Jelang Babak 8 Besar Liga Djarum
2000 Personel Polisi Diturunkan
Rabu, 14 Sep 2005 02:13 WIB
Jakarta - Guna menjaga keamanan pelaksanaan babak 8 besar divisi utama Liga Djarum Indonesia 2005 Grup C di Jakarta, panitia pelaksana mengerahkan sekitar 3 batalion atau sekitar 20 Satuan Setingkat Kompi (SSK) 2000 personel kepolisian. Pada 16-21 September di Gelora Bung Karno Senayan bakal menjadi fokus utama pengamanan para personel tersebut. Di samping jumlah 20 SSK itu, ratusan aparat keamanan dari TNI serta bantuan polisi (banpol) dari Pemda DKI Jaya juga ikut terlibat untuk keamanan babak 8 besar ini."Selama berlangsungnya babak 8 besar ini yang kita utamakan adalah kenyamanan bagi tim-tim peserta, baik saat latihan, berada di hotelnya masing-masing, atau ketika tengah bertanding," ujar Anggoro, ketua umum Persija Pusat kepada wartawan di sekretariat Persija, Stadion Menteng, Selasa (13/9/2005). Alhasil, kini bersama ketua panpel Binner Tobing dan wakil ketua panpel Rofait Ismail, Anggoro mengungkapkan kalau selama beberapa hari terakhir ini pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Kapuskodal (kepala pusat komando dan pengandalian) Polda Metro Jaya."Tadi malam kami juga rapat masalah pengamanan itu bersama Pak Andi Darussalam Tabusala dari Badan Liga Indoneisa (BLI), Ashar Suryobroto dari komisi keamanan PSSI dan teman-teman dari Kapuskodal tersebut. Rabu sore nanti giliran rapat koordinasi di Puskodal Polda Metro Jaya," tambah Anggoro, perwira menengah TNI AU itu.Pengamanan oleh personel kepolisian dan aparat keamanan lainnya akan dilakukan secara intensif baik sejak tim-tim tamu tiba di Jakarta, memasuki hotelnya masing-masing, serta saat latihan dan ketika menuju dan balik dari stadion. "Memang pada setiap tim itu ada aparat TNI, tetapi yang lebih banyak jumlahnya adalah petugas kepolisian," tambahnya.Sangat dimaklumi jika panitia mengerahkan jumlah besar personel untuk pengamanan. Penyelenggaraan babak empat besar divisi utama liga Djarum Indonesia 2005 untuk grup Jakarta memang menumbuhkan kekhawatiran tersendiri dikarenakan yang tampil adalah empat tim yang memiliki kelompok supporter fanatik, yakni tuan rumah Persija, Persebaya Surabaya, PSIS Semarang dan PSM Makassar.Menurut keterangan yang diperoleh, kubu Persebaya baru akan tiba besok dan bermarkas di Hotel Maharadja, di kawasan Mampang. Tim PSIS, yang selama sepekan terakhir sudah berlatih di Sawangan, Bogor, Rabu ini sudah bermarkas di Hotel Santika, Petamburan. Sedangkan tim Juku Eja PSM Makassar bermarkas di Hotel Oasis Amir di kawasan Senen, Jakarta Pusat.Dari keterangan Rifait Ismail, tim Persebaya Surabaya kemungkinan besar didukung oleh sekitar 10.000 suporter fanatisnya dari kalangan bonek, sedangkan PSIS dan PSM sekitar 5000-an. Dari kubu Persija sendiri, "Pak Sutiyoso selaku pembina Persija menginginkan adanya sebanyak mungkin pendukung Jakmania yang datang menyaksikan pertandingan timnya ini. Untuk itu, kami mengharapkan pak Sutiyoso memberikan subsidi agar seluruh Jakmania itu bisa menyaksikan pertandingan ini dengan tetap membayar," kata Anggoro.Rifait Ismail memperkirakan akan adanya sekitar 10.000 hingga 15.000 suporter Jakmania yang memberikan dukungan. Namun demikian, pihak panpel hanya mengalokasikan tiket sebanyak 10.000 lembar untuk mereka, sedangkan untuk kalangan suporter Persebaya, PSIS dan PSM jumlah tiket yang dialokasikan masing-masing adalah 3000 lembar.Dengan demikian, dari sebanyak 50.000 lembar tiket yang dicetak, sekitar 19 ribu tiket dialokasikan untuk empat kelompok suporter dengan harga perlembarnya Rp 20 ribu. "Kami akan melakukan penjagaan ketat sejak sehingga tidak ada suporter yang masuk tanpa membayar tiket," tegas Rifait.Rifait Ismail meyakinkan bahwa di dalam stadion tidak akan terjadi benturan antar kelompok suporter, sebab tempat duduk mereka dipisahkan. "Jakmania kami tempatkan secara khusus di pintu tiga sampai 10," katanya. Pada setiap blok kelompok suporter itu akan ditugaskan sejumlah petugas keamanan, baik dari polisi atau tentara. "Mereka ini juga yang akan menggiring setiap kelompok suporetr itu keluar stadion begitu pertandingan selesai."Kendati demikian, baik Anggoro, Binner Tobing atau Rifait Ismail sama-sama tidak berani menjamin akan tidak adanya bentrokan atau benturan di antara kelompok suporter tersebut ketika berada di luar stadion. "Itu sudah tidak menjadi tanggung-jawab panpel," ujar Anggoro.Dengan pelaksaan seperti ini setidaknya sudah berbuat sebisa mungkin dengan tetap menerima kehadiran kelompok suporter yang secara tradisi memang tidak saling berhubungan baik itu, terutama Jakmania dengan bonek."Selama ini Jakmania tidak bisa diterima di mana-mana, termasuk Surabaya, kita ingin menghapus citra itu," tandasnya. (erk/)











































