Sejak Menpora menjatuhkan sanksi pembekuan pada PSSI empat setengah bulan lalu, praktis tak ada liga domestik bergulir. Akibatnya, nasib ratusan klub dan ribuan pemain masih terkatung-katung.
Desakan demi desakan untuk segera menggulir kompetisi dilontarkan dari pemain dan βpelatih tim. Termasuk yang diutarakan pelatih Persija Jakarta, Rahmad Darmawan. Ia ingin pemerintah dan PSSI bisa duduk bersama untuk mencari titik temu atas persoalan yang terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya kuncinya sekarang ada di KLB. Jadi PSSI kembali membuat KLB yang bersih. Ini menjadi kesempatan untuk bersama-sama Kemenpora untuk membuat itu," kata Budiarto.
KLB yang bersih yang dimaksud dalam arti membuka semua statuta dan membuka fakta sejauh mana kriteria profesionalisme FIFA, AFC, dipatuhi oleh klub.
"Itu mutlak harus dilakukan karena banyak klub yang terlibat tidak bayar pajak. Administrasinya juga kacau balau. Persija saja utangnya 10 miliar, padahal penontonnya banyak, itu harus dibuka dulu," ungkapnya.
PSSI sebenarnya baru menggelar KLB pada 18 April lalu, yang memilih kembali La Nyalla Mataliti sebagai ketua umum PSSI serta kepengurusan di bawahnya.
"βTapi KLB kemarin kan tertutup tidak jelas, enggak tuntas membahas masalah-masalah persepakbolaan. Saya kira sekarang ini terbukti pembekuan Menpora itu betul sebagai syok terapi. Kebuka sekarang kelemahan kita. Jadi PSSI tidak bisa lagi seolah-olah seperti malaikat, benar semua. Ternyata banyak borok sepakbola kita," lanjut dia.
"Nah itu dengan KLB. Jadi Kemenpora bersama PSSI membuat KLB baru. Dengan tekad pertama menggulirkan lagi liga. Tapi liganya harus bersih, dan membuka persoalan di PSSI. Jadi La Nyalla harus mengalah. Oke, KLB lagi dan musyawarah. Pemerintah turun tangan dan tanya satu -satu apa masalahnya. Itu diungkap di KLB."β
"Tidak apa-apa kita melakukan pekerjaan berat yang makan waktu dan biaya, tapi ini demi perbaikan sepakbola kita. La Nyalla menjadi Ketua Umum lagi pun tidak apa-apa. Asal semuanya fair. Karena saya tidak melihat jalan keluar lain, kecuali KLB."
"Nah, jika KLB siap, baru dilaporkan ke FIFA. Artinya pemerintah sudah tidak melakukan intervensi lagi. Karena dengan demikian besar kemungkinan FIFA bisa kembali mencabut sanksinya dan PSSI menjadi anggota lagi."
Budiarto mengatakan waktu yang paling tepat untuk bisa melaksanakan KLB adalah akhir tahun 2015 atau awal 2016. "Bayangan saya sekitar itu (akhir tahun atau awal tahun depan). Tapi itu harus persiapannya matang. Karena satu-satu mesti didekati. Karena KLB itu bukannya hanya digelar oleh PSSI tapi juga harus ada keterlibatan pemerintah, dalam arti Menpora melalui Tim Transisi."
"Tidak usah buru-buru, persoalan ini kan pelik. Kalau kita lihat ada pembekuan di Australia sampai sada federasi baru itu kan butuh bertahun-tahun," tuntas dia.
(mcy/din)











































