Mengatasnamakan Tim Nasional Pelajar Indonesia, sebanyak 12 anak di bawah usia 13 tahun ke turnamen Pilipinas Cup di Filipina lewat seleksi di bulan September. Setelah menjadi juara, mereka justru tak bisa pulang.
Pilipinas Cup dihelat di Manila, Filipina pekan lalu. Timnas Pelajar Indonesia yang tampil di kelompok umur U-13 menjadi juara setelah mengalahkan Pagasa FC 2-0 di final, Jumat (30/10/2015) lalu.
Tapi, nasib mereka kini terkatung-katung di Manila karena tak bisa pulang. Penyebabnya, tiket hangus. Hanya saja belum diketahui bagaimana bisa tiket tersebut hangus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, diumumkan proses seleksi dilakukan Event Organizer (EO) Kampiun Indonesia yang dipimpin Gatut Hari Suparjanto bekerja sama dengan Kemenpora. Irfan Taufik menjadi manajernya.
Seleksi langsung digeber di level nasioal, tapa melewati seleksi wilayah.
Berikut kronologis sejak pembentukan tim sampai saat ini:
19-20 September: Seleksi level nasional di Stadion PON Tuanku Tambusai, Bangkinang, Kabupaten Kampar Provinsi Riau.
27-30 Oktober: turnamen Pilipinas Cup di Manila dan menjadi juara
1 November: jadwal pulang timnas ke Jakarta via Kuala Lumpur. Tapi di hari yang sama Gatut Hari Suparjanto dari EO Kampiun mengirim pesan kepada Achmad Yari, orang tua salah satu pemain, kalau tim tak bisa pulang.
4 November: orang tua pemain mencari informasi ke Kemenpora di PP ITKON, Senayan, Jakarta, Rabu (4/11/2015). Kemenpora diwakili oleh Deputi IV Bidang Pembinaan Prestasi Olahraga Kemenpora Djoko Pekik Irianto, Asisten Deputi Sentra Kemenpora Raden Isnanta, staf khusus Kemenpora Khusein Yusuf Sulaiman. Anggota Tim Transisi, Ricky Yakobi, juga hadir.
4 November: Anak-anak dipastikan dalam kondisi baik dan tinggal di kediaman Ibu Nita (orang Indonesia yang berad adi Filipina).
(fem/din)











































