Adidas miCoach: Melawan Tipuan Rasa Lelah

Adidas miCoach: Melawan Tipuan Rasa Lelah

- Sepakbola
Senin, 17 Feb 2014 18:25 WIB
Adidas miCoach: Melawan Tipuan Rasa Lelah
counterkicks.com
Jakarta -

Doronglah diri Anda hingga ke batas tertinggi. Mungkin kata-kata itu sering kita dengar dari seorang motivator atau guru. Tentu tidak salah. Jika ingin berkembang, maka harus berjuang hingga batas akhir kemampuan. Dengan tempaan yang luar biasa, tubuh pun akan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Begitu juga dalam berolahraga. Apapun tujuan kita berolahraga, jika ingin mencapainya maka harus berjuang hingga melewati batas kemampuan. Entah itu untuk menjadi sehat, membentuk badan, mendapatkan kondisi tubuh yang prima, atau untuk mendapatkan prestasi tertentu. Batas-batas yang sering kali "menjaga" tubuh dalam kondisi nyaman haruslah terlampaui.

Namun dari sini akan timbul pertanyaan paling mendasar: ada di mana batas diri kita? Ketika diharuskan untuk berjuang melampaui batas, namun ternyata kita tidak tahu di mana batas kita, lalu sampai mana kita harus memaksa diri?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Parameter batas diri memang dapat diartikan dalam banyak arti. Artikel ini akan membahas masalah batas dalam lingkup yang lebih sempit: fisik. Untuk keperluan olahraga, kemampuan fisik memang jadi satu hal yang diperhitungkan.

Jangan Percaya Diri Sendiri

Batas kemampuan fisik sebenarnya merupakan satu hal yang sangat mudah untuk diukur. Hanya saja, kita sering tertipu oleh diri sendiri ketika menerka-nerka. Biasanya kita akan menjadikan rasa lelah sebagai penanda bahwa kita sudah mencapai batas kemampuan kita. Di sinilah kita sering tertipu oleh diri sendiri.

Aktivitas fisik memang akan membuat tubuh kita berada dalam kondisi yang tidak nyaman. Lalu, secara alamiah, tubuh akan "meminta" otak untuk menghentikan aktivitas. Sang tubuh ingin kembali ke kondisi yang nyaman. Permintaan inilah yang ditafsirkan sebagai rasa lelah.

Tubuh akan melemahkan sinyal-sinyal syaraf ke otot sehingga otot tidak menghasilkan gerakan secepat dan sekuat biasanya. Sinyal pada panca indera pun lebih melemah. Mata juga akan terasa lebih berat hingga rasa kantuk mulai terasa.

Apakah dalam kondisi ini kita sudah berada pada batas maksimal kita? Belum tentu.

Jangan pernah lagi mau ditipu tubuh dengan rasa lelah. Rasa lelah sama sekali bukan penanda bahwa Anda sudah mencapai batas kemampuan fisik. Ketika merasa lelah, Anda bisa saja baru sedikit melewati area nyaman tubuh Anda. Batas kemampuan Anda masih beberapa langkah lebih jauh dari itu.

Jadi, di mana batas kemampuan kita sebenarnya?

Cara termudah untuk mengukur batas kemampuan fisik tubuh kita adalah detak jantung per menit. Semakin tinggi detak jantung per menit, maka ini jadi pertanda bahwa kita sudah semakin mendekati batas kemampuan maksimal tubuh kita.

Secara sederhana, jumlah detak jantung maksimal yang bisa kita capai dapat dihitung dengan rumus 220 dikurangi umur saat ini. Misalnya saja bagi yang saat ini berusia 20 tahun. Maka detak jantung per menit maksimal adalah 200. Lewat dari batas itu, akan sulit bagi Anda untuk mempertahankan performa.



Inilah batas kemampuan diri yang sebenarnya. Dan kali itu tubuh tidak berbohong lagi. Ketika detak jantung per menit sudah mencapai maksimal, maka hal tersebut adalah penanda yang dapat dipercaya bahwa Anda sudah berada di batas.

Melatih tubuh untuk sering berada di ambang batas seperti ini akan membuat tubuh menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mungkin hari ini detak jantung Anda sudah sampai 200 per menit setelah lari sejauh 5 km. Tapi setelah menjalani latihan teratur, bukan tidak mungkin jika dua bulan kemudian detak jantung Anda bisa stabil di bawah 190/menit meski sudah berlari 10 km.

Teknologi untuk Mengukur Rasa Lelah

Masalah selanjutnya tentu adalah cara pengukuran detak jantung. Tak mungkin kita terus memegangi dada kita agar tahu terus tahu jumlah detak jantung bukan?

Kemajuan teknologi saat ini sudah sangat membantu untuk bisa tahu kondisi terkini tubuh Anda. Dengan menggabungkan kemajuan teknologi dan sport science, Adidas meluncurkan suatu alat yang diberi nama miCoach.

Adidas miCoach akan langsung memonitor kondisi terkini tubuh yang lalu ditampilkan pada layar jam. Ketika beraktivitas, kita dapat mengetahui apakah sedang menggunakan 50% kemampuan, 60%, 75% atau sudah mencapai 99%. Dengan begitu kita dapat mengatur sejauh mana ingin bekerja.

Meski digunakan oleh kalangan masyarakat biasa, miCoach juga digunakan dalam dunia sepakbola profesional. Misalnya MLS atau liga sepakbola di Amerika Serikat yang menggunakan alat ini untuk semua pemain. Demikian pula di Indonesia, Pandit Football sedang mengujicobakan alat ini pada beberapa pemain, untuk mengukur performa mereka saat latihan.

Ada banyak tujuan yang dapat diinginkan dari penggunaan alat pengukuran semacam ini. Pemain akan mengetahui kapan dia dapat berlari, dan kapan dia harus beristirahat. Dengan begitu pemain akan dapat menampilkan performa maksimalnya.

Sementara itu, dari sisi pelatih, ia akan lebih mudah untuk mengetahui pemain mana yang masih dapat dipertahankan di lapangan dan pemain mana yang harus diganti dengan pemain yang lebih segar.

Alat ini pun digunakan pada saat latihan. Para pelatih tidak perlu takut bahwa anak asuhnya malas-malasan dalam berlatih, karena semua performa anak asuhan mereka akan terekam tiap detiknya. Pelatih akan langsung mengetahui persen aktivitas sang pemain sudah berada di level mana.

Terlepas dari perhitungan detak jantung per menit, miCoach juga acap digunakan dalam peningkatan performa. Misalnya saja dengan menghitung jarak tempuh yang telah dilalui seseorang, serta rata-rata kecepatan selama beraktivitas. Dengan tambahan teknologi GPS dan wireless maka semua data ini dapat disajikan di dalam perangkat komputer atau laptop.



Fungsi lain yang tidak kalah penting dari miCoach adalah jumlah kalori yang dikeluarkan saat beraktivitas. Dengan perhitungan jumlah kalori ini, kita dapat mengetahui berapa banyak asupan nutrisi yang harus dikonsumsi setelah selesai beraktivitas. Dengan begitu, kita tidak akan kekurangan nutrisi akibat aktivitas yang kita lakukan.

Mengembangkan potensi diri hingga ke batas maksimal adalah impian semua orang. Kekeliruan dalam mengira batas maksimal sering menjerumuskan kita kepada hasil yang tidak sesuai keinginan. Sudah bukan saatnya lagi kita menganggap kelelahan sebagai batas kemampuan fisik kita. Perkembangan alat dan ilmu pengetahuan bisa menjaga kita untuk tidak lagi tertipu oleh diri sendiri.


====

* Penulis adalah mahasiswa Program Studi Magister Keolahragaan Institut Teknologi Bandung. Akun twitter: @aabimanyuu dari @panditfootball

(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads