sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Rabu, 27 Apr 2011 00:24 WIB

Kelompok 78: Agum Lebih Baik Mundur daripada Dimundurkan

- detikSport
Jakarta - Kinerja Ketua Komite Normalisasi (KN), Agum Gumelar, disorot oleh pemilik suara yang tergabung dalam Kelompok 78. Kalau memang sudah tidak mampu melaksanakan tugasnya, Agum diminta mundur saja.

Kelompok 78 menilai Agum memimpin KN dengan gaya otoriter. Padahal, dalam KN, harusnya Agum mengambil keputusan berdasarkan persetujuan bersama dengan anggota lainnya.

"Pak Agum ini tidak mementingkan kepentingan persepakbolaan. Saya melihat Pak Agum lebih mementingkan kepentingannya. Dia model kepemimpinan otoriter. Kita minta (rapat) pleno, kalau lima anggota KN nggak setuju (dengan Agum) disuruh keluar. Ini gimana. Harusnya kan aklamasi, kalau tak tercapai maka voting," ujar anggota Kelompok 78, Wisnu Wardhana, saat dihubungi detikSport lewat sambungan telepon, Selasa (26/4/2011) malam.

"Ini badan kolegial, harus mengambil keputusan bersama, jangan diambil satu-dua orang. Komite itu keputusannya nggak bisa satu-dua orang, tapi keputusan bersama. Nggak boleh otoriter," imbuhnya.

Selain soal gaya kepemimpinan Agum, Wisnu juga menyoroti ketidakmampuan Agum mengakomodir dan memperjuangkan kepentingan para pemilik suara.

"Sama sekali tidak mengakomodir. Padahal, kepentingan pemegang suara selalu berpegang pada statuta FIFA, PSSI, electoral code. Keputusan tertinggi di kongres. Kalau pemegang suara sudah diabaikan oleh Pak Agum, dia pakai aturan mana," lanjut Wisnu.

"Menurut saya belum memperjuangkan. Perjuangan mesti ada hasilnya, dikit-dikit lah. Tapi kok malah tambah masalah baru. Kongres 14 April dianggap meeting, komite pemilihan ndak diakui, komite banding malah diakui. Gimana itu," tanyanya.

Wisnu pun menyimpulkan bahwa Agum sudah tak mampu lagi memimpin Komite Normalisasi. Dia menilai mantan ketua umum PSSI itu tak mampu melaksanakan amanah yang diberikan oleh FIFA dengan baik.

"Pak Agum tak mampu memimpin Komite Normalisasi. Tak kredibel dan tidak kapabel. Tak mampu melaksanakan amanah FIFA. Amanah penyelenggaraan kongres kan harusnya sesuai undang-undang. Kalau orang pintar kan mengakomodir pemegang hak suara," bebernya.

Agar masalah tak makin rumit, Wisnu menyarankan Agum mundur saja dari Komite Normalisasi. Hal ini lebih baik daripada Agum dimundurkan.

"Kita tidak hanya mendesak mundur. Jadi kalau merasa sudah tidak mampu, lebih baik mundur, daripada dimundurkan. Jangan kemudian mengorbankan PSSI, sehingga kongres nggak sukses. Jangan mengorbankan Komite Normalisasi," tutur Wisnu.

"Kalau merasa tidak mampu, ya lebih baik mengundurkan diri. Kalau tak mampu menyukseskan kongres, ya mundur," pungkas dia.




(mfi/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com