Louis van Gaal dan Jose Mourinho adalah dua sosok yang amat mirip, tetapi juga amat kontras. Dari soal kemiripan, Van Gaal dan Mourinho sama-sama sosok yang punya ego besar dan terkadang arogan.
Ada satu ucapan terkenal yang pernah diucapkan Van Gaal di hadapan media: "Amigos de la prensa. Yo me voy. Felicidades." Ucapan tersebut bukanlah ucapan yang menyenangkan karena kalau diterjemahkan artinya adalah "Friends of the press. I am leaving. Congratulations." atau kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi "Kawan-kawan pers semua, saya pergi. Selamat."
Selamat di akhir ucapan tersebut ditujukan untuk pers Spanyol dan jelas merupakan sebuah bentuk sarkasme. Van Gaal memang punya sejarah yang tidak menyenangkan dengan media Spanyol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini membuat Van Gaal seolah-olah punya realitanya sendiri. Ketika para wartawan menilai bahwa tim yang diasuhnya bermain buruk --dan oleh karenanya meraih hasil yang buruk juga--, Van Gaal bisa saja berpendapat lain. Dia bisa saja menilai timnya sudah mengikuti instruksinya dengan benar dan oleh karenanya hasil buruk yang diterima hanyalah kesialan saja. Jika ada wartawan yang berani menanyakan mengapa timnya bermain dengan buruk, jangan salah jika si wartawan akan disambut dengan senyum sinis.
Mourinho, di sisi lain, memang jarang terlibat adu argumen dengan media. Tapi, ucapan pedas Mourinho ke para lawannya sudah lama jadi bahan santapan media. Dia tidak segan-segan mengomentari orang atau menyentil lawannya di ruang konferensi pers, sampai-sampai Pep Guardiola --yang terpancing salah satu psy war Mourinho-- menyebut ruang konferensi pers adalah areanya Mourinho dan dia tidak bisa menang di dalamnya.
Kesamaan antara Van Gaal dan Mourinho makin terlihat pada waktu-waktu terakhir mereka di Spanyol. Jika Van Gaal menggunakan ucapan bernada sarkastik di atas sebelum meninggalkan Barcelona, Mourinho juga punya ucapan yang cukup sinis sebelum meninggalkan Madrid.
"I am loved by the fans and the media [in England] who treat me in a fair way. I know in Spain it is different because many people hate me."
Van Gaal pergi dari Barca bukan hanya karena punya hubungan buruk dengan media, tetapi juga dengan sejumlah bintang di Barca. Demikian pula Mourinho. Dia tidak hanya punya hubungan buruk dengan media, tetapi juga disinyalir punya hubungan buruk dengan beberapa bintang Madrid.
===
Dari mana asal sikap arogan dan semau gue Van Gaal dan Mourinho bisa ditilik jauh ke belakang. Van Gaal pernah sukses menangani Ajax Amsterdam pada pertengahan 1990-an. Dengan mayoritas pemain-pemain muda, Van Gaal membawa Ajax menjuarai Liga Belanda pada 1994, 1995, dan 1996. Prestasi terbesarnya adalah pada 1995 ketika mengantarkan Ajax menjuarai Liga Champions.
Van Gaal menunjukkan bahwa dengan memainkan pemain-pemain muda, dia bisa membawa timnya mengalahkan tim lain yang berisi pemain-pemain yang lebih senior. Dalam pandangannya, seorang pemain berusia 16 tahun bisa bermain lebih baik ketimbang pemain yang berusia 30 tahun, semua tergantung sifat dan sikap si pemain.
"Anda harus tahu bahwa saya tidak selalu percaya pada pengalaman dari seorang pemain. Memang, penting bagi sebuah klub untuk memiliki pemain berpengalaman. Tapi, itu tidak selalu berhubungan dengan usia dan tidak melulu berhubungan dengan sepakbola, yang terpenting adalah pengalaman sebagai seorang manusia secara keseluruhan," ujar Van Gaal.

Untuk dasar itulah dia memberikan debut kepada Clarence Seedorf di Ajax ketika gelandang berambut gimbal itu baru berusia 16 tahun.
Dengan filosofinya tersebut, Van Gaal meraih berbagai kesuksesan, tidak hanya di Belanda, tetapi juga di Spanyol, di mana dia membawa Barcelona menjuarai La Liga untuk dua musim berurutan --pada 1998 dan 1999. Kesuksesan tersebut pun jadi justifikasi dari filosofi yang dipegang teguh Van Gaal dan seolah-olah jadi justifikasi atas arogansi dan ego-nya. Van Gaal seakan-akan berkata, "Lihat, kan? Filosofi saya bisa mendatangkan kesuksesan, kan? Jadi, apa yang salah?"
Mourinho juga tidak berbeda. Dengan status pelatih yang pernah menjuarai Piala UEFA dan Liga Champions dalam dua tahun berurutan (2003 dan 2004), Mourinho datang ke Inggris untuk menangani Chelsea. Dengan status tersebut, sah-sah saja jika kemudian dia bertepuk bangga dan melabeli dirinya sebagai "The Special One".
Arogansi dan ego memang tidak selamanya positif. Tapi, di tangan keduanya, tidak ada yang berani mempertanyakan. Sebabnya --ya, itu tadi--, Van Gaal dan Mourinho sudah bisa membuktikan bahwa mereka bisa berhasil dengan cara yang mereka pegang teguh.
===
Kendati sama-sama punya ego besar dan cenderung arogan, sesungguhnya Van Gaal dan Mourinho tidak punya akar yang sama. Mereka hanya pernah dipertemukan nasib di satu klub yang sama: Barcelona.
Van Gaal datang sebagai pelatih anyar pada musim 1997/1998, sementara Mourinho sudah jadi bagian staf kepelatihan Barca setelah sebelumnya menjadi asisten dari Bobby Robson. Kepintaran dan kecerdasan Mourinho membuat Van Gaal tertarik dan akhirnya mengangkat Mourinho jadi asisten pelatih pada musim berikutnya.
Musim-musim awal Van Gaal bersama Barca disebut kolomnis terkenal Jonathan Wilson berkontribusi dalam pembentukan Mourinho --dan beberapa pemain serta staf pelatih lainnya di Barca ketika itu-- untuk menjadi manajer di kemudian hari. Selain Mourinho, di Barca ketika itu ada Ronald Koeman (ketika itu jadi asisten Van Gaal dan kini jadi manajer Southampton), dan beberapa pemain seperti Frank de Boer (kini melatih Ajax), Pep Guardiola (melatih Bayern Munich), Luis Enrique (melatih Barcelona), dan Philip Cocu (melatih PSV Eindhoven).
Bedanya, Van Gaal dan Mourinho tidak memegang filosofi yang sama. Cara pandang mereka dalam melihat sebuah permainan begitu berbeda. Van Gaal diuntungkan oleh kedekatan kultur permainan antara Ajax dan Barcelona; sepakbola yang didasari 4-3-3, bermain menyerang dan mengibur, membangun permainan berdasarkan penguasaan bola.

Mourinho berbeda. Meski pembentukan pola pikirnya dalam melatih mulai terbentuk di Barcelona, pria asal Portugal itu tidak memiliki akar Ajax ataupun Barca. Berbeda dengan Koeman, De Boer, Guardiola, dan Enrique, dia adalah "orang luar", dan Van Gaal sudah bisa melihat bahwa Mourinho akan memiliki jalan yang berbeda dengannya sejak lama.
"Dia lebih percaya pada lini pertahanan ketimbang lini serang," ujar Van Gaal.
"Filosofi saya dari dulu --karena saya percaya kita harus memberikan suguhan menghibur-- adalah bermain menyerang. Filosofinya adalah yang penting menang! Di situlah bedanya."
Kendati bertentangan secara filosofi, Van Gaal tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap Mourinho. Pada Mourinho, dia melihat seorang pelatih muda yang penuh kepercayaan diri dan tidak terlalu mempedulikan aturan-aturan baku. Van Gaal mengakui, dia menyukai sifat Mourinho yang satu itu. Dari situlah Van Gaal mulai memberikan kesempatan Mourinho untuk menangani tim cadangan Barcelona.
"Dia bukan tipe penurut. Dia selalu menentang saya, ketika dia berpikir bahwa saya salah. Pada akhirnya, saya lebih ingin mendengar pendapatnya ketimbang mendengar pendapat asisten-asisten saya yang lainnya," kata Van Gaal.
Akhir pekan ini, Minggu (26/10/2014), kedua sosok arogan tersebut akan bertemu di Old Trafford kala Manchester United menjamu Chelsea. Tentu, ini jadi menarik mengingat United dan Chelsea jadi pengejawantahan dari filosofi masing-masing pelatih. Filosofi siapakah yang pada akhirnya unggul?

====
*penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza
(roz/a2s)











































