Seperti diberitakan sebelumnya, Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Surakarta melakukan penangkapan terhadap Mamadou dan Nova setelah keduanya dianggap menjadi pemicu keributan yang terjadi dalam laga Liga Indonesia Divisi Utama.
Keributan yang terjadi di depan mata Walikota Solo Joko Widodo, Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Alex Bambang Riatmodjo, Kapolwil Surakarta Kombes (Pol) Taufik Ansori, dan beberapa perwira di jajaran Polwil Surakarta dan Poltabes Solo itu kemudian berbuntut dengan aksi penangkapan terhadap keduanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PSSI mau bertemu dengan Kapolda Jateng untuk meng-clereance apa yang sebenarnya terjadi. Kita akan menjelaskan duduk persoalannya seperti apa dan menjelaskan kalau di sepakbola ada peraturannya sendiri," ungkap Nugraha saat ditemui wartawan di kantor PSSI, Senayan, Jakarta.
"Yang punya wewenang untuk meminta kemanan masuk lapangan adalah wasit, saat itu maksud Kapolda baik tapi terlalu dini untuk menangkap," lanjut Nugraha.
Meski menyesalkan aksi penangkapan tersebut, namun Nugraha menilai insiden tersebut justru menjadi pelajaran penting buat banyak pesepakbola di Indonesia yang kerap diwarnai aksi baku hantam.
"Kajadian ini sering terjadi di daerah, tanpa komando polisi masuk sendiri ke lapangan. This is the first time in the world. Jangan sampai bergulir ke meja hijau. Kejadian ini juga jadi peringatan buat pemain kalau perkelahian tidak disukai, pemain bisa ambil hikmahnya," pungkas Nugraha.
(din/a2s)











































