sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 18 Agu 2016 12:51 WIB

Jadi, Figur Seperti Apa yang Tepat untuk Pimpin PSSI?

Amalia Dwi Septi - detikSport
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Persaingan perebutan kursi Ketua Umum PSSI akan dimulai. Sudah saatnya federasi sepakbola Indonesia itu dipimpin oleh sosok yang mampu mengembalikan PSSI ke hakikat sebenarnya.

PSSI akan menggelar Kongres Pemilihan pada 17 Oktober mendatang, dan pendaftaran calon ketum PSSI baru dibuka pada 22 Agustus.

Sejauh ini ada beberapa nama yang dikabarkan akan maju menjadi kandidat Ketum PSSI di antaranya adalah Letjen Edy Rahmayadi. Namanya muncul pertama kali ketika digaungkan oleh Kelompok 85 (K-85) yang diikuti oleh 92 voter.

Namun pada prosesnya, K-85 diisukan mulai terpecah-pecah. Mereka kini ada yang beralih mendukung Erwin Aksa. Pengusaha yang juga politisi dari partai Golkar itu digadang-gadang bakal didorong untuk maju menjadi calon Ketum PSSI.

Selain dia, muncul pula nama Moeldoko dan satu dari kalangan mantan pemain, Kurniawan Dwi Yulianto.

Pengamat sepakbola dan Direktur SOS (Save Our Soccer) Akmal Marhali menilai sosok Ketum PSSI harus memiliki jiwa pemberani dan tegas dalam mereformasi sepakbola Indonesia, sesuai dengan nama PSSI.

"Ketua Umum PSSI harus mempunyai visi reformasi total di sepakbola dan mempunyai wibawa dan integritas. Selain itu, dia juga harus sosok pejuang, bukan pencari uang atau menjadikan sepakbola sebagai kendaraan politik untuk angkat popularitas," ujar Akmal, di Jakarta, Rabu (18/8).

Tak hanya itu, PSSI disebutnya membutuhkan sosok yang pemberani dan mau transparan. Hal itu yang tidak dilakukan oleh pemimpin-pemimpin PSSI sebelumnya dan sangat diharapkan oleh masyarakat Indonesia.

"Berani dan tegas terhadap para pelaku kecurangan atau tindakan-tindakan yang merusak sepakbola, transparan dan akuntabel soal keuangan organisasi.

"Intinya, Ketum PSSI harus memiliki jiwa dari singkatan PSSI (Profesional, Sporty, Sehat, dan Integritas)."

Akmal Marhali (foto: dok. pribadi)

Melihat pengalaman selama lebih dari lima tahun, PSSI selalu dipimpin oleh orang sipil dan hasilnya pun berantakan. Akmal menilai PSSI mungkin membutuhkan sosok yang berbeda dari kalangan militer, asalkan serius membenahi sepakbola negeri ini.

"Tiga periode sepakbola kita dipegang sipil (NH, DAH, LNM) dan berantakan. Sepakbola kita sepertinya masih harus dipimpin sosok militer yg berwibawa, disegani, dan bisa menyatukan dari Sabang sampai Marauke. Asalkan tidak membawa kepentingan kelompok tertentu."

"Edy bagus. Tapi, dia harus berani membuang para benalu yang ada di K-85 yang selama ini menjadi sumber 'penyakit' di sepakbola kita. Moeldoko juga bagus. Tapi, menurut saya tak elok kalau kongres PSSI akan terjadi perang bintang. Tidak bagus buat demokrasi kedepannya bahkan bisa jadi blunder. Harus ada yang mengalah demi kebaikan.

"Tapi, SOS tidak dalam posisi mendukung seorang calon. SOS mempersilakan siapa saja yang mau maju PSSI-1, asalkan benar-benar memiliki visi perubahan dan reformasi tata kelola sepakbola Indonesia. SOS ada dalam posisi mengkritisi siapa saja yg akan memimpin PSSI. Apalagi jika melenceng dari amanat stakeholder sepakbola, SOS akan terdepan memberikan peringatan dan perlawanan."

Namun demikian, Akmal berharap siapapun Ketum PSSI nantinya harus memiliki jiwa NABI (Netral, Aktif, Berani dan Integritas).

"Yang pertama dia harus netral, artinya tidak punya kepentingan bisnis atau politik kelompok tertentu. Yang kedua ketum PSSI harus aktif, yaitu mau melihat, mendengar, dan mencarikan solusi masalah sepakbola Indonesia.

"Lalu dia harus berani, artinya berani menindak tegas para pelanggar dan perusak sepakbola Indonesia tanpa tebang pilih dan integritas yaitu punya moralitas dan kewibawaan serta tak mudah goyah pendirian terhadap sejumlah tekanan dari pihak-pihak yang ingin memanfaatkan sepakbola sebagai bisnis dan politik kelompok," simpul Akmal.

(ads/a2s)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com