'Garuda' Merindukan Trofi

Piala AFF

'Garuda' Merindukan Trofi

- Sepakbola
Senin, 17 Nov 2014 11:21 WIB
Garuda Merindukan Trofi
detikSport/Rengga Sancaya
Jakarta -

Sepanjang keikutsertaan di Piala AFF, Indonesia hanya pernah menyandang predikat "hampir juara" --belum pernah jadi juara. Trofi Piala AFF tetap menjadi satu yang diidam-idamkan, tapi belum pernah didapat sampai saat ini.

Dengan mayoritas penduduk yang amat menggemari sepakbola, timnas sepakbola Indonesia terbilang miskin trofi. Usai menjadi juara SEA Games 1987 dan 1991, belum pernah lagi 'Garuda' mendapatkan trofi juara.

Piala AFF, setidaknya jadi yang paling dekat untuk Indonesia mendapatkan trofi. Dengan statusnya sebagai kejuaraan antarnegara-negara ASEAN, kans untuk mendapatkan trofi hitungannya lebih besar ketimbang di Piala Asia atau Olimpiade. Terlebih, tidak seperti Piala Asia atau Olimpiade, Indonesia tidak harus ikut kualifikasi dulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, trofi Piala AFF jadi sesuatu yang begitu dekat sekaligus begitu jauh untuk digapai. Indonesia sudah pernah empat kali ke final, tetapi selalu gagal menjadi juara.

Dalam perhelatan dari 2000, lalu 2002, kemudian 2004, Indonesia selalu melaju sampai final. Namun, Thailand dan Singapura membuat Indonesia gagal merengkuh trofi.

Pada tahun 2000, trigol dari Worrawoot Srimaka dan sebuah gol dari Tanongsak Prajakkata hanya bisa dibalas oleh sebuah gol dari Uston Nawawi. Indonesia takluk 1-4 pada final yang berlangsung di Bangkok itu.

Dua tahun berselang, Indonesia berhasil mengejar selisih dua gol untuk memaksakan skor menjadi 2-2. Ketika itu, dua gol dari Chukiat Nosarung dan Therdsak Chaiman dibalas oleh dua gol dari Yaris Riadi dan Gendut Doni. Laga pun berlanjut ke babak adu penalti.

Di babak adu penalti, 'Bejo' Sugiantoro dan Sandy Firmansyah gagal mengeksekusi penalti dengan baik. Sebaliknya, keempat penendang Thailand sukses. Indonesia pun kalah 2-4 pada adu penalti itu.

Selanjutnya, pada 2004, Indonesia kalah dari Singapura yang ketika itu banyak diperkuat oleh pemain naturalisasi. Pada final perdana Daniel Bennett, Khairul Amri, dan Agu Casmir membuat Singapura menang 3-1 atas Indonesia. Di leg kedua, Indonesia kalah 1-2. Gol dari Indra Sahdan dan Casmir hanya dibalas oleh Elie Aiboy.

Indonesia kemudian harus menunggu selama enam tahun untuk bisa ke final lagi. Pada 2010, di tengah euforia besar yang melanda masyarakat di tanah air, Indonesia melaju ke final untuk menghadapi Malaysia.

Di babak grup, Indonesia menang telak 5-1 atas Malaysia. Tapi, cerita berbeda tersaji di final. Pada final perdana di Kuala Lumpur, Malaysia, dwigol dari Safee Sali dan sebuah gol dari Ashaari Shamsuddin membuat Malaysia menang 3-0. Pada final kedua di Jakarta, Indonesia menang 2-1. Namun, itu tidak cukup untuk membuat 'Merah-Putih' menjadi juara.

Kini, sekali lagi, Indonesia berharap untuk bisa melaju sampai final --dan menjadi juara. Pelatih Indonesia, Alfred Riedl, menyebut bahwa persiapan berjalan lancar dan Indonesia berangkat ke Hanoi, Vietnam, dengan keyakinan penuh.

"Tim ini masih ada waktu tiga kali latihan sebelum berangkat pada 18 November 2014. Kami akan pakai itu untuk mematangkan taktik karena kalau di Vietnam khawatir akan dimata-matai," beber Riedl.

"Diusahakan tim ini berangkat sebelum pertandingan karena di Hanoi diperkirakan cuacanya 17 derajat- 20 derajat celcius. Walau begitu, kami berangkat ke Vietnam dengan realistis dan optimistis," kata pria asal Austria ini.

(roz/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads