sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 18 Okt 2019 16:44 WIB

Teja Paku Alam Blak-blakan Alasan Pulang Kampung, Hendro Kartiko, dan Gonzales

Randy Prasatya - detikSport
Teja Paku Alam, kiper Semen Padang  (Agung Pambudhy/detikSport) Teja Paku Alam, kiper Semen Padang (Agung Pambudhy/detikSport)

Berikut petikan wawancara detikSport dengan Teja:

detikSport (d): Selamat ya atas kemenangan Semen Padang atas Perisja. Apa yang bikin Semen Padang bisa bangkit lawan Persija?

Teja Paku Alam (T): Babak pertama kami ditekan terus, tidak dikasih kesempatan buat kontrol permainan. Hasilnya tertinggal di jeda. Di babak kedua pelatih seperti kasih isyarat mau kalah berapa saja harus tetap semangat. Dia (pelatih) bilang kepala harus terus tegap. Kami akhirnya main habis-habisan dan menang.

d: Di Sriwijaya FC musim lalu juga merasakan zona degradasi, tapi akhirnya gagal keluar. Apa yang Teja ambil dari pengalaman itu dan di bawa ke situasi sekarang?

T: Yang membedakan mungkin sekarang main untuk keluarga. Kalau memikirkan tim, saat tim ada di bawah pasti agak down. Kalau mikir main buat keluarga, saya ada keluarga, otomatis lebih termotivasi buat bantu tim.

d: Apa yang bikin Teja memilih Semen Padang?

T: Faktor keluarga juga. Waktu itu orang tua (bapak) sakit, meski ada beberapa tawaran pada akhirnya saya memilih Semen Padang. Saya tidak mau juga kepikiran ketika bapak sakit harus bolak-balik (ke luar kota). Pikiran saya bisa saja terganggu.

d: Apakah bapak yang meminta langsung agar Teja bergabung dengan Semen Padang?

T: Ini (Semen Padang) juga keputusan bapak. Saya tanya waktu itu bagaimana kalau main di Semen Padang. Dia bilang kalau mau main di Padang ada syaratnya. Pertama, harus kuliah dan jangan tinggal di rumah. Kebetulan saya ada rumah di Padang dan bapak suruh saya tinggal di mess.

d: Kuliah sudah selesai dan di mana kampusnya?

T: Insya Allah, Januari nanti, selesai kuliah di STIA Padang, fakultas hukum.

d: Kalau tidak salah bapak seorang polisi, ada niat ikut menjadi polisi kalau ada kesempatan?

T: Fokus sarjana dulu. Saya lebih senangnya jadi pengusaha saja. Almarhum (bapak) selalu pesan yang penting bahagia, pasti bakal didukung.

d: Padahal kalau jadi polisi masa depan lebih jelas. Sepakbola belum bisa jadi jaminan masa depan. Kenapa tetap berani pilih sepakbola?

T: Kalau bapak saya bilang, pintar-pintarlah simpan uang. Jadi, acuannya pemain yang dulu-dulu kebanyakan kasihan sekarang. Bapak juga bilang jangan takut kasih uang ke orang tua karena uang itu tidak akan dipakai, orang tua juga ada gaji sendiri.


Teja Paku Alam Blak-blakan Alasan Pulang Kampung, Hendro Kartiko, dan Gonzales Foto: Agung Pambudhy


d: Bagaimana awal mula Teja terjun ke sepakbola?

T: Saya dulu karate. Semua keluarga itu karate dan saya sudah sampai sabuk cokelat. Kakak juga ngajar karate. Tidak tahu juga kenapa. Mungkin karena saya dulu main bola sembilan tahun terus berhenti pas SMP karena fokus sekolah.

Terus ada teman yang ajak seleksi PPLP 4 Sumbar. Saya diajak, kami bertiga dari kampung, itu tahun 2009. Saya itu tidak tahu apa itu PPLP, jadi cuma ikut-ikutan saja. Soalnya, katanya di sana disekolahin, dikasih gaji, dan lainnya. Ya, saya tertarik. Nah, teman saya yang dua itu malah tidak lolos, yang lolos saya sendiri. Padahal, saya awalnya cuma ikut-ikutan saja.

d: Memang di awal sudah pilih menjadi kiper?

T: Dulu ada kompetisi antar SD, saya striker. Terus kiper saya tidak ada, saya yang disuruh kiper. Di situ saya terpantau dan tampil wakilin kabupaten, tapi ya tadi itu di SMP berhenti main bola dan fokus sekolah dan karate. Pas SMA saya main bola lagi setelah lolos PPLP.

d: Keluarga ada yang karier di sepakbola?

T: Keluarga semua IPDN. Saya juga sudah disuruh, tapi tidak dari hati. Saya juga hampir masuk tentara, sudah mau berangkat ke PK 23 (Ambalat--sebutan Bintara Milsuk dan Bintara PK di TNI AD), angkatan di bawah Abduh (Lestaluhu) dan Manahati Lestusen. Pagi, saya sudah pegang tiket dari pusat untuk berangkat. Saya bilang ke bapak kalau ini tidak dari hati dan bapak bilang kalau tidak dari hati tidak usah. Padahal, saya ikut dari tes awal.

d: Bapak padahal seorang polisi, kalau dengar cerita sejauh ini, dia berarti bukan tipe yang keras sama anak, ya?

T: Keluarga kami disiplin. Bapak tidak keras, tapi kami takut. Jadi jam 9 malam itu sudah tidak ada yang keluar rumah. Padahal bapak tidak pernah marah-marah. Mungkin faktor wibawanya.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com