Wanderley belum lama ini membuat kejutan dengan mengantarkan Persipura Jayapura menang 6-0 atas Mitra Kukar. Padahal itu merupakan pertandingan pertamanya sejak diangkat jadi pelatih tim Mutiara Hitam pada 19 Juni lalu menggantikan Liestiadi.
Nama pria asal Brasil itu mungkin terbilang cukup asing untuk sebagian besar pecinta sepakbola Indonesia. Akan tetapi Wanderley sebetulnya sudah banyak makan asam garam di sepakbola tanah air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang bawa saya ke Indonesia Jacksen di tahun 2003. Dia tidak cuma bawa saya, tapi masih banyak lagi. Kami datang dengan harapan belajar," kata Wanderley saat bincang-bincang dengan detikSport dan beberapa media lain.
"Tapi kalau saya datang dengan harapan untuk jadi pelatih juga, karena ketika datang saya sudah jadi pelatih. Saya belajar bahasa Indonesia waktu di Madura karena penting untuk bisa komunikasi."
"Beruntung banyak yang bantu saya. Ketika itu setiap malam mereka bicara dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggirs, saya dengar lalu tulis. Hasilnya pun cepat," imbuhnya.
Setelah pensiun, Wenderley pun melanjutkan karier sebagai pelatih klub Indonesia. Persela Lamongan U-23 jadi tim pertama yang dia tangani dan sukses memenangi Piala Gubernur pada 2007.
Selepas dari kota Lamongan, pria yang juga menguasai bahas Prancis, Thailand, Inggris, Spanyol, dan Italia itu lanjut melatih PSMS Medan U-21 pada 2008. Di tahun selanjutnya dia beralih ke Yogyakarta dengan membesut Pro Duta dan membawa hampir seluruh pemain di Medan.
Karier kepelatihan Wanderley di tim senior baru terjadi pada 2012. Dia saat itu didapuk sebagai pelatih kepala Persibo untuk berlaga di ajang Indonesia Premier League (IPL). Sebelumnya, dia menyandang sebagai status asisten pelatih Paulo Camargo di klub tersebut pada 2011.
Nama-nama pemain seperti Mekan Nasirov, Syahroni, Nur Iskandar sampai Syamsul Arif ketika itu jadi pemain asuhannya. Dia berhasil merebut Piala Indonesia setelah mengalahkan Semen Padang di laga final.
Setelah melatih Persibo, Wenderley pun melanjutkan karier kepelatihannya di Thailand dan Malaysia dari tahun 2012 sampai 2013, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia bersama Perseman Manokwari pada musim 2014/2015.
Di tahun 2016, Wanderley kembali ke Thailand untuk menjadi asisten pelatih Stefano Cugurra Teco di Royal Navy. Lalu lanjut ke Malaysia untuk jadi pelatih kepala di klub Kuala Lumpur FC pada 2017, hingga kini mendarat lagi di Indonesia untuk melatih Persipura.
"Saya sudah di Indonesia sekitar 12 tahun, jadi tahu betul bagaimana suasana dan karakter sepakbola di sini. Saya sudah banyak kerja seperti di Bojonegoro, Lamongan, dan banyak lagi. Sebagai pelatih dan asisten pelatih juga," lanjut pria yang main sebagai gelandang saat masih jadi pemain.
"Saya rindu kondisi yang dulu saat tidak banyak aturan soal sepakbola, tidak selalu cari pemain terbaik. Dulu ada seleksi dan pemain datang, klub lihat, jika mereka suka boleh ambil."
"Sekarang peraturannya berdasarkan level. Contoh, Anda ambil pemain dari level A Eropa, terus di sini mungkin tidak jalan sesuai harapan, tapi dia tetap level A atau lebih bagus. Jadi, jangan pikir tentang level pemain. Lebih baik lihat soal kualitas pemain, itu lebih bagus dan permainan akan mencair."
Pada Sabtu (8/7/2017) malam WIB, Persipura akan menjalani laga tandang melawan Persija Jakarta di Stadion Patriot di lanjutan Liga 1. Pertandingan ini pun akan jadi ajang reuni pria 52 tahun itu dengan Teco, kawan lamanya.
"Ini bukan cuma duel Brasil vs Brasil, tapi sahabat vs sahabat. Kita sudah saling kerjasama sejak di Brasil dan di Thailand. Jadi kita dulu juga sangat dekat waktu dia di Persebaya. Tapi, sekarang tim kita beda," ujar pria yang juga biasa disapa Peo.
"Saya sedih waktu orang ramai-ramai minta dia dipecat. Dia datang dengan harapan menjadikan klub sukses. Lagi pula mana ada orang mau kerja gagal, semua mau sukses. Tapi selanjutnya dia bisa bangkit. Jadi, itu yang positif dari Persija dari pekerjaan Teco, kita harus hormat," tutupnya. (raw/raw)











































