Final Liga Champions: Cahaya Kota Madrid di Lisbon

Final Liga Champions: Cahaya Kota Madrid di Lisbon

- Sepakbola
Rabu, 21 Mei 2014 11:07 WIB
Final Liga Champions: Cahaya Kota Madrid di Lisbon
AFP/Jose Manuel Ribeiro
Jakarta -

Puncak gelaran kompetisi Eropa akan digelar di ibukota Portugal, Lisbon, akhir pekan ini. Siapapun pemenangnya, trofi itu dipastikan dibawa pulang ke ibukota Spanyol, Madrid.

Ya, pada Sabtu (24/5) mendatang, Estadio da Luz --artinya Stadion Cahaya--, akan disinari oleh orang-orang Madrid, karena dua klub kota tersebut, Real dan Atletico, yang menjadi kontestan final tersebut.

Bisa dibayangkan, mereka yang memilih ke Lisbon dengan pesawat, misalnya, akan berangkat sama-sama dari bandara yang sama, Adolfo Suarez-Madrid-Barajas airport.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu pula yang lewat jalur darat -- jarak Madrid-Lisbon sekitar 500 kilometer, kira-kira seperti Jakarta-Semarang. Sangatlah mungkin mereka akan menggunakan kereta api yang sama, saling berpapasan dan melintasi jalan yang sama bagi yang mengendari mobil atau bus.

Mereka akan berangkat bareng dengan semangat meluap-luap yang sama, tapi mungkin akan pulang bareng tidak dengan perasaan yang sama: yang satu lebih girang, satunya lagi lebih murung.

Faktanya, dalam sejarah kompetisi Liga Champions, baru kali ini pertandingan finalnya diisi oleh dua tim dari kota yang sama. Khusus bagi Spanyol, inilah kali kedua finalisnya dari Negeri Matador. All Spanish Final pertama terjadi di tahun 2000, ketika Real Madrid bertemu Valencia di Stade de Franc, Saint Denis, Prancis.

Soal motivasi, duo Madrid ini tentu dalam situasi "berbeda", walaupun misinya sama-sama menjadi pemenang. Bagi El Real, inilah kesempatan terbesar mereka untuk mewujudkan misi La Decima, yang sudah menjadi obsesi selama bertahun-tahun.

Sudah 11 tahun lamanya sejak terakhir kali Madrid tampil di final dan sekaligus memenangi kompetisi ini. Kemenangan 2-1 atas Bayer Leverkusen di Hampden Park, Glasgow, Skotlandia, pada 15 Mei 2002, bahkan sudah seperti "mimpi buruk" yang menggelisahkan, karena dia membayang namun tak pernah terwujud kembali.

Setiap manajer baru Madrid kemudian senantiasa diberi tugas khusus membawa timnya meraih gelar ke-10 di Eropa. Carlos Queiroz, Jose Antonio Camacho, Mariano Garcia Remon, Vanderlei Luxemburgo, Juan Ramon Lopez Caro, Fabio Capello, Bernd Schuster, Juande Ramos, Manuel Pellegrini, dan Jose Mourinho, semua tak mampu melakukannya. Barulah kini, orang Italia bernama Carlo Ancelotti yang bisa mencapainya. Itu pun belum sepenuhnya, karena ia harus melakoni satu pertandingan lain untuk memastikan, apakah obsesi La Decima itu bisa diwujudkan tahun ini, ataukah obsesi itu masih akan menjadi obsesi.

Itu sebabnya Madrid terlihat tidak terlalu menyesal gagal menjuarai La Liga. Mereka kehilangan angka-angka krusial justru di tiga pekan terakhir, ketika mereka sudah menggenggam tiket ke Lisbon. Tak ada penyesalan penuh sedu-sedan dari seluruh pemain maupun staf Estadio Santiago Bernabeu. Mereka seperti menyemangati diri sendiri dengan mengatakan, "kalau bisa mendulang emas, kenapa mesti menyesali perak yang didapat?"

Tentang Atletico, ini bukan semata-mata motivasi, tapi juga momentum. Jika kesempatan tak datang dua kali, inilah saatnya bagi mereka menjadi penguasa Eropa -- sesuatu yang tak pernah mereka rasakan. Hanya satu kali masuk final Piala Eropa di tahun 1974, itu pun mereka kalah telak 0-4 dari Bayern Munich.

Okelah, mereka pernah memenangi turnamen Eropa yang lain, yaitu Piala Winners (1962) dan Europa League (2010 & 2012). Tapi tentu saja, tiga piala itu tidak menjadikan mereka penguasa Eropa. Predikat The Best in Europe tentu saja ukurannya adalah trofi Liga Champions.

Yang menjadikan momentum itu akan lebih menggelegar adalah, Atletico baru saja menjuarai Liga Spanyol dengan spektakuler. Bisa dipastikan, dari 9 titel La Liga yang sebelumnya pernah mereka menangi, musim inilah yang paling istimewa. Tak ada yang lebih spektakuler selain memupus duopoli Madrid dan Barcelona, dan memastikan gelar juara dengan memenangi laga "final" di stadion terbesar di Eropa, Camp Nou, dengan meredam tuan rumah Barca yang kala itu masih berpeluang jadi juara. Gol Diego Godin di menit 49 membalas gol pembuka dari Alexis Sanchez di babak pertama, dan skor 1-1 itu sudah cukup untuk melambungkan Atletico ke tangga juara -- pertama kalinya dalam 18 tahun.

Jadi, walaupun final tahun ini cuma milik warga kota Madrid, tapi sesungguhnya duel Real Madrid kontra Atletico ini akan sarat dengan cerita-cerita epik. Ini adalah final Liga Champions. Ini adalah puncaknya kompetisi klub-klub Eropa.

Dan sementara itu, lampu-lampu di Estadio da Luz akan dinyalakan tiga hari mendatang, memadukan sinarnya dengan cahaya yang keluar dari setiap raga warga Madrid.





(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads