sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 08 Sep 2020 14:30 WIB

Marak Corona di Tengah Liga Eropa, Bagaimana Nasib Shopee Liga 1?

Mercy Raya - detikSport
Logo Shopee Liga 1 Marak Corona di Tengah Liga Eropa, Bagaimana Nasib Shopee Liga 1? (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Jakarta -

Sejumlah kasus positif virus corona ditemukan di tengah liga di Eropa yang akan berlangsung. Indonesia berencana menggulirkan Shopee Liga 1 2020 dan juga Liga 2 mulai 1 Oktober dan 17 Oktober mendatang. Bagaimana pemerintah dan PSSI menyikapinya?

Beberapa pemain Eropa dikabarkan terpapar virus corona. Terbaru, Neymar, Angel Di Maria dan Leandro Paredes, dinyatakan positif setelah menjalani tes pascapulang liburan di Ibiza, Spanyol.

Situasi tersebut tentu memunculkan kekhawatiran bagi negara-negara yang akan memutar kembali kompetisi. Tak terkecuali Indonesia.

Meskipun sudah ada aturan dan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh induk organisasi PSSI dan pemerintah pusat. Akan tetapi tetap diperlukan kehati-hatian untuk mencegah adanya cluster baru. Seperti apa caranya?

"Memang yang kami utamakan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Itu kenapa kami dukung cabor yang menggulirkan kompetisi nasional, ada sepakbola, voli, basket, untuk menghentikan sementara liganya," kata Menpora Zainudin Amali dalam acara Haornas 2020 Tingkatkan Kebugaran, Prestasi, dan Nilai Ekonomis Olahraga, di Wisma Kemenpora, Selasa (8/9/2020).

"Tapi sekarang ini semua sudah kami lihat. Ketua umum PSSI juga sudah bicara bahwa negara lain sudah memulai kompetisinya, jadi yang penting adalah kedislipinan kesehatan dan pasti ada pendampingan dari pusat," dia menjelaskan.

Amali mencontohkan kegiatan di Kemenpora yang mendapat pendampingan dari Dinas Kesehatan setempat. Maka, sebut menteri asal Gorontalo ini, sudah pasti kompetisi akan mendapat pendampingan yang sama.

"Apalagi Ketum PSSI sudah bilang tanpa penonton. Jadi ini bentuk kehati-hatian kami agar kompetisi tak menjadi cluster baru COVID-19," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. Menurutnya, jauh sebelum diputuskan melanjutkan kompetisi telah dilakukan rapat koordinasi dari berbagai pihak. Terutama soal kesehatan.

"Jauh-jauh hari sebelum digulirkan liga ini, kami betul-betul sudah mendiskusikan berkaitan dengan kemanusiaan, kesehatan, agar tak jadi masalah dengan bergulir liga ini," kata pria yang karib disapa Ibul ini.

"Tadi saya jelaskan ada 13 panduan untuk pemain, klub, kru TV, keamanan, dan lain-lain, yang mana wajib dilakukan rapid test. Kami juga melakukan audiensi dengan Satgas COVID-19 guna membantu kami. Kami siapkan anggaran hampir Rp 5 miliar lebih dan itu tanggung jawab federasi," sebutnya.

"Tapi nanti saat bergulir pihak Satgas akan membantu kami dan pemain akan disterilisasi dan dijaga betul. Lalu masing-masing klub melakukan rapid test dibantu Pemda setempat dan terlibat penanganan liga 1."

Kepada suporter, sebut Iriawan, pihaknya sudah menyatakan liga bergulir tanpa penonton. "Jadi jangan sampai ada cluster baru dan ini disiarkan di televisi dan dimohon jangan ada nonton bareng," imbuhnya.



Simak Video "Indonesia Bidik Wisata Olahraga Sebagai Sumber Devisa Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/aff)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com