Midjuli Santoso (38 tahun) pernah terjerumus amat dalam ke dunia narkoba. Akibatnya, ia pun sampai pernah mendekam di penjara. Gara-gara narkoba pula kiper yang juga pemain paling senior di tim Indonesia dalam Homeless World Cup itu positif HIV/AIDS.
Perkenalan pria yang akrab disapa Bli--sapaan khas Bali, tempat tinggalnya kini--tersebut dengan narkoba terjadi pada tahun 1995 ketika ia masih tinggal di kampung halamannya, Surabaya. "Dulu saya pakai putaw, ganja, sabu, inex. Kakak bartender, jadi suka pulang bawa sabu dan lainnya," kisahnya.
Akibat perkenalannya dengan barang-barang haram itu pula Bli Yuli mengaku berani melakukan tindak kriminal seperti mencuri barang-barang, di rumah maupun di luar rumah. Tahun 2004 dan 2007, kisahnya, ia pun pernah merasakan dinginnya jeruji besi tahanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usaha menyembuhkan diri dari pengaruh narkoba bukannya belum pernah ia lakukan. Pada tahun 2000 ia mengaku pernah dipaksa orangtua masuk pesantren untuk direhabilitasi kendati tak berbuah manis.
Bab baru dalam hidupnya muncul pada tahun 2010 ketika melihat seorang temannya bisa berhenti menggunakan narkoba setelah menjalani rehabilitasi di Bali. "Saat itu saya inisiatif jalan sendiri, sudah nitip motor, atm, kepada saudara terdekat. Dia kaget juga."
Di tahun yang sama ia akhirnya mengetahui dirinya positif HIV/AIDS. "Saya sudah nggak kaget lagi. Temen-temen yang dulu pakai jarum suntik bareng banyak yang sudah meninggal karena itu," ungkapnya.
Vonis tersebut memang tidak membuat dirinya down. Sebaliknya Bli justru malah mulai berusaha menata hidupnya jadi lebih baik. "Sekarang sudah ada istri lagi. Dia terima saya apa adanya, dia konsuler HIV/AIDS. Hubungan kami normal, pakai kondom. Kami ingin punya anak, tapi untuk ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) untuk punya anak biaya tidak kecil," katanya sambil tersenyum kecil.
Perkara biaya itu memang mesti ia pertimbangkan benar karena, "Sekarang sedang nggak kerja. Dulu di sektor industri akseksoris, tapi bos sudah pindah ke India dan China."
Saat dirinya sedang menganggur ia mendapat informasi mengenai gelaran Homeless World Cup, pesta street soccer antarnegara buat orang-orang yang termarjinalkan. Di ajang tersebut Indonesia memang mengusung isu mantan pecandu narkoba, ODHA, dan masyarakat miskin kota. Ia pun coba mengikuti dari wilayah seleksi Bali sampai akhirnya lolos.
"Saya ini dasarnya body building, bukan kiper futsal, dan cuma gemar main bola saja," tegas pria yang pernah menyabet sejumlah gelar di ajang body building itu. "Setelah saya open dengan status ODHA, teman-teman memang banyak yang heran melihat saya. Positif HIV tapi kok badannya seperti ini."
Lewat keikutsertaannya di HWC, Bli Yuli pun tampaknya ingin secara luas memberi pesan sederhana ala dirinya sendiri untuk orang-orang yang termarjinalkan lainnya, atau bahkan punya nasib serupa dengannya. "Agar orang-orang seperti saya nggak menyesal dengan apa yang sudah dianugerahi Tuhan. Jangan menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Olahraga saja, itu bikin enjoy," ucapnya, kembali dengan senyum.
(krs/cas)











































