisa bertahan begitu lama menjadi manajer. Dia kemudian berkontemplasi selama musim 2011/12 dan akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat. Musim itu, Barcelona gagal di liga dan juga Liga Champions.

Kekalahan, setidaknya, sudah mengajarkan Guardiola untuk berhenti sejenak dan meninggalkan segala apa yang sudah dia raih dalam empat tahun masa jabatannya di Barcelona. Ketika akhirnya dia kembali dari masa istirahat satu tahunnya, Guardiola terlihat kembali antusias. Dia lebih segar dan bisa bisa mengucapkan satu bahasa baru --bahasa Jerman-- dengan fasih.

Kalahlah hari ini, dan kembalilah lebih besar esok.


===

* Ditulis di sebuah tempat Tembalang, Semarang, 3 Oktober 2013
* Penulis adalah wartawan @detiksport. Akun twitter: @rossifinza


(roz/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads