Suka-Duka Agen Pemain Saat Nasib Liga 1 Tak Menentu

Muhammad Robbani - Sepakbola
Rabu, 07 Jul 2021 16:53 WIB
Pesepak bola Bali United Ilija Spasojevic (tengah) mencoba melewati penjagaan dua pesepak bola Persita Tangerang saat pertandingan Piala  Menpora 2021, di Stadion Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (2/4/2021). Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 1-1 dan Bali United dipastikan lolos ke babak delapan besar. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/hp.
Agen pemain risau Liga 1 2021/2022 masih belum jelas. (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Jakarta -

Bukan cuma klub dan pemain yang kecewa kompetisi Liga 1 2021 kembali urung terlaksana. Agen pemain asing turut merasakan dampak dari penundaan ini.

Bagaimana tidak, membawa pemain asing ke Indonesia tentu membutuhkan effort lebih. Kompetisi sepakbola Indonesia yang jadwalnya tak menentu, bisa menjadi faktor pertimbangan utama bagi pemain asing untuk datang ke sini.

Saat ini, situasi pandemi COVID-19 makin menurunkan citra kompetisi sepakbola Indonesia. Sudah hampir 1,5 tahun kompetisi vakum sejak Liga 1 2020 dihentikan pada pertengahan Maret musim itu. Sampai kini kompetisi belum bergulir lagi.

Aggy Eka Ressy adalah salah satu agen yang paling banyak membawa pemain asing ke Indonesia untuk musim 2021. Beberapa klub memercayai Aggy untuk menyuplai pemain asing. Mulai dari Borneo FC, Persita Tangerang, Persebaya, Persiraja Banda Aceh, Persik Kediri, Persib Bandung, hingga Persela Lamongan.

Dalam merayu pemain asing untuk datang ke Indonesia, tentu banyak hal yang didiskusikan sebelum sang pemain mantap menerima tawaran. Mulai dari besaran nilai gaji yang ditawarkan klub hingga kepastian kick off kompetisi.

Malang bagi agen, saat pemain asing sudah datang dan siap bertanding, kompetisi sepakbola Indonesia kembali ditunda penyelenggaraannya. Terkini, PT Liga Indonesia Baru (LIB) baru saja memperpanjang penundaan Liga 1 hingga akhir Agustus.

Bagaimana reaksi agen pemain setelah mendengar penundaan kompetisi? Aggy Eka Ressy berbagi cerita soal ini.

"Reaksi saya senang dan sedih. Senang karena kalau kompetisi mundur kan artinya demi kesehatan, kemanusiaan, kesehatan. Apalagi saya sendiri juga saat ini sedang terkena COVID-19. Banyak klub yang pemainnya kena COVID-19 juga," kata Aggy membuka percakapan dengan detikSport.

"Kalau Liga 1 nggak mundur dan tetap mulai tanggal 9 (Juli), mungkin klub bisa nggak ada pemain. Sedihnya, takut, kecewa, dan was-was kalau mundur-mundur terus seperti musim lalu yang nggak jadi (kompetisi ditiadakan), itu kan repot. Begitu sih," ujarnya.

"Posisinya kebanyakan pemain saya sudah di Indonesia, kemudian baru ada berita bahwa kompetisi ditunda. Beberapa dari mereka sudah teken kontrak dan sudah ikut latihan. Kan kami nggak tahu hal seperti ini bakal terjadi," katanya lagi.

[Gambas:Instagram]

Belajar dari dihentikannya Liga 1 2020, Aggy sudah memberikan penjelasan soal ketidakpastian sepakbola Indonesia. Sudah ada langkah-langkah antisipasi yang disiapkan agar pemain tak kecewa-kecewa amat saat sudah dibawa ke Indonesia.

Tak cuma agensi pemain yang antisipatif, klub-klub juga kini punya strateginya sendiri. Untuk musim 2021, banyak hal-hal yang sudah dipertimbangkan matang-matang terkait masalah kontrak andai kompetisi kembali ditiadakan.

"Mereka (pemain asing) sudah tahu dengan kondisi jadwal sepakbola Indonesia. Dibilang siap dengan ketidakpastian sih nggak juga, kami sih intinya optimis sepakbola bisa bergulir. Karena di dunia ini nggak ada sepakbola yang berhenti," tutur Aggy yang membawahi pemain-pemain seperti Adam Mitter (Persita), Taisei Marukawa (Persebaya), Youssef Ezzejjari (Persik), hingga Mohammed Rashid (Persib).

"Semua sudah belajar dari musim lalu, sekarang semua klub pakai pasal force majeure kalau ada bencana alam, huru-hara, perang-konflik, pandemi yang bisa menghentikan liga. Jadi kalau Liga 1 stop ya semua pemain mengerti dan siap pergi juga. Jadi aman sih kalau masalah itu, aman dari sisi klub dan pemain. Sama-sama mengerti," ucapnya.

Selain pemain asing, Aggy juga membawahi beberapa pemain lokal. Sebut saja Miftah Anwar Sani yang sempat dibawanya ke Bosnia, Irfan Jaya, hingga Alwi Slamat.

Belakangan, opsi membawa pemain Indonesia ke luar negeri sedang menjadi tren. Apalagi setelah kesuksesan Asnawi Mangkualam di K League 2 bersama klub Ansan Greeners.

Aggy juga punya impian untuk membawa pemain lokal ke liga luar negeri. Jadi, ada alternatif kompetisi ketimbang menunggu kompetisi dalam negeri yang sering terkendala ketidakpastian.

Salah satu pemainnya malah pernah hampir dibawa ke Jepang pada musim 2020. Tetapi situasi COVID-19 membuat hal itu gagal terealisasi.

"Rencananya (boyong pemain Indonesia ke luar negeri) masih ada, cuma nanti dulu lah. Ada cuma belum sekarang, belum bisa tenaganya ke sana. Bulan-bulan ini fokus di sini dulu," ucap Aggy.

Kini Aggy hanya bisa berharap Liga 1 dalam negeri bisa menemui titik terang. Jika kompetisi dimulai, ia pun lega saat kelak melihat para pemainnya akhirnya merumput di lapangan hijau.

"Sejauh ini pemain saya sih nggak ada yang bermasalah dengan nilai kontrak. Tetapi belum tahu ke depannya kalau liga masih akan ditunda-tunda terus. Lebih baik dipastikan jalan atau batal. Kalau ditunda-tunda kan sama juga menggantung," ujar Aggy.

Lihat juga video 'Izinkan Piala Menpora 2021, Kapolri: Saya Minta Tidak Ada Nobar':

[Gambas:Video 20detik]



(cas/krs)