'Kemenpora Kurang Jeli, Tim Transisi Buta Arah'

Setahun Pembekuan PSSI

'Kemenpora Kurang Jeli, Tim Transisi Buta Arah'

Mercy Raya - Sepakbola
Rabu, 06 Apr 2016 16:04 WIB
Kemenpora Kurang Jeli, Tim Transisi Buta Arah
detikSport/Rengga Sancaya
Jakarta -

Kegagalan Kementerian Pemuda dan Olahraga dan tim transisi menciptakan solusi bagi klub dan para pemain dalam masa pembekuan PSSI mendapatkan kritikan. Kemenpora dinilau kurang jeli, sedangkan tim transisi buta arah.

PSSI memang terbukti telah melakukan rentetan kasus yang tak bisa lagi ditoleransi. Di antaranya yang mencolok mata adalah pemain tak digaji, ada dualisme klub dan pengurus provinsi, serta sepakbola gajah.

Kemenpora pun mencoba bertindak tegas dengan membekukan PSSI agar ada reformasi di dalam tubuh induk organisasi sepakbola nasional itu. Tapi teryata, setelah pembekuan Kemenpora malah mati langkah. Tim transisi yang ditunjuk untuk menggodok format kompetisi demi tetap hidupnya klub dan para pemain belum menghasilkan apapun sampai satu tahun berjalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tommy Apriantono, pengamat olahraga, menilai semestinya kemenpora tak melulu berfokus menyiapkan pengganti kompetisi profesional. Tapi, justru berfokus kepada liga amatir dan kelompok umur.

β€œDari segi liga professional cukup terasa, tapi untuk usia dini yang lebih kena itu U-17 dan U-15. Terutama yang Piala Suratin itu tidak ada yang turnamen level nasional. Padahal semestinya ini tugas pemerintah dan tim transisi untuk ambil alih,” kata Tommy dalam perbincangan dengan detikSport, Rabu (6/4/2016).

Toh, sejak awal semestinya Kemenpora dan tim transisi sudah bisa memprediksi bakal ada resistensi dari klub ataupun asosiasi provinsi. Dari pengalaman yang sudah-sudah klub dan asprv bakal tetap setia kepada PSSI apapun yang terjadi. Tumpuan kesalahan dan imbas langsung ada pada pemain.

Tommy menyarankan tim transisi atau pemerintah sebaiknya melakukan pendekatan ke salah satu klub dengan fanbase terbesar seperti Persib Bandung.

β€œSebenarnya kuncinya satu bujuk Persib. Kalau Persib ketarik semua akan ketarik karena bukan apa-apa, lihat rating penonton, hasil rating dan berani live adalah Persib. Yang lainnya tidak ada yang mau nonton. Saya yakin kalau Persib masuk Bali United pasti masuk karena pemiliknya hampir sama-sama juga,” ucap Tommy.

β€œJadi memang bisa dibilang pemerintah saat ini kurang jeli melihat bagaimana setelah pembekuan. Langkah-langkah terstrukturnya seperti apa. Ini kan tidak ada. Seperti tidak ada rencana. Terutama usia dini yang tidak ada. Ngeblank. Tapi untungnya masyarakat di bawah tidak tergantung pemerintah tidak tergantung PSSI. Tetap jalan saja. Cuma tidak ada kelanjutannya ke nasional" pria yang juga dosen ITB tersebut.

Dijelaskan Tommy, membentuk Tim Transisi setelah pembekuan sebenarnya sudah menjadi langkah bagus. Hanya saja tim transisi yang tak membuahkan hasil inilah yang mengganggu kelanjutan niat reformasi sepakbola.
Β 
β€œTim transisi tidak merencanakan usia dini, kelanjutannya seperti apa. Jika memang alasannya karena tidak diberikan peluru atau senjata, kalau saya tinggal balik saja sebetulnya ketika mereka diangkat menjadi Tim Transisi, harusnya mereka minta job deskriptionnya seperti apa,” sesal Tommy.

Baca Juga: Imam Nahrawi: Kompetisi Akan Digelar, Pencabutan Pembekuan Nanti Dulu

β€œOke kalau sudah deal dengan jobnya, menjalankan ini ada tidak anggarannya? untuk berapa lama saya perang. Kan dengan perhitungan. Kalau jelas pekerjaannya mengambil alih PSSI, berarti ada beberapa hal dulu yang difasilitasi pemerintah,” cetusnya.

Tommy mengambil contoh seperti saat pemerintah Australia mengambil alih federasi sepakbolanya. Negaranya mengangkat orang yang powerfull di ekonomi. β€œItu ketuanya mandiri, rekam jejaknya tulus, dan dari fasilitas pemerintahnya menyediakan.

β€œTetapi Indonesia, coba lihat. Perseres Rengat pindah-pindah, dia di riau, pindah Cirebon, lalu ke Kuningan, lalu Majalengka, apakah itu disebut profesional? Lalu Persikad Depok pindah ke Purwakarta. Harusnya dibuat standar lagi, itulah yang harusnya kemarin tim transisi lakukan, kalau memang dikasih anggaran buat kompetisi saja sambil bimbingan," tutur Tommy.

Baca Juga: Begini Rancangan Kompetisi dari Tim Transisi

Tommy pun menyarankan untuk segera melakukan evaluasi selama satu tahun kemarin. Terkait apa yang sudah dikerjakan dan apa saja hambatannya.

β€œPertama evaluasi selama satu tahun ini apa yang sudah dikerjakan dan apa hambatannya. Kedua rencanakan ke depannya. Ya mau tidak mau harus bertemu dengan voters yang ada di sepakbola Indonesia,” ujarnya.

β€œLihat saja PSSI kemarin langsung undang asprov, karena mereka tahun kuncinya di situ. Tim transisi harus menyiapkan ke depan seperti apa, libatkan asprov dan klub, utamanya di akar rumput,” ucap dia.

(mcy/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads