Bung Towel: Masih Terlalu Dini Nilai Shin Tae-yong di Timnas Indonesia

Muhammad Robbani - Sepakbola
Selasa, 08 Jun 2021 20:47 WIB
Para pemain Timnas berlatih di Lapangan D Senayan, Jakarta, Rabu (10/2/2021).
Kerja Shin Tae-yong di Timnas Indonesia jangan dinilai sekarang. (Foto: detikcom/Grandyos Zafna)
Jakarta -

Kekalahan telak Timnas Indonesia 0-4 dari Vietnam memudarkan harapan publik sepakbola nasional lagi. Tapi, kinerja Shin Tae-yong jangan buru-buru dinilai.

Sebelumnya, Timnas Indonesia sempat memperlihatkan semangat perubahan saat berjumpa Thailand di Kualifikasi Piala Dunia 2022. Pasukan Garuda berhasil menahan imbang Thailand 2-2 meski sempat tertinggal dua kali pada 3 Juni lalu.

Evan Dimas cs memperlihatkan fighting spirit yang layak diapresiasi. Pemain mau berlari sepanjang laga. Masalah fisik yang kerap menghantui, seolah sudah tak berlaku lagi.

Ada harapan bahwa Timnas Indonesia sedang dalam progres ke arah yang lebih baik di bawah asuhan Shin Tae-yong. Gaya keras pelatih asal Korea tersebut terlihat mulai membuahkan hasil dilihat dari skor imbang 2-2 kontra Thailand.

Antusiasme publik sepakbola pun naik lagi terhadap Timnas Indonesia. Sayang, hal itu cuma berlangsung singkat. Timnas Indonesia akhirnya takluk dengan skor besar 0-4 dari Vietnam.

Nama Luis Milla yang sudah kadung menjadi favorit pun muncul lagi. Pelatih asal Spanyol tersebut dianggap sebagai sosok yang pas untuk membangun Timnas Indonesia.

Menanggapi hal itu, pengamat sepakbola Tommy Welly menyampaikan pandangannya. Terlalu terburu-buru kalau menilai Shin Tae-yong berdasarkan kekalahan dari Vietnam saja.

"Timnas sekarang menurut saya belum selesai dibangun. Ada situasi kontras antara Thailand dan Vietnam dimana kita bisa main imbang lalu kalah. Soal intensitas, pressing Vietnam lebih menyulitkan. Secara overall saat melawan Thailand dan Vietnam, timnas kita bermain reaktif dengan counter, karena kontrol dipegang Thailand dan Vietnam," kata Tommy Welly membuka perbincangan dengan detikSport.

"Di luar itu, ada yang patut diapresiasi sepertinya solidnya pertahanan kita. Ada, determinasi fighting spirit ada, dan daya juang itu ada peningkatan. Tetapi memang secara organisasi belum selesai dibangun," ujarnya.

"Banyak momen kalau berhasil merebut bola lalu membangun serangan balik, itu belum berjalan dengan baik. Satu-dua sentuhan hilang, lalu hilang bola. Overall dari dua penampilan itu, satu pertandingan memberi harapan tetapi anjlok lagi. Tetapi itu normal. Menyikapinya harus tetap jernih," katanya lagi.

Satu hal yang menjadi sorotan adalah pemilihan pemain muda di skuad Timnas Indonesia saat ini. Dari 30 pemain yang dibawa ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), cuma Evan Dimas yang berpengalaman di level senior Timnas Indonesia.

Dua pemain senior lainnya adalah Adam Alis atau Kushedya Yudo. Adam sebelumnya jarang mendapat panggilan Timnas Indonesia level senior. Sementara Kushedya Yudo baru pertama kali merasakan panggilan Timnas Indonesia era Shin Tae-yong.