Malaysia Pernah Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20, Pakai Naturalisasi?

Muhammad Robbani - Sepakbola
Senin, 24 Agu 2020 21:20 WIB
Timnas Indonesia U-19 menggelar pemusatan latihan perdana di bawah arahan Shin Tae-yong. 51 pemain hadir dalam seleksi perdana ini.
Timnas Indonesia U-19 dirumorkan akan menaturalisasi pemain untuk Piala Dunia U-20 2021, Malayisia dahulu bagaimana? (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Indonesia bukan negara Asia Tenggara pertama yang menjadi host Piala Dunia U-20. Malaysia sudah lebih dulu mendapatkan kesempatan itu pada 1997.

Pada edisi 2021, turnamen ini akan kembali digelar di Asia Tenggara setelah terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah. FIFA memilih Indonesia ketimbang kandidat kuat lainnya yakni Brasil dan Peru.

Meski cuma berstatus turnamen usia muda, titel Piala Dunia tetap terasa wah di Tanah Air. Oleh karena itu PSSI dan pemerintah Indonesia pun ingin Timnas Indonesia tak cuma numpang lewat.

Salah satu isu yang tengah hangat adalah dugaan rencana PSSI menaturalisasi lima pemain muda asal Brasil. Mereka sudah datang dan tersebar di Persija Jakarta, Arema FC, dan Madura United.

Isu ini mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Salah satunya eks Pelatih Timnas U-19 Fakhri Husaini yang kecewa dengan proyek besar-besaran naturalisasi PSSI demi prestasi di Piala Dunia U-20.

"Jika memang PSSI sudah kehilangan rasa percaya dirinya terhadap para pemain lokal, serahkan saja status tuan rumah Piala Dunia U-20 kepada negara lain," tulis Fakhri di Instagram setelah banyak wartawan meminta pendapatnya.

Sebenarnya wajar tuan rumah ingin meraih prestasi dan tak mau malu di depan publiknya sendiri di ajang sebesar Piala Dunia. Namun PSSI juga jangan lupa bahwa prestasi di kelas usia bukan segala-galanya.

Setidaknya hal itu sudah pernah ditunjukkan Malaysia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 1997. Saat itu turnamen ini masih bernama FIFA World Youth Championship atau Piala Dunia Usia Muda.

Semua pemain berstatus lokal dengan jumlahh 19 orang yang didaftarkan FAM (Federasi Sepakbola Malaysia) untuk tampil di ajang itu. Mereka semua pun bermain di dalam negeri dengan memperkuat klub-klub seperti Kuala Lumpur FA, Kelantan FA, hingga Perlis FA.

Pada akhirnya, Malaysia memang babak belur. Gawang mereka bobol sembilan kali dan hanya mampu mencetak dua gol.

Megat Amir Faisal cs pun tak meraih satu poin pun. Mereka pun menjadi juru kunci Grup A sehingga tak lolos ke fase selanjutnya.

Pada akhirnya Argentina yang menjadi juara setelah menang 2-1 atas Uruguay pada babak final. Saat itu Argentina diperkuat nama-nama yang nantinya sukses berkarier di sepakbola seperti Esteban Cambiasso, Juan Roman Riquelme, hingga Pablo Aimar.

Menariknya, peta persaingan ajang ini sedikit berbeda dengan kelas senior. Tim-tim seperti Portugal, Ghana, dan Ukraina pernah menjadi juara.

Bukan tak mungkin Indonesia juga bisa berbicara banyak atau memberi kejutan. Apalagi ini juga bukan kali pertama keikutsertaan Indonesia.

Indonesia sempat tampil pada edisi 1979 di Jepang. Saat itu Indonesia tergabung di Grup B bersama Argentina, Polandia, dan Yugoslavia.

Bambang Nurdiansyah cs pun berkesempatan bermain melawan Argentina yang diperkuat Diego Maradona. Bagi pemain Timnas Indonesia tentu itu akan menjadi pengalaman seumur hidup bertanding melawan pemain bintang dunia.

Nah hal itu yang juga menjadi perhatian Fakhri Husaini. Selain itu, pemain-pemain Indonesia pun berkesempatan bakatnya dipantau oleh pemandu bakat dunia.

"Kita mungkin punya referensi berapa banyak tim World Cup U-20 itu juaranya itu negara-negara yang tak pernah kita dengar, iya kan?" tutur pelatih kelahiran Aceh itu.

"Nah ini kan harusnya kita bisa belajar dari itu. Artinya ya kita belajar dari penyelenggaraan Piala Dunia U-20 bahwa banyak yang menjadi juara itu bukan negara-negara yang punya prestasi hebat sepakbola-nya di tim senior," ucapnya.

(cas/pur)