Geger Skandal Pelanggaran Seksual Sistemik di Liga Sepakbola Putri AS

ADVERTISEMENT

Geger Skandal Pelanggaran Seksual Sistemik di Liga Sepakbola Putri AS

Yanu Arifin - Sepakbola
Selasa, 04 Okt 2022 14:00 WIB
WASHINGTON, DC - SEPTEMBER 17:  NJ/NY Gotham FC goalkeeper Michelle Betos (1) clashes with Washington Spirit forward Trinity Rodman (2) during a NWSL match between NJ/NY Gotham FC and the Washington Spirit, on September 17, 2022 at Audi Field, in Washington DC.
(Photo by Tony Quinn/Icon Sportswire via Getty Images)
Foto: Tony Quinn/Icon Sportswire via Getty Images
New York -

Sepakbola belum ramah untuk perempuan. Itu terbukti usai beredar laporan soal pelanggaran seksual sistemik di liga sepakbola putri Amerika Serikat.

Melansir Guardian, laporan investigasi independen yang dikerjakan selama bertahun-tahun, mengungkap adanya pelecehan dan pelanggaran seksual terjadi di liga sepakbola perempuan AS.

Laporan investigasi itu dipimpin langsung mantan wakil jaksa agung AS, Sally Q Yates. Dalam temuannya, terungkap banyak skandal yang merendahkan perempuan di liga sepakbola AS.
"Penyelidikan kami telah mengungkapkan liga di mana pelecehan dan pelanggaran-pelecehan verbal dan emosional dan pelanggaran seksual-telah menjadi sistemik, mencakup banyak tim, pelatih, dan korban," tulis laporan itu.

"Penyalahgunaan di NWSL berakar pada budaya yang lebih dalam dalam sepakbola wanita, dimulai di liga pemuda, yang menormalkan pembinaan yang kasar secara verbal dan mengaburkan batasan antara pelatih dan pemain," lanjut keterangan dalam laporan itu.

Salah satu contoh pelanggaran yang tercantum dalam laporan di antaranya pelatih yang menunjukkan video porno pemain, sampai memaksa pemain berhubungan seksual.
Laporan itu ditanggapi oleh Presiden US Soccer, yang juga mantan pemian timnas putri AS, Cidy Parlow. Ia menyayangkan kejadian ini.

"Temuan investigasi ini memilukan dan sangat meresahkan. Pelecehan yang dijelaskan tidak dapat dimaafkan, juga tidak memiliki tempat di lapangan bermain mana pun, baik di fasilitas pelatihan atau tempat kerja mana pun," kata Cindy Parlow.

"Sebagai badan pengatur nasional untuk olahraga kami, US Soccer berkomitmen penuh melakukan segala daya untuk memastikan semua pemain, di semua tingkatan, memiliki tempat yang aman dan terhormat untuk belajar, tumbuh, dan bersaing."

"Kami mengambil tindakan segera yang kami bisa hari ini, dan akan mengumpulkan para pemimpin sepakbola di semua tingkatan di seluruh negeri untuk berkolaborasi dalam rekomendasi sehingga dapat menciptakan perubahan yang berarti dan tahan lama di seluruh ekosistem sepakbola," kata Parlow menanggapi laporan itu.

Yates, dalam laporannya seperti dilansir Marca, juga menjelaskan pemimpin NWSL [National Women Soccer League] dan Federasi Sepakbola AS, badan pengatur olahraga di Amerika Serikat, serta pemilik, eksekutif, dan pelatih di semua tingkatan, tidak bertindak selama bertahun-tahun.

"Tim, Liga dan Federasi tidak hanya berulang kali gagal merespons secara memadai ketika dihadapkan dengan laporan pemain dan bukti pelecehan. Mereka juga gagal melembagakan langkah-langkah dasar untuk mencegah dan mengatasinya," kata Yates.

Dalam laporan itu, tiga klub yakni Portland Thorns, Racing Louisville FC dan Chicago Stars, tidak bekerja sama dengan penyelidik.

"The Portland Thorns mengganggu akses kami ke saksi yang relevan dan membuat argumen hukum yang menyesatkan dalam upaya untuk mencegah kami menggunakan dokumen yang relevan," ungkap laporan itu.

Salah satu pelatih utama yang terlibat adalah Paul Riley, mantan manajer Portland. Tuduhan pelanggaran seksual diajukan terhadap Riley setiap tahun dari 2015 hingga 2021. Survei anonim terhadap pemain pada tahun 2014 juga mengidentifikasi Riley, yang saat itu menjadi pelatih Portland Thorns, sebagai orang yang kasar secara verbal dan seksis.

(yna/cas)

ADVERTISEMENT