Tangisan Tardelli (1982)

ADVERTISEMENT

Tangisan Tardelli (1982)

- Sepakbola
Kamis, 27 Mei 2010 17:18 WIB
Jakarta - Jangan tidak memasukkan momen Marco Tardelli di Piala Dunia 1982 sebagai salah satu selebrasi terheboh dalam sejarah Piala Dunia. Selebrasi yang bertenaga, emosional, dan … "narsis".

Tardelli adalah pilar lini tengah Italia di Piala Dunia tersebut. Petarung yang gigih, "tukang angkut air" yang rajin, dan penghadang lawan tanpa kompromi. Gelandang bertahan yang pernah membela Juventus dan Inter Milan ini juga memiliki teknik yang bagus dan mampu mencetak gol.

11 Juli 1982 adalah salah satu momen terbaik dalam sejarah Tardelli. Italia tampil di final Piala Dunia melawan Jerman Barat di stadion Santiago Bernabeu, Madrid, disaksikan sekitar 90 ribu penonton.

Setelah tanpa gol di babak pertama, Italia membuang kesempatan emas ketika tendangan penalti Antonio Cabrini melenceng dari gawang Harald 'Toni' Schumacher. Azzurri akhirnya membuka skor melalui sundulan jarak dekat Paolo Rossi di menit 57, menyambar umpan silang Claudio Gentile.

Menit 69 adalah momentum Tardelli. Menerima sodoran bola rekannya persis di depan kotak penalti Jerman, ia melepaskan tembakan kaki kiri ke arah gawang. Schumacher bahkan tak sempat bereaksi untuk menghentikan bola, dan terciptalah gol.

Tardelli yang terpeleset setelah menendang, bangkit untuk merayakan golnya. Ia membuka dan mengepalkan kedua tangannya, berlari kencang ke arah bench tim. Sambil itu ia menggoyang-goyangkan kepalanya, seolah-olah tidak percaya telah mencetak sebuah gol penting di final Piala Dunia.

Hebatnya adalah, pria yang saat itu berusia 27 tahun itu merayakan selebrasi powerful-nya itu sambil menangis. Wajahnya basah oleh keringat dan airmata. Ia juga menunjukkan keakuannya dengan meneriakkan namanya sendiri, "Marco, Marco, Marco!".

Momen selebrasi itu kelak disebut dunia sebagai "Tangisan Tardelli".

"Mungkin kalau saya tak berteriak kencang-kencang dan menangis waktu itu, mungkin saya malah akan meledak karena terlalu gembira," kata si pemain, yang saat ini menjadi asisten pelatih timnas Republik Irlandia, Giovanni Trapattoni.

Gol Tardelli itu kemudian disusul oleh gol ketiga Italia yang dibuat Alessandro Altobelli di menit 81, sebelum Jerman menipiskan skor melalui Paul Breitner dua menit kemudian. Italia menang 3-1 dan tampil sebagai juara (untuk ketiga kalinya). (a2s/krs)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT