sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 19 Apr 2019 16:13 WIB

PSSI Dulunya Terhormat, Kini Murahan

Randy Prasatya - detikSport
PSSI dalam acara Kongres Tahunan di Bali, Januari 2019. (Foto: Randy Prasatya/detikSport) PSSI dalam acara Kongres Tahunan di Bali, Januari 2019. (Foto: Randy Prasatya/detikSport)
Jakarta - PSSI adalah organisasi yang lahir di masa kolonial. Kini, organisasi sepakbola itu sudah hilang wibawa, bahkan cenderung murahan.

Hari ini, tepat 89 tahun berdirinya PSSI. PSSI didirikan pada 19 April 1930 oleh Soeratin Sosrosoegondo sebagai alat menentang penjajahan Belanda. Lewat sepakbola mereka berhasil membubarkan NIVU selaku federasi sepakbola Hindia-Belanda.

Tapi, citra PSSI ini sudah semakin rusak sejak lebih dari satu dekade terakhir. Nurdin Halid memimpin dari dalam penjara akibat kasus gula import ilegal, berlanjut beberapa bulan terakhir dengan ditangkapnya Plt Ketua Umum, Joko Driyono, dan beberapa anggota PSSI lainnya. Penangkapan itu tak lepas dari isu pengaturan skor.

Bagi jurnalis olahraga senior, Budiarto Shambazy, PSSI saat ini harusnya bisa menjaga kehormatannya selaku organisasi perjuangan di masa kolonial.


Satgas Antimafia Bola Polri akan menyerahkan 6 tersangka kasus pengaturan skor ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Satgas Antimafia Bola Polri akan menyerahkan 6 tersangka kasus pengaturan skor ke Kejaksaan Agung. (Foto: Pradita Utama)


"PSSI itu salah satu organisasi perjuangan. Salah satu yang masuk kategori itu, sebelum Indonesia merdeka," kata Shambazy dalam bincang-bincangnya dengan detikSport lewat sambungan telepon.

"Sama derajatnya seperti Budi Utomo, Muhammadiyah, NU, dan PNI, jadi levelnya tidak main-main. Organisasi yang lahir sebelum merdeka itu kan berjuang untuk persamaan hak karena orang-orang yang bukan bule tidak boleh nonton sepakbola di stadion waktu itu," sambungnya.

"Dengan posisi sosial atau politik seperti ini, mestinya PSSI itu lebih memperlakukan diri secara terhormat, punya wibawa. Kenyataannya sudah tidak kalau lihat perkembangan terakhir."

"Kongkretnya jangan sampai ricuh, lalu ketum mundur begitu saja. Plt ketum jadi tersangka, anggotanya juga jadi tersangka, skandal pengaturan skor terjadi di mana-mana, dan sampai ada Satgas Anti Mafia Bola. Jadi seperti organisasi murahan, mengorbankan citra Indonesia," keluh pria yang kini masih terus mengamati perkembangan sepakbola Indonesia.


Sepakbola Indonesia tak bisa bicara banyak di level internasional. Pencapaian terbaik sepakbola Indonesia cuma medali emas SEA Games pada 1987 dan 1991, meski banyak capaian-capaian oke di kelompok umur.

"Kita jadi tidak bangga punya organisasi sepakbola yang diharap bisa buat bendera Indonesia berkibar di internasional. Tidak ada prestasi, yang ada KLB terus dan ribut terus. Lebih parah dengan adanya penangkapan-penangkapan. Poin saya itu, hilang wibawa, padahal organisasi yang berjuang jauh sebelum kemerdekaan," tegasnya.


(ran/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com