DetikSepakbola
Selasa 25 September 2018, 19:07 WIB

Ada Suporter Dikeroyok dan Tewas, Menpora: Pertandingan Kok Jalan Terus?

Mercy Raya - detikSport
Ada Suporter Dikeroyok dan Tewas, Menpora: Pertandingan Kok Jalan Terus? Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/wsj/18.
Jakarta - Menpora menyesalkan sikap panitia pelaksana Persib Bandung yang membiarkan pertandingan terus berjalan, meskipun sudah jatuh korban. Sebuah tragedi kemanusiaan.

Untuk kesekian kali, seorang suporter sepakbola tewas dikeroyok oknum suporter. Adalah suporter Persija Jakarta, Haringga Sirila, yang meninggal usai dikeroyok bobotoh dengan amat keji di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Minggu (23/9/2018) menjelang pertandingan dimulai.

Haringga diketahui mulai dikeroyok sekitar pukul 13.00 WIB atau 2,5 jam sebelum pertandingan antara Persib dan Persija dalam lanjutan Liga 1 2018 digelar. Dia dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Kepalanya terluka parah.

Dalam prosesnya, pertandingan tetap dilaksanakan. Kematian pemuda 23 tahun ini baru diketahui publik setelah laga usai.




Imam menyesalkan rangkaian proses itu. Dia juga kecewa berat atas keputusan panpel yang tetap menggelar pertandingan usai insiden. Persib menang atas Macan Kemayoran dengan skor 3-2.

"Itu yang membuat saya kecewa. Mestinya kalau ada (kejadian) itu hentikan tak boleh dilanjutkan pertandingan," kata Imam dalam jumpa pers di Kantor Kemenpora, Senayan, Selasa (25/9/2018).

Atas kejadian itu, Imam memutuskan untuk menghentikan liga selama dua pekan. Dia juga meminta PSSI untuk segera menyelesaikan sesuai hukum di FIFA dan organisasi turunannya. Apalagi, tewasnya suporter di liga Indonesia berulang.

"Saya jadi orang tua. Saya merasakan bagaimana jadi orang tua yang punya anak-anak. Saya tak mau main-main soal itu," dia menegaskan.

"Cukup waktu dua pekan. Kami akan lihat tentu saya harap ini momentum untuk menjadikan introspeksi nasional," ujar dia.




Menteri asal Bangkalan ini juga menyatakan sudah menyiapkan terobosan atau upaya jika dalam dua pekan tak ada hasil yang signifikan kendati dia tak menjelaskan secara gamblang.

"Kita lihat dua pekan pasti saya sampaikan," ujar dia.

"Termasuk moratium? Kita lihat setengah bulan ini. Jika konsepnya bagus kami siap men-support dan mengawal dengan konsekuen. Jika biasa-biasa berarti menganggap nyawa itu biasa. Tapi kalau ada sanksi luar biasa, sanksi tegas tak pandang bulu. Tapi kalau biasa ya berarti tak ada keinginan berubah," kata Imam


(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed