sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 18 Okt 2018 09:41 WIB

Timnas U-19 Menuju Piala Asia dengan Gaya Main Itu-itu Saja

Randy Prasatya - detikSport
Timnas Indonesia U-19 dianggap tak berkembang gaya mainnya (Rifkianto Nugroho/detikSport) Timnas Indonesia U-19 dianggap tak berkembang gaya mainnya (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Jakarta - Timnas Indonesia bakal tampil di Piala Asia 2018. Gaya main tim besutan Indra Sjafri tampak akan sama seperti saat gagal di tahun 2014.

Piala Asia U-19 bakal mulai bergulir besok (18/10/2018) malam WIB. Indonesia yang menjadi tuan rumahnya masuk ke Grup A bersama Taiwan, Qatar, dan Uni Emirates Arab.

Persiapan Indonesia di ajang ini terbilang tidak bagus. Dari empat uji coba terakhir, Indonesia cuma mendapat satu kemenangan, yang ketikat itu diraih melawan Yordania.

Satu laga imbang didapat saat melawan Thailand, sementara dua kekalahan datang dari tim China dan Arab Saudi. Total Indonesia kebobolan delapan gol dan mencetak enam gol.






Ada satu masalah yang menjadi sorotan dari tim besutan Indra Sjafri sejauh ini, yakni gaya bermain yang relatif monoton. Dengan 4-3-3 dan 4-2-3-1 di empat laga uji coba terakhir, Indonesia selalu bermain umpan panjang dari lini belakang ke tengah. Dari tengah nantinya pemain akan berupaya memainkan umpan-umpan pendek nan cepat.

Tak hanya itu. Indonesia juga biasa bermain dengan memanfaatkan lebar lapang. memanfaatkan lebar lapangan. Witan Sulaiman (di kiri) dan Saddil Ramdani (di kanan) akan selalu melakukan tusukan ke sisi tengah dan melakukan tembakan atau mengoper ke striker. Jika hal tersebut buntu, para pemain di tim ini bakal melepas tembakan dari luar kotak.

Untuk tembakan jarak jauh memang punya hasil bagus di laga uji coba terakhir melawan Yordania. Bek kanan Firza Andika melesakkan dua gol dari luar kotak penalti untuk membawa Indonesia menang 3-2.

Cara itu dilakukan lantaran buntunya upaya untuk menembus kotak penalti lawan. Terlebih lini serang Indonesia bisa dikatakan buruk dalam penyelesaian akhir.

Tanda-tanda Indonesia tidak akan mengubah gaya main juga terlihat dalam latihan pada Rabu (17/10/2018) sore WIB. Mereka selalu melatih umpan panjang, tembakan dari luar kotak penalti, dan simulasi permainan dengan memanfaatkan lebar lapangan.






Gaya main Timnas U-19 seperti itu sebetulnya sudah biasa dilihat sejak Indra membesut tim di era Evan Dimas. Ilham Udin Armaiyn dan Maldini Pali adalah dua pemain yang bergerak di sisi lapangan, sementara Evan menjadi pengatur ritme kecepatan permainan di lini tengah bersama Muhammad Hargianto.

"Kalau kami mau mengakali penyelesaian akhir dan lawan main bertahan total, kami harus main melebar dan melepaskan tembakan jarak jauh," kata Indra saat ditanya gol dari luar kotak penalti.

"Saya apresiasi pemain kami. Mereka sulit masuk lewat striker dan akhirnya lakukan tembakan dari jarak jauh," sambungnya.

Gaya bermain Indra seperti itu memang sudah menghasilkan gelar juara Piala AFF pada 2013, namun hancur lebur di Piala Asia U-19 2014. Tak ada kemenangan yang didapat dari tiga laga dan cuma mencetak dua gol dengan kebobolan delapan kali.

Satu dari dua gol tersebut lahir lewat tembakan dari luar kotak penalti. Ketika itu, Paulo Sitanggang melesakkannya ke gawang Uzbekistan. Sementara gol lainnya dicetak oleh Dimas Drajat ke gawang UEA setelah memanfaatkan umpan through pass Evan Dimas.






Belajarlah dari Kegagalan Lawan Malaysia

Kecemasan atas permainan Timnas U-19 yang itu-itu saja tentu sudah terlihat dari kegagalan di Piala AFF U-19 pada Juli lalu. Indonesia tunduk dari Malaysia di semifinal dalam adu penalti setelah berimbang 1-1 di waktu normal.

Pelatih Malaysia, Bojan Hodak, bahkan menjelaskan kunci keberhasilan timnya. Menurut pria berkepala plontos kala itu, hasil manis didapat lantaran mematikan peran Saddil Ramdani dan Egy Maulana Vikri yang bergerak di sisi lapangan dan mematikan Todd Rivaldo Ferre.

"Saya ingat saat bertanding di Korea (kualifikasi Piala Asia U-19 2018, pada November 2017), tim kami memperhatikan secara detail kelemahan mereka satu per satu," ujar Bojan Hodak kala itu.

"Nomer 15 (Saddil) dominan kaki kiri, dia selalu berbelok arah ke kiri, dia sangat berbahaya, memiliki shot keras, saya instruksikan pemain untuk memblok tiap kali dia melakukan shot. Hasilnya, para pemain saya berhasil menerapkan instruksi dengan baik. Lalu nomer 24 (Todd Rivaldo), saya tahu dia berbahaya ketika dalam situasi one-on-one. Saat dia masuk ke lapangan, saya minta pemain untuk kawal dia ketat," jelasnya melanjutkan.

"Nomor 10 (Egy), saya diberi tahu dia baru pulang dari Eropa. Di Polandia cuacanya sangat berbeda, dia sudah adaptasi di sana, tapi langsung bermain di cuaca yang panas, sangat lembab, maka dari itu saya sudah menduga dia tidak akan bermain sempurna," kata Bojan.






Tonton juga 'AFC U-19 Sebentar Lagi, Timnas Indonesia Masih Banyak PR':

[Gambas:Video 20detik]

(ran/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com