"Orang itu pasti sudah offside sejak lahir," ujar Sir Alex Ferguson mengenai Filippo Inzaghi pada suatu waktu. Tidak apa-apa, dengan berada di posisi offside artinya Inzaghi berada lebih dekat dengan gawang.
Saya menerjemahkan ucapan Ferguson itu sebagai campur aduk dari bentuk kekagumannya, keheranannya, dan kekesalannya melihat gaya main pria yang kerap dipanggil Pippo itu. Tubuhnya tidak terlihat kekar, malah cenderung cungkring, teknik memainkan bolanya juga tidak ciamik, tapi jumlah golnya banyak.
Bukankah seorang penyerang amat sangat sering dinilai dari jumlah golnya? Jadi, sebodo amat dengan teknik dan atribut-atribut lainnya soal fisiknya. Pippo benar-benar mengglorifikasi frase "The Right Man in The Right Place"; Selalu ada di posisi yang tepat untuk menyosor bola masuk ke dalam gawang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Diego Maradona "meminta maaf", setelah mencetak gol "Tangan Tuhan", dengan cara mencetak gol indah melewati lima pemain Inggris, Pippo "meminta maaf" gol tidak sengaja itu dengan mengecoh Reina terang-terangan dalam situasi satu lawan satu. Setelah mengecoh Reina, dia lantas menceploskan bola ke dalam gawang. Milan menang 2-1 pada malam di Athena itu dan Pippo jadi pahlawannya.
Pada zaman sekarang, setidaknya ada dua pemain yang mirip-mirip dengan Pippo. Yang pertama adalah Thomas Mueller, yang kedua adalah Javier Hernandez. Mueller adalah "Raumdeuter" alias "Si Penafsir Ruang". Dalam hal timing dan mencari posisi, dia sama seperti Pippo juga selalu berada di posisi tepat untuk melesakkan bola ke dalam gawang. Sementara, Hernandez --yang juga sering terperangkap offside-- adalah poacher sejati dengan kemampuan finishing ciamik.
Baik Pippo, Mueller maupun Hernandez punya atribut tepat untuk menjadi seorang penyelesai jitu di depan gawang. Pippo, kendati dianggap tidak punya teknik bagus dalam mengolah bola, punya kecepatan dan sense penempatan posisi yang bagus. Tanpa kecepatan dan sense of positioning yang bagus, mustahil dia menjadi "The Right Man in The Right Place". Demikian pula dengan Mueller dan Hernandez.
Pertanyaannya sekarang, apakah Pippo juga merupakan "The Right Man in The Right Place" pula ketika menjadi pelatih AC Milan seperti saat ini?
Setidaknya, Milan memang sudah menunjukkan sifat ke-Pippo-Pippo-an: amat oportunis. Pemain yang bisa dibeli dengan murah, ya dibelilah dengan murah. Kalau memang bisa dipinjam, ya dipinjam saja, mengapa harus dibeli?
Maka, jadilah Fernando Torres digaet dengan status pinjaman selama dua musim. Sementara, Jeremy Menez didapat dengan gratis. Total, ada 18 pemain dalam skuat saat ini didapat Milan dengan status pinjaman ataupun gratis.
Toh, kendati irit, skuat Milan juga tidak bisa dibilang jelek. Di pos penjaga gawang, mereka punya Diego Lopez, di belakang mereka punya Cristian Zapata dan Mattia De Sciglio, sementara sisanya ada Keisuke Honda, Riccardo Montolivo, Nigel De Jong, hingga Marco van Ginkel dan Torres.
Prinsip dengan modal sekecil mungkin, tapi meraih hasil sebesar mungkin diusung. Skuat mereka bolehlah tidak sementereng Juventus ataupun AS Roma, tapi untuk soal kualitas, adalah setitik asa menjanjikan. Tinggal Pippo saja meramunya bagaimana.
Sebagai pelatih, Pippo menerapkan formasi 4-3-3 pada Rossoneri. Namun, Pippo menunjukkan bahwa dia bukanlah tipe pelatih kaku yang hanya saklek pada satu gaya. Jika pada giornata pertama, ketika menghadapi Lazio, ini dia menerapkan strategi serangan balik, pada giornata kedua dia meminta timnya untuk bermain menguasai bola. Hasilnya, Milan sukses meraih dua kemenangan.
Laga melawan Parma di giornata kedua, Milan meraihnya dengan cara yang mendebar-debarkan. Sudah bermain dengan 10 orang akibat Daniele Bonera dikartu merah pada menit ke-58, Milan akhirnya menang dengan skor 5-4(!). Bagaimana Pippo mengadaptasi gerak permainan dan mengubah formasi ketika timnya harus bermain dengan 10 orang juga layak disimak.
Dia jadi memasang empat orang di lini tengah, sementara Menez, yang punya kecepatan, dibiarkan jadi penyerang tunggal di depan. Hasilnya, Menez jadi salah satu penampil terbaik Milan dalam laga tersebut. Dua gol berhasil dia sarangkan, di mana salah satunya diciptakan dengan cara menendang lewat tumit.
Pippo seakan-akan menerapkan apa yang sudah biasa dia lakukan semasa jadi bermain, yakni beradaptasi pada ruang dan juga situasi. Yang terpenting, hasil yang diraih nantinya bisa bikin tersenyum.
Untuk ukuran seorang yang baru menjalani musim pertamanya sebagai pelatih tim senior, Pippo boleh diacungi jempol. Kini, menarik untuk dinantikan bagaimana dia meracik tim menghadapi tim yang lebih hebat. Pada giornata berikutnya, Milan akan menghadapi tim yang dulu juga pernah membesarkan nama Pippo, yakni Juventus.
Pippo masihlah Pippo. Jika jadi pemain dulu, dia tidak terlihat meyakinkan dengan teknik yang tidak terlalu mewah dan fisik yang tidak oke, sebagai pelatih pun tampangnya terlihat kelewat santai. Tapi, bukankah tampak luar juga bisa menipu?
Untuk menutup tulisan ini, ada baiknya juga melihat pandangan pesohor sepakbola lainnya akan Pippo. Kali ini dari seorang legenda Belanda bernama Johan Cruyff.
"Begini, sebenarnya dia tidak bisa bermain sepakbola. Hanya saja, dia selalu berada di posisi yang tepat."
====
*penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza
(roz/a2s)











































