sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 26 Mar 2019 18:14 WIB

Jadi Ketum PSSI Enggak Bisa Disambi, Gusti Randa Tak Minat

Mercy Raya - detikSport
Gusti Randa tak mau mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI. (Rengga Sancaya/detikSport) Gusti Randa tak mau mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI. (Rengga Sancaya/detikSport)
Jakarta - Anggota Komite Eksekutif PSSI, Gusti Randa, menolak mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI. Dia bilang jabatan itu tak bisa dilakukan setengah-setengah.

PSSI menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) pada Agustus 2019. Kongres tersebut untuk mencari ketua umum dan wakil ketua umum definitif menyusul pengunduran diri Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI pada kongres sebelumnya.

Sejauh ini, beberapa nama muncul atau dimunculkan, baik oleh publik atau justru percaya diri menyebut nama sendiri. Di antaranya dari Erick Thohir, Khrisna Mukti, Muhaimin Iskandar, hingga Basuki Tjahjaja Purnama atau Ahok.

Gusti sempat disebut-sebut berharap menjadi orang nomor satu di PSSI. Tapi, saat dikonfirmasi, mantan pesinetron itu menolak untuk meramaikan bursa calon ketua umum PSSI.


"Enggak (mau ikut). Ketum PSSI ini kursi panas. Saya tahu persis ketika ditunjuk sebagai ketua pelaksana harian. Ketum itu tak bisa disambi. Kerja 36 per hari padahal 24 jam. Harus siap punya duit karena federasi ini memang butuh duit banyak," kata Gusti saat berbincang-bincang dengan detikSport di ruang kerjanya lantai 14 FX Sudirman, Selasa (26/3/2019).

"Jadi, salah kalau dibilang federasi ini hidup dari APBN. Saya sangat sakit hati banget. Banyak yang bilang, ngapain ikut kalau menghabiskan duit negara? Ini masyarakat ini mengerti atau belaga tak mengerti. Anggaran itu ada kalau ada multievent. Sama saja PSSI dengan yang lain," ujar dia.

"Tapi kalau AFF, AFC, senior darimana duitnya? Bukan anggaran pemerintah. Tapi, dari PSSI. Jadi, ketum PSSI sudah siap-siap itu membakar duitnya, nanti dikembalikan jika PSSI mendapatkan sponsor," dia menjelaskan.

Gusti tak menampik jika posisi ketum PSSI favorit lantaran siapapun yang menjadi ketua umum PSSI bakal menjadi sosok yang paling dicari media. Selain itu, dia dipastikan memimpin organisasi dengan asosiasi provinsi yang komplet seperti jumlah provinsi di Indonesia.

"Kalau saya masuk media sudah bosan. Bagi saya, masuk media bukan kebanggaan. Tapi, ada sebagian masyarakat masuk media adalah kebanggaan. Lalu jadi ketum PSSI lebih prestisius. Tapi, bagi saya ketum PSSI tak bisa disambi. Kalau Timnas menang siap-siap buat bonus, tim kalah siap-siap dicaci maki," ujar dia.

"Saya kalau bisa tak berurusan lagi dengan sepakbola. Karena banyak orang merasa kapabel. Saya ingin sekali waktu saya menjadi mereka, mereka menjadi saya," kata Gusti ketika ditanya kemungkinan mencalonkan diri komite eksekutif.


PSSI memang tengah mengalami krisi kepemimpinan sejak ditinggalkan Edy Rahmayadi pada 20 Januari. Dia mundur dalam pembukaan Kongres PSSI.

Dalam prosesnya, jabatan itu dijalankan oleh pelaksana tugas (plt) ketua umum Joko Driyono. Saat ini, Jokdri ditahan oleh Satgas Anti Mafia Bola dengan jeratan pasal perusakan barang bukti dugaan pengaturan skor sepakbola nasional. Sebelum ditahan Jokdri menyerahkan pelaksanaan tugas harian kepada Gusti, meskipun tidak menyerahkan posisinya sekaligus.

(mcy/iah)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed