Raut wajah haru yang bercampur dengan keriangan tak terkira dan rasa bangga terlihat dari 12 anak yang baru menjalani penerbangan tiga jam dari Manila itu. Sempat tak bisa pulang, mereka kini sudah berada di tanah air untuk memamerkan trofi juara.
Sekitar pukul 23.55 WIB, pesawat yang membawa rombongan Timnas Pelajar Indonesia U-13 mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Tak lama setelah mendarat, suasana haru penuh bahagia terlihat di Terminal 2D.
Anak-anak yang sudah tertahan di Manila sejak Minggu (1/11/2015) lalu langsung berpencar menemui orang tua dan wali murid yang sudah menunggu di ruang kedatangan terminal 2D. Asisten Deputi bidang Sentra Keolahragaan, Isnanta Raden, yang ikut dalam rombongan penjemput ikut menyaksikan rangkaian kejadian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang anak-anak sebagian sudah pulang ke rumah orang tuanya, sebagian lagi masih menunggu di Taman Mini untuk tiket pulang ke daerah masing-masing," lanjut dia.
Anak-anak tersebut baru saja kembali dari mengikuti Turnamen Pilipinas Cup pada 27-30 November, yang dilangsungkan di Manila. Mereka dapat prestasi tinggi karena menuntaskan turnamen sebagai juara. Namun sikap tidak profesional dari Event Organizer Kampiun Indonesia membuat anak-anak itu tertahan lama di sana.
Usai menjalani laga final di hari Jumat (30/10/2015), tim dijadwalkan kembali ke Indonesia pada hari Minggu. Tapi karena terlambat datang ke bandara tiket mereka hangus. Ketiadaan dana membuat anak-anak itu tertahan di negeri orang.
"Kemarin sempat deg-degan juga waktu tahu tiket hangus. Saya dan teman-teman sedih dan kecewa saat tahu tidak bisa pulang hari itu," curhat salah satu pemain, Achmad Zein Nuralif.
"Kami sampai di bandara itu pukul 19.00 waktu setempat, karena kata Mbak Sandra Dwi Kusuma Dewi (yang mengaku staf Kemenpora Bidang Luar Negeri) pesawat kami itu berangkat pukul 21.00. Tapi ternyata saat melihat tiket aslinya itu pukul 17.00. Makanya tiketnya hangus, dan kami diputuskan untuk kembali ke rumah Ibu Nita (saudara Gatut Hari Suparjanto βDirektur Kampiun Indonesia)," kisahnya lagi.
Selama tertahan di Manila, seluruh tim pelajar Indonesia tetap mendapat perhatian dan fasilitas yang baik.
"Di rumah itu (Ibu Nita) diperhatiin, mbak. Makan minumnya, tempat tidur semua diurusin. Di sana makan rendang ada keripik tempe juga yang dibawa dari Indonesia. Selama di sana ya makanannya diselanng seling dengan telor ayam,β cerita Alif.
"Saya juga rutin telepon bapak, tanya kapan pulang? Kapang pulang? Karena saya sendiri sudah kangen sama keluarga di rumah. Pihak sekolah juga kirim pesan singkat ke saya, " lanjut pemain klub Bromo FC Surabaya ini.
Dikatakan Alif, kejadian yang menimpanya selama sepekan terakhir tak membuatnya kapok. Sebaliknya ia semakin termotivasi untuk terus berlatih. Alif mengaku bercita-cita menjadi pemain timnas seperti Hamka Hamzah, dan pengidola Diego Silva.
"Enggak kapok. Di Surabaya nanti saya akan terus lanjut latihan, tetap semangat, terus berlatih. Kalau ada undangan tanding juga saya tetap mau. Sambil terus juga nimbi ilmu," ucapnya.
Hal yang sama diungkapkan Katon Aji Pangestu. Pemain berposisi center back ini juga mengaku bahagia akhirnya bisa menginjakan kaki lagi di Indonesia. Meski saat di bandara hanya disambut oleh saudara dari orang tuanya, namun ia merasa bangga dengan apa yang ia dan teman-temannya torehkan di Filipina.
"Ya, siapa yang menyangka bakal kejadian seperti itu, mbak. Sekarang pulang kembali ke Indonesia saya sudah senang," ucap pemain asal Palembang ini.
"Tapi saya engga kapoklah cuma karena masalah ini. Saya tetap suka dengan sepakbola dan meneruskan cita-cita saya sebagai pemain sepakbola seperti Hansamu Yama," ungkapnya.
Baik Katon dan Alif sama-sama mengharapkan timnas Indonesia bisa lebih maju lagi. "Ya harapannya semoga sepakbola Indonesia semakin maju dan tidak ada pembekuan PSSI lagi," kata Alif yang mengaku selalu update informasi sepakbola.
(mcy/din)











































