Kisah 'si Anak Emas' dan Peraih Medali Olimpiade

Lucas Aditya - Sepakbola
Kamis, 05 Agu 2021 12:55 WIB
CHOFU, JAPAN - AUGUST 02: Gold medalists Greysia Polii and Apriyani Rahayu of Team Indonesia pose for photo on the badminton court on day ten of the Tokyo 2020 Olympic Games at Musashino Forest Sport Plaza on August 02, 2021 in Chofu, Tokyo, Japan. (Photo by Richard Heathcote/Getty Images)
Greysia Polii/Apriyani Rahayu menyumbang emas di Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Getty Images/Richard Heathcote)
Jakarta -

Olimpiade Tokyo 2020 membuat perhatian publik Indonesia untuk olahraga membuncah lagi. Netizen menuntut agar lebih ada perhatian khusus ke cabang olahraga peraih medali, atensi ke 'Si Anak Emas' --sepakbola-- diminta dikurangi. Apa bisa begitu?

Kontingen Indonesia membawa pulang 5 medali dari Tokyo. Bulutangkis mempersembahkan 1 emas dan 1 perunggu, angkat besi meraih 1 perak dan 2 perunggu.

Pasangan Grysia Polii-Apriyani Rahayu meraih emas dari cabor bulutangkis Olimpiade Tokyo 2020 nomor ganda putri. Medali perak dipersembahkan oleh cabor angkat besi kelas 61 kilogram atas nama Eko Yuli Irawan.

Sedangkan perunggu dibawa pulang oleh Windy Cantika Aisah (angkat besi kelas 49 kg putri), Rahmat Erwin Abdullah (angkat besi kelas 73 kg putra), dan Anthony Sinisuka Ginting (tunggal putra bulutangkis).

Raihan itu membuat cabang olahraga yang meraih medali di Olimpiade buat Indonesia tidak berubah. Sepanjang sejarah keikutsertaan kontingen Merah Putih di Olimpiade baru ada tiga cabang olahraga yang meraih medali. Bulutangkis, angkat besi, dan panahan deretannya.

Setiap kali warga dan netizen bersorak atas penampilan serta capaian medali atlet bulutangkis, angkat besi, serta penampilan pepanah dan petembak yang manggung dengan jersey berlambang Garuda. Di antara dukungan itu, mereka menuntut perhatian ekstra buat cabor itu dari pemerintah yang selama ini seolah-olah menganakemaskan sepakbola.

Ya, alih-alih mampu bersaing di Olimpiade, sepakbola bahkan kesulitan saat pentas di Asian Games 2018, di kandang sendiri. Belakangan, olahraga yang amat diminati di Indonesia ini susah bersaing bahkan di level Asia Tenggara.

*****

Sepakbola Anak Emas?

Sepakbola merupakan olahraga paling populer di Indonesia. Itu fakta dan tidak bisa dimungkiri. Secara kasat mata, tengok saja kalau tim Liga 1 bertanding sebelum pandemi COVID-19. Tribune stadion pasti penuh, live streaming dan siaran langsung televisi panen rating.

Pesaing berat sepakbola ya cuma bulutangkis. Istora Senayan selalu penuh saat gelaran Indonesia Open atau kejuaraan tepok bulu itu. Di level apapun, 17-an, tarkam, sampai ajang internasional.

Tapi, apakah sepakbola mendapatkan perhatian, dalam hal ini dana, lebih besar ketimbang cabang olahraga lain dari pemerintah?

Mari kita cari tahu.

Sekarang pemerintah tidak ambil bagian untuk pendanaan operasional organisasi cabang olahraga. Pemerintah cuma mendanai pelaksanaan pelatnas, termasuk gaji atlet dan pelatih serta biaya try out dan kejuaraan. Nominalnya, mengacu kepada proposal yang diajukan masing-masing cabang olahraga. Biasanya sih yang diterima cabor jauh dari nilai dalam proposal.

Timnas Indonesia bertanding di Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia di Dubai, Uni Emirat Arab.Perhatian ke Timnas Indonesia dinilai paling banyak. Foto: Antara Foto/Humas PSSI/handout/APP

Gaji atlet juga disesuaikan dengan beberapa kriteria. Yang utamanya berpatokan kepada capaian si atlet di event tahun lalu, kemudian level si atlet di pelatnas yang juga ditentukan lewat kejuaraan bisa kompetitif atau internal, tarung sesama anggota pelatnas, bisa juga penilaian pelatih.

Dengan begitu susah buat sepakbola dapat dana lebih besar ketimbang cabor lain. Sebab, prestasi tahun sebelumnya enggak bagus-bagus amat. Dengan skema ini, sepakbola sebagai anak emas terbantahkan.

Ayo simak lagi.

Soal penilaian sepakbola sebagai anak emas bisa jadi kebijakan masa lalu yang masih melekat dalam ingatan netizen. Bisa jadi mereka mengacu pada era saat APBD saat masih bisa digunakan untuk mendanai klub-klub sepakbola profesional. Karena rawan dibonceng kepentingan politik, kini APBD dilarang digunakan untuk klub profesional.

Atau kebijakan yang belum lama, mengacu munculnya Inpres No 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Sepakbola Nasional. Inpres itu dibuat setelah prestasi Timnas yang cuma ada di 16 besar Asian Games 2018, jauh dari target semifinal yang dipatok.

Atau bisa jadi penilaian sepakbola sebagai anak emas dikaitkan dengan pelatih-pelatih mentereng yang direkrut PSSI. Dua pelatih paling akhir, Luis Milla dan Shin Tae-yong. Gaji mereka luar biasa besar.

Nominal gaji Luis Milla setinggi langit. Sampai-sampai dia menjadi pelatih timnas dengan gaji tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Nominal gajinya bocor setelah PSSI menunggak gaji pelatih asal Spanyol itu. Setiap bulan PSSI, ya PSSI, bukan pemerintah, mengupah Milla lebih dari Rp 2 miliar, belum termasuk sewa rumah di Bali.

Kemudian Shin Tae-yong, pelatih yang punya pengalaman memoles tim di Piala Dunia, yang diberi tanggung jawab untuk menangani Timnas. Pelatih asal Korea Selatan itu yang dipasrahi menjadi penyelia Timnas di semua kelompok umur itu itu digaji sekitar Rp 14 miliar setahun. Ini juga tanggungan PSSI, kok.

Bisa jadi juga penilaian anak emas buat sepakbola itu terkait pelaksanaan pemusatan latihan dan TC Timnas U-20 di luar negeri selama dua kali, Korsel dan Kroasia pada 2020. Tercatat dana TC untuk tim Merah-Putih sampai Rp 50,6 miliar.

Menganalogikan Asian Games, dengan Indonesia juga menjadi tuan rumah, atau gelaran apapun, pemerintah memberikan perhatian ekstra. Termasuk saat Indonesia menjadi tuan rumah Piala Thomas Uber 2008, juga MotoGP Mandalika tahun depan. So, kalau ada anggaran ekstra buat Timnas U-20 saat Indonesia akan menjadi tuan rumah boleh dibilang itu lumrah.

Dalam prosesnya pun, karena Indonesia belum terealisiasi menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak mengizinkan penggunaan APBN lagi. Uang yang sudah terlanjur digunakan dimintai pertanggungjawaban sedetail mungkin.

Belum lagi bicara tentang pembinaan dan pembibitan. Bukan cuma cabang olahraga olimpiade yang tidak diperhatikan, sepakbola ya sama-sama susah. Orang tua patungan untuk menghidupkan kompetisi kelompok umur bukan cerita aneh.

Bisa jadi, sepakbola dianggap jadi anak emas karena pejabat, politisi, pengusaha, juga public figure mau menceburkan dirinya di industri olahraga si kulit bundar.

Aburizal Bakrie, Prabowo Subiyanto, hingga Anies Baswedan menjadi deretan politisi yang pernah 'numpang' eksis di sepakbola. Saya rasa masih ada banyak lagi contoh lain.

"(Sepakbola) tidak dianakemaskan. Tapi, sepakbola memang olahraga yang paling populer. Satu-satunya olahraga yang ada Inpres-nya sepakbola. Tapi, bukan berarti anak emas," kata Sekretaris Menpora, Gatot S. Dewa Broto, dalam perbincangan dengan detikSport, Rabu (4/8/2021) malam WIB, lewat sambungan telepon.

"Buktinya, untuk perizinan liga sangat ketat. Bukti lain minta anggaran kami juga sangat ketat."

"Tempo hari dana cukup besar itu karena perlukan untuk Piala Dunia yang Indonesia menjadi tuan rumah. Kalau dianakemaskan sebagian besar anggaran untuk sepakbola," kata dia menambahkan.

*******