Tahun ini Indonesia kembali berpartisipasi dalam ajang Homeless World Cup (HWC). Meski serba terbatas dalam proses persiapan, mereka optimistis bisa jadi juara di Amsterdam, Belanda.
"Ini yang paling minim. Persiapan biasanya dua bulan, ini sebulan. Sebetulnya kendala dari seleksi sih. Ada regulasi baru dari HWC yang mengharuskan bulan Mei sudah ada daftar pemain," kata Manajer tim, Rijki Kurniawan, kepada detiksport, di Plaza Balaikota Bandung, Rabu (9/5/2015).
Sedari April sampai Mei mereka menyeleksi 80 pemain dari berbagai daerah di Indonesia. Baru pada awal Agustus, delapan pemain terpilih berkumpul dan menyiapkan diri untuk ajang ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untung saja, Walikota Bandung Ridwan Kamil turut membantu soal uang saku ini. Selain itu, mereka turut mendapat delapan tiket keberangkatan dari Asisten Deputi Kementerian Pemuda dan Olahraga. Hal yang menurut Rijki, mengurangi beban mereka.
"Dari segi fasilitas cukup terbatas. Kita pun menginap di Rumah Cemara bersampingan dengan kandang ayam. Walaupun kita tinggal dekat kandang ayam, tapi kami bukan tim ayam. Kami tim nasional yang visinya berbuat sesuatu untuk bangsa ini," tambah Rijki.
Pelatih Gimgim Sofyan menyebut anak-anak asuhnya dalam kondisi yang sedang bagus. Tolong menolong di antara pemain amat dia rasakan. Buktinya, saat ada pemain yang tidak punya sepatu layak pakai, teman-temannya berpatungan membelikan sepatu. Kekompakan macam ini yang menjadi nilai lebih HWC Indonesia tahun ini dengan tim HWC tahun-tahun sebelumnya.
"Kekuatan tidak hanya diukur dari saat di lapangan, tapi di luar lapangan mereka sudah kuat. Kalau menurut saya, mereka sudah juara," tutur Gimgim.
Setiba di Negera Kincir Angin, mereka langsung berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca dan rasa makanan. Adaptasi cepat penting mereka lakukan karena di Grup D mereka tergabung bersama Italia, Kosta Rika, Slovenia, Republik Ceska, dan Kanada.
Pada laga perdana, mereka menantang Italia, Sabtu (12/9). Untuk pesaing terkuat, Gimgim menyebut Kosta Rika, karena mereka punya gaya bermain yang cepat layaknya tim-tim dari benua Amerika.
Gimgim menyiapkan tiga taktik untuk mewujudkan target menjadi juara, yaitu pressing, full-pressing, dan delay. Untuk full-pressing, susunan empat pemain di lapangan dikondisikan mencetak gol sebanyak-banyaknya. Sementara pada delay, para pemain mencoba memperlambat permainan saat tim dalam kondisi unggul.
(a2s/fem)











































