Kisah Maradona di Layar Lebar
Selasa, 27 Mar 2007 02:12 WIB
Roma - Kehidupan Maradona sebagai seorang legenda hidup sepakbola, bisa dibilang cukup berliku dan juga diisi kontroversi. Apa jadinya kalau kisah hidupnya muncul di layar lebar?Jenius. Licik. Pecandu obat terlarang. Tidak salah kalau julukan itu --dan mungkin sederet julukan lain-- dilekatkan kepada Diego Armando Maradona. Legenda asal Argentina itu memang bak ditakdirkan hidup penuh warna.Jenius, siapa yang akan menyangkal kalau Maradona bak maestro saat berlaga di lapangan hijau. Gelar pesepakbola terhebat di abad 20, bersama Pele, maupun performanya saat membela Boca Junior, Barcelona dan Napoli menjelaskan julukan itu bukan sekedar "pepesan kosong".Licik, tudingan yang dialamatkan fans Inggris kepada Maradona usai mencetak gol "tangan Tuhan" yang penuh kontroversi. Orang Inggris mana yang tidak dongkol melihat timnya tersisih dari perempatfinal Piala Dunia 21 tahun silam, semua akibat Maradona. Dunia obat-obatan terlarang juga pernah mengisi dunianya. Cukup lama Maradona keluar masuk pusat rehabilitasi memerangi ketergantungannya terhadap obat bius.Kalau mau ditambah, hidupnya juga penuh dengan skandal seperti perselingkuhan, penghindaran pajak, obesitas dan lainnya. Pendeknya, lika-liku hidup Maradona bisa dibilang dramatis. Bagaimana kalau kisah hidup nan dramatis itu masuk layar lebar? Jadilah film bertajuk "Maradona La Mano de Dio" atau The Hand of God.Rencananya, film itu akan diputar di seluruh bioskop Italia mulai 30 Maret 2007 mendatang. Tugas untuk membesut film itu diberikan kepada sutradara Italia, Marco Risi, sedangkan aktor kelahiran Australia, Marco Leonardi, dipercaya memerankan tokoh sentral, Maradona.Film yang rencananya juga akan diputar di Festival Film Cannes pada bulan Mei itu tidak hanya akan berkisah tentang kehebatan Maradona. Film yang banyak mengambil lokasi syuting di Buenos Aires itu memang ditujukan sang sutradara untuk memotret sisi Maradona sebagai sosok manusia biasa yang sangat manusiawi."Tentu saja dia mengkonsumsi kokain tapi dia bukan orang yang masuk di dalam pemerintahan. Dia hanyalah seorang jenius yang pada dasarnya hanya menyakiti dirinya sendiri, sepanjang hidupnya," tukas sutradara Risi, dilansir AFP, Selasa (27/3/2007).Tertarik? Sayangnya belum ada informasi kapan film itu akan masuk ke kawasan Asia, apalagi Indonesia. (krs/lom)











































