Sore itu, pria berjuluk "Maradona dari Purwodadi" itu berdiri di pinggir lapangan sebuah stadion. Dia menatap lekat-lekat sekelompok anak muda yang sedang berlatih di bawah langit yang tidak cerah-cerah amat.
Langit Semarang memang agak mendung sore itu. Bahkan hujan sempat turun pada siang hari, membuat tanah di pinggir lapangan menjadi agak basah. Sementara, genangan air bemunculan di lekuk-lekuk aspal yang cukup kasar.
Pria itu, Tugiyo, datang hanya untuk sekadar melihat anak-anak muda itu berlatih. Bukan melatihnya. Dia sudah punya tim binaan sendiri di Salatiga, tempat di mana dia nyaris menghabiskan seluruh waktunya dalam sepekan, meski dia sendiri bertempat tinggal di Plamongan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lapangan dan stadion itu tidak asing untuk Tugiyo. Julukan "Maradona dari Purwodadi" itu sendiri dia dapat ketika dia masih bermain sebagai pahlawan di atas lapangan itu, di stadion itu, di Jatidiri. Dialah salah satu pahlawan PSIS Semarang ketika berhasil menjuarai Liga Indonesia 16 tahun silam.
Tugiyo yang bertubuh gempal dan tidak terlalu tinggi memang mengingatkan orang dengan Diego Maradona. Gaya mainnya pun mirip, dia senang berlari dan menerobos pertahanan dengan bola di kakinya.
Ketika ditanya perihal julukan itu, Tugiyo tersenyum. Dia tak pernah menyangka akan menyandang julukan itu, namun terima-terima saja ketika orang menyebutnya demikian.

"Ya, itu bisa-bisanya orang-orang saja," lugasnya. "Tapi, yang jelas kenangan banyak sama stadion ini."
Tugiyo mengaku sudah jarang menginjakkan kaki di stadion yang memberinya banyak kenangan itu. Jumat sore itu, dia datang hanya untuk sekadar bertegur sapa dengan para pelatih dan pemain PPLP Jawa Tengah yang dulunya merupakan Diklat Salatiga.
Kebetulan, pada Sabtu harinya, Tugiyo akan membawa timnya bertanding di ajang "Clear Ayo Indonesia Bisa! 2015". Seraya melihat PPLP berlatih, Tugiyo menuturkan pahit dan manisnya melatih sebuah tim junior.
Ketiadaan fasilitas yang memadai di Indonesia, kata dia, seringkali menjadi batu sandungan. Namun demikian, bukan berarti latihan harus berhenti di tengah jalan.
"Yang pertama memang ada fasilitas dulu. Kalau punya fasilitas, melatih yang dasar seperti latihan passing dan kontrol juga jadi gampang. Kalau cari lapangan saja susah, gimana mau berlatih?"
"Lihat saja di luar (negeri), fasilitas biasanya komplet."
"Ini juga PPLP baru bisa berlatih di sini kalau PSIS tidak latihan. Kadang jadwalnya bentrok, jadi mereka harus berlatih di lapangan di kampung-kampung."
Sadar bahwa pembinaan penting, Tugiyo menyarankan agar para pemain di level junior mendapatkan jam terbang sebanyak mungkin. Termasuk bertanding di turnamen-turnamen seperti "Clear Ayo Indonesia Bisa! 2015"

Tugiyo kini melatih anak dari SMP kelas 1 dan 2 hingga anak-anak kelas 1 SMA. Buat dia, penanaman mental bertanding kepada anak-anak di level tersebut merupakan hal signifikan.
"Di akademi saya ada dari kelas 1 SMP. Paling sampai kelas 1 SMA. Jadi, paling tidak tiga tahunlah di situ."
"Yang penting mental bertanding, ada jam terbang buat mereka. Buat anak-anak (asuh) saya, di sini yang terpenting itu bukan menang atau kalah."
"Yang terpenting itu bukan menang atau kalah. Yang penting adalah mental bertanding dulu, biarkan mereka dapat pengalaman. Kalau ada kurang-kurang, baru dibenahi setelahnya."
Ajang "Clear Ayo Indonesia Bisa! 2015" sendiri dihelat di Semarang dari 21-22 Maret 2015. Di seluruh Indonesia ada 512 tim berpartisipasi dengan peserta mencapai 8.192 pemain berusia 16-17 tahun. Mereka dipantau langsung oleh Kurniawan dan Zainal Abidin.
Tahap province round digelar di enam kota yakni Aceh, Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, dan Jayapura.
(roz/cas)











































