Sedari awal ditunjuk menangani Manchester United, Louis van Gaal selalu berbicara soal proses. Proses untuk membangun ulang sebuah tim yang disebutnya tidak akan berjalan dalam waktu singkat.
Andai United adalah tim yang berkutat dan bermain di Italia, bisa jadi posisi Van Gaal kini sudah dipertanyakan. Tidak peduli apakah dirinya memberikan kemenangan di seluruh laga pramusim atau tidak. Di Italia, hasil adalah segalanya.
Dengan konsep "hasil adalah segalanya" itu, bisa jadi manajer-manajer seperti Arsene Wenger yang sempat puasa gelar bertahun-tahun bakal sulit bertahan. Oleh karena konsep yang sama pula, Gianluca Vialli menyebut bahwa David Moyes bisa jadi sudah dipecat tujuh kali kalau menukangi tim Serie A. Musim lalu, Moyes tetap dipertahankan sampai menjelang akhir musim kendati dia tidak memberikan hasil maksimal untuk United.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Datangnya Moyes menggantikan Sir Alex Ferguson yang pensiun diharapkan bisa memperbaiki hal tersebut. Moyes, meski tidak menerapkan sepakbola ofensif nan indah di Everton, mampu membuat tim tersebut bertahan dengan alot dan mampu melakukan pressing terhadap lawan. City saja kesulitan menghadapi Everton milik Moyes.
Tapi, Moyes terbukti tidak cukup mampu untuk memugar United. Ketika dia menerapkan defensive line tinggi pada pramusim di Asia, tak ada satu pun bek yang mampu bermain dengan sistem tersebut. Imbasnya, United gampang diterobos dengan umpan-umpan terobosan. Moyes lantas seakan menyerah dan bermain dengan sistem yang menyesuaikan kemampuan pemainnya. Ini kemudian masih ditambah dengan taktik monoton darinya. Akhirnya, tidak ada kemajuan apa-apa dari United.
Van Gaal, di sisi lain, berbeda. Dia bersikukuh bahwa meskipun hasilnya tidak memuaskan, penyakit-penyakit dalam tubuh United hanya bisa dihapuskan lewat bermain dengan filosofi baru. Tidak peduli pemain langsung memahaminya atau tidak, dia akan mencekoki filosofinya sampai mereka paham dan mengerti. Pemain pun jadi dipaksa untuk belajar.
Singkat kata, pemain-pemain United dipaksa untuk keluar dari zona nyamannya. Selama ini, mereka termanjakan dengan kecocokan mereka dengan Sir Alex. Ketika Sir Alex pergi, tidak ada lagi yang bisa menjaga mereka.
"Saya harus melakukannya. Karena saya ada di sini untuk membangun sebuah tim baru dan sebuah tim baru tidak bisa dibangun dalam satu bulan," ujar Van Gaal di Telegraph.
Lalu, kalau bukan satu bulan, berapa lama? Jawabannya bisa bervariasi.
Ambil contoh Antonio Conte. Kendati terlihat memberikan sukses secara instan untuk Juventus, pada kenyataannya Conte membangun skuatnya secara bertahap. Pada musim perdananya, dia membenahi lini tengah dan lini belakang dengan mendatangkan Andrea Pirlo, Arturo Vidal, Stephan Lichsteiner, dan Martin Caceres.
Merasa lini belakang sudah aman, musim berikutnya dia memugar dan memperkuat lini tengah dengan mendatangkan Paul Pogba dan Kwadwo Asamoah. Musim berikutnya lagi, merasa kurang puas dengan lini depan, dia mendatangkan Carlos Tevez dan Fernando Llorente.
Conte melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh banyak tim besar: Terus memugar tim secara berkala ketika masih berada di atas. Sebab, akan lebih sulit memugar dan memperbaiki tim ketika sedang berada dalam kondisi menurun. Tidak hanya itu, Conte juga membeli pemain yang benar-benar cocok dengan skemanya. Jadilah dalam waktu tiga musim, dia memberikan tiga gelar juara Serie A untuk Bianconeri.
Conte kemudian merasa mentok. Dari banyak kabar yang beredar, pelatih berusia 45 tahun tersebut terus menuntut tim untuk memugar skuat demi ambisi bersaing di kancah Eropa. Sayang, ini tidak bisa dilakukan klub dan Conte pun memilih untuk pergi.

Lihat juga bagaimana Pep Guardiola membangun ulang Barcelona. Ide Pep jelas, yakni mengembalikan Barca ke filosofi aslinya. Oleh karenanya, untuk bisa melakukan itu, pemain-pemain yang ada di dalam skuatnya haruslah yang benar-benar kental dengan gaya Barcelona. Lalu, dipromosikanlah Sergio Busquets dan Pedro Rodriguez secara berkala, dipulangkanlah kembali Gerard Pique, dan dimainkanlah Lionel Messi sesuai fungsi terbaiknya.
Pep juga membongkar skuat dengan menjual pemain-pemain senior semisal Gianluca Zambrotta, Ronaldinho, dan Deco, plus beberapa pemain lain yang tidak masuk skema. Hasilnya? Pep langsung sukses di musim perdananya menjadi manajer Barca.
Maka, melihat apa yang dilakukan oleh Conte dan Pep, benarlah bahwa Van Gaal butuh lebih dari sebulan --atau bahkan satu tahun-- untuk memperbaiki United.
United adalah tim yang sudah cukup lama tidak dipugar. Ketika menjual Cristiano Ronaldo ke Real Madrid pada 2009, mereka tidak membeli pengganti yang sama kualitasnya. Begitu juga dengan musim-musim berikutnya. Mereka terlalu nyaman berada di atas sehingga lupa memperbaiki tim dari musim ke musim. Hanya Robin van Persie dan Shinji Kagawa yang bisa dianggap sebagai pemain prominent yang datang selepas perginya Ronaldo.
United cukup bergantung pada kemampuan Sir Alex memotivasi pemain dengan kualitas skuat yang biasa-biasa saja. Ketika terakhir menjadi juara pada 2013, gagalnya City dan inkonsistennya Chelsea menjadi faktor lain yang memuluskan mereka menuju gelar juara. Ketika tim-tim rival akhirnya memperbaiki dan memugar diri, United akhirnya tertinggal dan menurun dengan sendirinya.
"Ketika saya yang sudah berusia 38 tahun saja masih bermain, itu sudah menunjukkan ada sesuatu yang salah," ujar eks gelandang United, Paul Scholes, baru-baru ini.
Kesuksesan Pep dan Conte sedikit (atau banyak) ditentukan dengan pembelian pemain yang sesuai dengan skema keinginan mereka. Untuk itulah eks pemain United lainnya, Gary Neville, menyebut bahwa United butuh pemain yang benar-benar sesuai dan pas dengan skema keinginan Van Gaal.
Van Gaal sendiri mengklaim, Marcos Rojo dan Angel Di Maria adalah dua pemain yang benar-benar dia inginkan. Andai Rojo dan Di Maria belum cukup untuk memuaskan filosofi dan skemanya, bisa jadi usaha Van Gaal untuk memperbaiki United lebih panjang dari satu tahun.
Laga melawan MK Dons, Rabu (27/8/2014) dinihari WIB, adalah bukti bahwa sejumlah pemain senior United kerap tampil di bawah form ketika dibutuhkan. Jonny Evans salah melakukan passing satu kali dan dikadali penyerang lawan habis-habisan satu kali. Sementara Danny Welbeck dan Javier Hernandez total hanya membuat 2 attempts on target sepanjang laga. Penyerang muda United, James Wilson, saja bisa membuat 3 attempts on target dalam 30 menit waktu bermainnya.
====
*penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza
(roz/a2s)










































