Para Peracik Bola Mati

Putra Rusdi K - Sepakbola
Kamis, 30 Sep 2021 12:00 WIB
BOLOGNA, ITALY - AUGUST 22: Riccardo Orsolini of Bologna FC kicks a free kick towards the goal during the Serie A match between Bologna FC v US Salernitana at Stadio Renato DallAra on August 22, 2021 in Bologna, Italy. (Photo by Mario Carlini / Iguana Press/Getty Images)
Cerita soal para pelatih set-piece yang kini tengah tren di liga-liga Eropa (Foto: Getty Images/Mario Carlini / Iguana Press)
Jakarta -

Pelatih set-piece menjadi tren baru di klub-klub Eropa. Bola mati tak lagi dipandang sebelah mata karena bisa jadi pembeda dari sebuah laga.

Aston Villa menumbangkan Manchester United 1-0 di Old Trafford pada laga pekan keenam Liga Inggris, Sabtu (25/9/2021) malam WIB. Gol tunggal The Villains lahir dari sundulan Kortney Hause menyambut sepak pojok di menit ke-88. Setan Merah sebenarnya punya peluang untuk menyamakan kedudukan di menit akhir laga usai mendapatkan hadiah penalti. Namun, sepakan 12 pas Bruno Fernandes melambung tinggi dari gawang Emiliano Martinez.

Saat gol Hause terjadi ada sosok "nyentrik" di bench tim tamu yang begitu gembira merayakan gol ini bersama manajer Villa Dean Smith. Pria yang berambut gondrong dan memakai celana pendek tersebut memeluk erat Smith dan bersuka cita merayakan gol Hause.

Sosok "nyentrik" tersebut adalah Austin MacPhee yang merupakan pelatih set-piece Villa. Ia layak begitu gembira karena rencana yang disusunnya berbuah gol kemenangan untuk tim asal Kota Birmingham ini.

Beberapa pendukung Villa di media sosial mulai menganggap MacPhee sebagai rekrutan terbaik tim kesayangan mereka musim ini usai laga kontra MU. MacPhee memang baru didatangkan Villa musim panas ini usai sebelumnya bekerja di timnas Meksiko dan Irlandia Utara.

Kehadirannya membuat Villa menjadi lebih berbahaya dalam bola mati. Tak hanya dari sepak pojok atau tendangan bebas, lemparan ke dalam juga menjadi senjata Villa mencetak gol. Hal tersebut terbukti saat Danny Ings mencetak gol akrobatik memanfaatkan lemparan ke dalam Matthew Cash saat Villa menang 2-0 atas Newcastle United pada laga pekan kedua Liga Inggris tersebut. Smith usai laga tersebut menegaskan bahwa gol ini sudah dirancang MacPhee saat latihan.

Aston Villa's head coach Dean Smith, center, reacts during the English Premier League soccer match between Manchester United and Aston Villa at the Old Trafford stadium in Manchester, England, Saturday, Sept 25, 2021. (AP Photo/Jon Super)Austin MacPhee kala mendampingin Dean Smith di laga kontra Manchester United. (AP Photo/Jon Super) Foto: AP/Jon Super

Smith tahu betul sosok MacPhee bakal memberikan dampak baik untuk Villa sejak awal kedatangannya ke Villa Park. Ia menepis cibiran bahwa mendatangkan pelatih spesialis bola mati tak akan banyak berpengaruh terhadap performa tim.

"Orang-orang mempertanyakan membawa pelatih spesialis, tetapi mereka menganalisis segala sesuatu yang berkaitan dengan lawan dan tim Anda sendiri. Mereka menambahkan data dan Anda tidak akan tahu di mana mencari itu," ujar Smith dikutip Dailymail.

"Anda harus melakukan hal-hal dasar terlebih dahulu. Akan ada sedikit keuntungan kecil yang bisa Anda dapat. Jika, kami meningkatkan bola mati kami hanya tiga persen, itu bisa membawa kami berada di delapan besar musim lalu. Itu akan menambah nilai klub. Naik tiga atau empat posisi bernilai jutaan," jelasnya.

Bukan hanya Smith dan Villa yang sadar akan pentingnya sosok pelatih set-piece, klub-klub lain di Liga Inggris kini juga sangat paham hal ini. Manchester United musim ini merekrut Eric Ramsay sebagai pelatih set-piece pertama mereka sepanjang sejarah klub. Sementara, Arsenal mendatangkan Nicolas Jover musim ini untuk menggantikan pelatih set-piece mereka Andreas Georgson yang pindah ke Malmo. Jover pada musim sebelumnya menjadi pelatih set-piece dari Manchester City.

Pada level timnas pelatih set-piece juga punya peran penting. Gianni Vio dan Mads Buttgereit membuktikannya di Piala Eropa 2020. Vio membantu Italia juara, sedangkan Buttgereit turut mengantarkan Denmark bikin kejutan hingga ke semifinal. Selepas Euro, Buttgereit kini menjadi pelatih set-piece timnas Jerman.

Bagaimana Para Peracik Bola Mati Bekerja?

Tujuan utama klub merekrut pelatih set-piece jelas adalah untuk membuat tim mereka bisa mencetak banyak gol dari bola mati dan sedikit kebobolan dari bola mati lawan. Maka tak mengherankan jika MU mendatangkan Ramsay musim panas ini. Catatan Setan Merah saat menghadapi situasi bola mati begitu buruk di musim lalu.

Dikutip dari WhoScored, MU kebobolan 14 gol dari set-piece di Liga Inggris 2020/2021, terburuk kedua setelah Leeds United (15 gol). Mereka juga hanya membuat tujuh gol dari bola mati di Liga Inggris musim lalu. Terlalu cepat memang untuk bisa menilai dampak hadirnya Ramsay untuk MU saat ini. Namun hingga pekan keenam, gol Hause jadi satu-satu gol dari bola mati yang bersarang ke gawang MU.

Untuk menjadikan sebuah tim begitu handal dalam menghadapi bola mati, kerja pelatih set-piece tak sesederhana yang banyak orang bayangkan. Orang awam mungkin menilai klub bisa sangat berbahaya dalam bola mati karena punya set-piece taker yang baik atau klub begitu dominan saat sepak pojok akibat punya banyak pemain tinggi.

Pendapat yang tidak salah, tapi tugas pelatih set-piece tak sekadar menunjuk set-piece taker atau memilih dimana posisi pemain berada saat bola mati. Mereka harus mengumpulkan data, mengenal karakter pemain yang dimiliki dan pemain lawan, baru kemudian menentukan pola untuk tim mereka dalam menghadapi bola mati.

Dikutip dari Guardian, Vio pelatih set-piece timnas Italia yang sudah melakoni peran ini sejak di Catania pada 2008 punya 4.830 variasi pola bola mati di set-piece boardnya. Pelatih set-piece jelas dituntut untuk inovatif menghadirkan banyak alternatif dalam situasi bola mati. Mereka tentu tak bisa menggunakan pola yang itu-itu saja karena kubu lawan bakal mudah membacanya.

Namun, variasi pola yang banyak ini tak ada artinya tanpa eksekusi yang baik. Pelatih set-piece harus punya komunikasi yang baik dengan pemainnya agar keinginan bisa dijalankan oleh pemain di lapangan. Ia akan menyimulasikan rencana mereka saat latihan sebelum dibawa ke pertandingan.

Pola yang dikembangkan pelatih set-piece kepada timnya ini tak hanya saat posisi menyerang saat menghadapi bola mati, tapi juga ketika bertahan. Melatih pemain dalam kondisi bertahan saat menghadapi bola mati justru menjadi salah satu tugas tersulit dari pelatih set-piece.

Buttgereit yang membawa Denmark meledak di Euro menyebut bahwa pelatih set-piece harus mengenal betul karakter pemainnya untuk bisa mengajari mereka dengan baik cara bertahan. Ia harus menonton banyak cuplikan pertandingan pemainnya sebelum memberi masukan secara spesifik soal cara bertahan saat bola mati.

LONDON, ENGLAND - JULY 07: Mikkel Damsgaard of Denmark scores their team's first goal from a free kick during the UEFA Euro 2020 Championship Semi-final match between England and Denmark at Wembley Stadium on July 07, 2021 in London, England. (Photo by Laurence Griffiths/Getty Images)Gol tendangan bebas Mikel Damsgaard ke gawang Inggris lahir dari pola yang dikembangkan Buttgereit (Photo by Laurence Griffiths/Getty Images) Foto: Getty Images/Laurence Griffiths

"Jika Anda melihat beberapa pemain yang bertahan saat bola mati, mereka hanya berdiri menunggu bola. Anda juga melihat pemain lain yang melompat-lompat sepanjang waktu, tetapi masih belum benar-benar siap," jelas Buttgereit kepada Sky Sports.

"Bagi saya, ini tentang posisi tubuh, ini tentang bagaimana pemain melihat area di sekitarnya dan lawan mereka, dan seberapa cepat mereka bereaksi. Itu adalah tugas Anda untuk mengajari mereka.""

"Anda harus menonton 50 tendangan sudut terakhir yang dihadapi dengan pemain tertentu yang berdiri di posisi tertentu, lalu Anda baru bisa memberi masukan kepada mereka. Anda jelas dalam mengatakan apa yang Anda inginkan, sehingga mereka bisa mengerti," jelasnya.

Buttgereit menilai keberhasilan sebuah tim dalam menghadapi situasi bola mati adalah buah dari kerja semua anggota tim yang saling bersinergi. Maka dari itu, ia menegaskan pelatih set-piece belum tentu bisa memberikan dampak instan kepada tim yang diasuhnya.

Bola Mati yang Harus Dinikmati

"Cara berpikir bahwa gol bola mati entah bagaimana adalah gol yang kurang bernilai, saya tidak bisa memahaminya," tegas Buttgereit

Beberapa pihak memang menilai membobol gawang lawan lewat bola mati bukan hal yang bisa dinikmati. Para penikmat sepakbola indah lebih terlena oleh gol dari open-play. Bola mati dianggap lekat dengan tim yang bermain pragmatis yang mementingkan hasil akhir.

Namun pada akhirnya, bagaimana pun caranya itu terjadi, gol tetap bernilai satu di sepakbola. Tren pelatih set-piece semakin menegaskan hal itu. Klub-klub mulai sadar bahwa bola mati adalah situasi krusial yang bisa menjadi pembeda dalam sebuah laga.

Mencuatnya para pelatih set-piece juga menunjukkan bahwa taktik di sepakbola kini semakin mikro dan matematis. Pergerakan setiap pemain tercatat dalam angka dan data.

Sebagai penonton kita mendapat sudut pandang lain soal bola mati. Tak layak rasanya kita mengatakan gol dari sepak pojok berbau keberuntungan dengan mengatakan si pemberi umpan mengirim umpan silang ke kerumunan.

Pasalnya, hal ini bisa saja buah dari kerja keras pelatih set-piece. Ia mengumpulkan data, mencari pola, menyimulasikannya dalam latihan, sebelum sukses dieksekusi di pertandingan.

Tak bisa dipungkiri, bola mati adalah momen dalam pertandingan yang memang harus dinikmati. Banyak yang mengukir sejarah dari situasi ini.

26 May 1999:  Teddy Sheringham of Manchester United heads goalwards during the UEFA Champions League Final against Bayern Munich at the Nou Camp in Barcelona, Spain. Sheringham scored the equaliser as United won 2-1.  Mandatory Credit: Ben Radford /AllsportDua gol Manchester United dari sepak pojok di final Liga Champions 1998/1999 menjadi salah satu gol dari bola mati yang paling dikenangMandatory Credit: Ben Radford /Allsport Foto: Ben Radford /Allsport

Yunani yang juara Piala Eropa 2004 berkat sepak pojok yang disambut Angelos Charisteas menjadi gol. MU melakukan comeback dramatis menang 2-1 atas Bayern Munich di Final Liga Champions 1998/1999 berawal dari dua sepak pojok David Beckham. Lalu, ada juga tendangan bebas kencang Ronald Koeman yang memastikan Barcelona juara Piala Champions 1991.



Simak Video "Gol Marcos Alonso Jadi Penyelamat Chelsea dari Kekalahan "
[Gambas:Video 20detik]
(pur/krs)