sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 13 Mar 2020 14:20 WIB

Kapten Kaya FC Luruskan Cap Timnas Filipina Bagus Karena Naturalisasi

Muhammad Robbani - detikSport
Kapten Kaya FC Iloilo, Marwin Angeles. Kaptan Kaya FC, Marwin Angeles, salah satu pemain blasteran di Filipina. (Foto: detikcom/Rengga Sancaya)
Jakarta -

Kapten Kaya FC Iloilo Marwin Angeles meluruskan cap 'Timnas Naturalisasi' yang kerap dialamatkan untuk Filipina. Label itu mulai melekat sejak akhir era 2000-an.

Timnas Indonesia pun cuma menang 2-0 secara agregat atas Timnas Filipina dalam dua leg semifinal Piala AFF 2010. Padahal The Azkals kerap menjadi bulan-bulanan di level Asia Tenggara.

Bahkan Timnas Indonesia pernah menang dengan skor 13-1 atas Filipina. Itu terjadi di Piala Tiger (nama lama Piala AFF) 2002.

Pada Piala AFF 2010, pemain-pemain berwajah bule mulai menghiasi Timnas Filipina. Seperti Younghusband bersaudara, James dan Phil, hingga Neil Etheridge.

Nama terakhir di atas bisa dibilang pemain keturunan Filipina paling sukses. Kiper kelahiran 1990 itu berkesempatan main di Liga Primer Inggris 2018/19 karena klubnya Cardiff City promosi dari Championship 2017-18.

Selain Etheridge, kini mulai menyusul nama-nama berpengalaman lainnya seperti Stephan Schrock. Pemain berdarah Jerman-Filipina itu pernah bermain di 1899 Hoffenheim dan Eintracht Frankfurt.

Kini dia memilih berkarier bersama Ceres Negros sejak 2017 dan nyaman bermain di sana bermain pemain-pemain lainnya. Schrock juga masih aktif bermain untuk Timnas Filipina hingga saat ini.

Perlahan tapi pasti, Timnas Filipina pun mulai bisa bicara banyak. Mereka pun lolos ke Piala Asia 2019 dan dilatih Sven-Goran Eriksson.

Kondisi itu membuat Timnas Filipina mendapat cibiran. Entah iri, prestasi mereka kerap disebut instan karena mengandalkan pemain keturunan.

Padahal Filipina punya kebijakan dual citizenship. Artinya pemain-pemain keturunan mereka tetap punya paspor Filipina plus negara mereka sebelumnya.

Ini berbeda dengan Indonesia yang tak menganut kebijakan itu. Pemain keturunan harus mengorbankan paspor sebelumnya jika ingin mendapatkan status Warga Negara Indonesia (WNI)

"Sampai sekarang saya masih punya paspor Italia dan tentu juga Filipina. Kami juga ingin bermain di level timnas," kata Marwin Angeles kepada detikSport.

"Ini mimpi buat semua pemain bisa memperkuat timnas asal orang tua kalian. Jadi tak ada yang salah dengan keputusan kami datang ke Filipina," ujarnya menambahkan.

detikSport juga pernah berbincang dengan Stephan Schrock tentang isu ini. Dia tak suka disebut sebagai pemain naturalisasi.

Pemain berusia 33 tahun bahkan murka dengan ucapan Bima Sakti yang menyebut Timnas Filipina dipenuhi pemain naturalisasi. Saat itu Bima Sakti menjabat pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2018.

[Gambas:Instagram]

"Panggil kami blasteran sepanjang hari, tetapi ketika bertemu di lapangan, hanya setengah dari Anda yang akan tersisa," begitu ungkapan balasan dari Stephan Schrock yang seperti membalas ucapan Bima Sakti.

Dia merasa punya hak untuk memperkuat Timnas Filipina karena punya paspor asal negara ibunya.

"Saya bukan pemain asing, saya punya ibu Filipina dan ayah Jerman. Jadi saya punya dua kewarganegaraan, sama seperti pemain-pemain (Ceres Negros) lainnya," kata Stephan Schrock kepada detikSport pada April 2019.

"Saya tak tahu kenapa mereka berpikir kami adalah pemain naturalisasi. Penjelasannya mudah, kondisi orang Filipina yang punya darah keturunan itu berbeda dibanding negara lain."

"Akan tetapi, kami (orang Filipina keturunan) adalah bagian dari kedua negara ini. Saya tak tahu apa sih masalah yang membedakan kami (pemain keturunan)?," ucapnya keheranan.



Simak Video "Kapten Klub Kampiun Liga Filipina Tertarik Main di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(cas/aff)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com