APPI Harap Jangan Cuma Pemain yang Dihukum Kasus Pengaturan Skor

Muhammad Robbani - Sepakbola
Kamis, 04 Nov 2021 18:00 WIB
BERLIN, GERMANY - JUNE 13:  Girls line up with soccer balls while participating in a training day in a program to encourage integration of children with foreign roots through football at the SV Rot-Weiss Viktoria Mitte 08 sport club shortly before the arrival of German Chancellor Angela Merkel on a visit on June 13, 2018 in Berlin, Germany. Merkel is hosting an intergration summit at the Chancellery later today.  (Photo by Sean Gallup/Getty Images)
Ilustrasi (Getty Images)
Jakarta -

Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) berharap penyelidikan kasus pengaturan skor tak berhenti setelah sanksi dijatuhkan ke sejumlah pemain.

Komite Disiplin (Komdis) PSSI baru saja menjatuhkan sanksi untuk kasus pengaturan skor Perserang Serang, Rabu (43/11/2021). Lima pemain Perserang dan satu pemain Persic Cilegon dinyatakan bersalah oleh Komdis PSSI.

APPI berharap tak cuma pemain yang mendapat sanksi karena mereka hanya menjalankan perintah setelah mendapat iming-iming sejumlah uang. Sementara mafia yang merupakan penjahat sebenarnya, nyaris tak tersentuh hukum.

"Kasus ini tidak boleh berhenti di pemain saja. Lagi-lagi yang kena sanksi hanya pemain dan sudah dapat diyakini pasti ada di luar 6 pemain tersebut yang ikut terlibat," kata Plt. General Manager APPI M.Hardika Aji kepada wartawan.

"Kami juga sudah berkomunikasi dengan beberapa dari 6 pemain tersebut. Masih pendalaman dan koordinasi lebih intens dengan mereka," ujarnya menambahkan.

APPI sendiri ikut terlibat aktif dalam pemberantasan pengaturan skor. Lewat sosialisasi, mereka ingin para pemain anggotanya bisa bermain dengan cara-cara yang menjunjung sportivitas dan fair play.

Dijelaskan Aji, sebenarnya juga ada yang mengawasi praktik match fixing selain Satgas Antimafia Bola. Bahkan pengawasannya bisa melibatkan interpol.

APPI punya sebuah aplikasi digital yang dikhususkan buat pemain untuk melaporkan dugaan-dugaan pengaturan skor. Laporan dari aplikasi tersebut terhubung ke interpol yang akan turun tangan menyelidiki dugaan praktik kotor di sepakbola.

"Yang pasti kami tak ingin cuma berhenti di komdis aja. Kami juga ada arahan dr FIFPro untuk melaporkan melalui Red Button karena nanti akan terafiliasi dengan Interpol langsung," ujarnya.

"Satgasnya ada. Red button (laporan dugaan match fixing) sudah ditempatkan tim di tiap-tiap negara. Sifatnya masih pasif. Jika ada laporan baru bergerak," ucap Aji.

(aff/krs)