Raphinha Ceritakan Masa Lalunya yang Suram

ADVERTISEMENT

Raphinha Ceritakan Masa Lalunya yang Suram

Okdwitya Karina Sari - Sepakbola
Sabtu, 17 Sep 2022 14:00 WIB
FC Barcelona v Real Valladolid CF - LaLiga Santander
BARCELONA, SPAIN - AUGUST 28: Raphinha of FC Barcelona looks on during the LaLiga Santander match between FC Barcelona and Real Valladolid CF at Spotify Camp Nou on August 28, 2022 in Barcelona, Spain. (Photo by Alex Caparros/Getty Images)
Raphinha menceritakan masa lalu yang berat, teman-temannya kini menjadi kriminal. (Foto: Getty Images/Alex Caparros)
Barcelona -

Raphinha mengarungi masa lalu yang berat sebelum akhirnya bisa bermain di Barcelona. Raphinha punya teman-teman yang terjerumus ke dalam dunia kejahatan.

Winger berusia 25 tahun itu mengawali karier bersama klub Brasil Avai, lalu merumput di Eropa bersama Sporting Lisbon. Pelan-pelan Raphinha menanjak kemudian digaet Rennes sebelum hijrah ke Inggris untuk bergabung Leeds United pada musim panas 2020.

Raphinha mencetak enam gol plus sembilan assist di musim debutnya untuk membantu si Putih bertahan di Premier League dengan finis kesembilan. Pada musim keduanya, Leeds memang merosot usai finis ke-17, tapi Raphinha bersinar dengan 11 gol yang menjadikan dia sebagai pencetak gol di klubnya.

Pada musim panas lalu Raphinha diminati sejumlah klub top Eropa sebelum memilih berlabuh di Barcelona. Raphinha digaji sekitar 100 ribu pound sterilng sepekan (Rp 1,7 miliar) dan nyaris selalu menjadi pemain pilihan pertama pelatih Xavi Hernandez.

Akan tetapi, Raphinha menjalani fase yang tidak mudah sebelum bisa seperti sekarang. Raphinha tumbuh besar di Porto Alegre, yang memiliki tingkat kejahatan tinggi serta memiliki teman-teman yang kini menjadi kriminal. Meski begitu, Raphinha justru terdorong dalam mengejar mimpinya menjadi pesepakbola top.

"Sulit untuk mengikuti jalan anda dan tidak tersesat," kata Raphinha kepada Marca. "Ada kesempatan muncul, dan ada banyak. Mereka menjanjikan cara yang lebih mudah untuk menghasilkan uang."

"Dan di situlah banyak orang tersesat. Aku tidak pernah keluar dari situ, tapi aku menjadi saksinya. Aku berjalan di samping orang-orang yang tersesat. Aku kehilangan banyak teman di dunia kejahatan, dalam perdagangan obat-obatan terlarang ... Teman-teman yang bermain sepuluh kali lipat lebih baik dariku, yang bisa saja bermain untuk klub-klub terhebat di dunia."

"Melihat contoh-contoh itu dari dekat menjadi sebuah faktor penting bagiku untuk menjaga fokus. Aku sudah tahu apa yang kuinginkan sejak kecil: menjadi seorang pemain sepakbola," sambung dia.

"Mencapai tujuan ini dengan meninggalkan sebuah tempat tinggal sendiri itu adalah pengorbanan yang besar. Tapi ambisiku jauh lebih besar. Kalau mereka sekarang membicarakan tentang 'sihir' ku di dalam sepakbola, aku akan bilang... inilah sihir yang sebenarnya," cetus Raphinha.



Simak Video "Xavi: Barcelona Bukan Favorit Juara Liga Europa, Tapi Sevilla"
[Gambas:Video 20detik]
(rin/aff)

ADVERTISEMENT