Melawan Homesick dan Makanan Asing, Mengalahkan Diri Sendiri

Laporan dari Maroko

Melawan Homesick dan Makanan Asing, Mengalahkan Diri Sendiri

Femi Diah - Sepakbola
Selasa, 20 Okt 2015 22:58 WIB
Melawan Homesick dan Makanan Asing, Mengalahkan Diri Sendiri
Marakesh -

Selain tim-tim lawan dalam Final Dunia Danone Nations Cup 2015, ada hal lain yang harus dilawan tim Indonesia selama di Maroko. Homesick dan makanan yang tak biasa di lidah menjadi tantangan tersendiri untuk "Garuda Cilik".

Marcel Kusuma dkk. tak mengalami problem berarti selama perjalanan dari Surabaya singgah di Jakarta hingga tiba di Marakesh, Maroko, Senin (19/10/2015). Tiba di hotel, makan malam dan istirahat dilakoni dengan lancar.

Keesokan harinya anak-anak berusia 10-12 tahun itu juga beraktivitas sebagaimana saat berada di training camp di Agrowisata, Kota Batu, Jawa Timur. Bangun, sholat subuh, kemudian berlatih ringan. Tak masalah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cuaca juga belum jadi penghalang. Saat ini cuaca Marakesh cukup hangat. Suhu udara di luar ruangan berkisar antara 21-23 derajat celcius.



Tapi, persoalan muncul ketika anak-anak sarapan. Menu makanan yang terlalu "barat" dan bercita rasa Timur Tengah tak terlalu pas di lidah.

Roti, pastry, keju dan omlet menjadi pilihan aman. Ditambah minum susu sudah mengenyangkan tim yang didampingi Coach Rahmat dan Adi Putra Setiawan itu.

Tapi, roti dan pastry tetaplah cemilan bagi kebanyakan orang Indonesia. Begitu pula dengan anak-anak ini. Lagipula, seperti jamaknya orang Indonesia, mereka sudah terlanjur mengenal istilah: belum makan kalau belum makan nasi. Maka, hanya sarapan roti tetap jadi persoalan.

"Soal makanan anak-anak masih agak pilih-pilih. Tidak semua biasa mereka konsumsi sehari-hari," kata Gistang Panutur, brand manager Danone Aqua, kepada detikSport yang turut mendampingi tim Indonesia ke Maroko.

Tapi, instruksi pelatih senantiasi jadi kata sakti bagi anak-anak. Mengambil apapun wajib dihabiskan.

"Mereka harus mampu mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan lawan," kata Setiawan.

Potensi persoalan lain adalah homesick. Rasa kangen kepada rumah tidak bisa tidak, biasanya muncul karena aktivitas di hotel tak sevariatif dalam perjalanan. Setelah memasuki hotel, tim sudah harus mengikuti jadwal yang ditetapkan penyelenggara. Tidak mudah untuk keluar masuk hotel. Mereka menjalani "karantina" di hotel.

Indonesia menjadi tim pertama yang datang di Marakesh. Jadi belum ada kesempatan untuk berkomunikasi dan bersosialiasi dengan para pemain negara lain.

"Itu menjadi PR kami untuk memecah rasa homesick anak-anak," kata Gistang.

Secara keseluruhan, proses adaptasi pemain masih cukup bagus. Pertarungan tim Indonesia dengan 31 negara lainnya bakal bergulir 22-26. Artinya masih ada satu hari utuh untuk melakoni pertandingan-pertandingan dalam festival sepakbola anak-anak itu.

Gistang berpesan agar anak-anak tetap enjoy selama berada di Marrakesh. Toh, ini adalah sebuah apresiasi bagi mereka setelah sukes menjadi juara nasional.

Ayo, Dik, bersenang-senanglah dengan sepakbola di Maroko!



(fem/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads