Shin Tae-yong Komentari Sanksi Pemerintah Singapura untuk Elkan Baggott cs

Muhammad Robbani - Sepakbola
Minggu, 02 Jan 2022 06:40 WIB
Pemain yang baru mendapatkan KTP Indonesia ini turut latihan bersama sebelum berangkat ke Turki untuk menjalani TC. Postur tubuhnya tinggi banget lho gaes.
Elkan Baggott dan tiga pemain Timnas Indonesia melanggar aturan bubble Piala AFF 2020 (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Singapura -

Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong kecewa dengan Pemerintah Singapura yang melarang empat pemainnya tampil di final leg kedua Piala AFF 2020. Ia heran dengan penerapan sistem bubble yang ada.

Elkan Baggott, Victor Igbonefo, Rizky Ridho, dan Rizky Dwi dianggap melanggar itinerary (rencana perjalanan) di Singapura, di mana semua peserta termasuk ofisial hanya dapat berpindah dari hotel yang ditunjuk panitia, ke tempat latihan, ke tempat venue pertandingan, dan dilarang keluar atau beraktivitas di luar ketentuan.

Sanksi yang diberikan ini membuat Elkan Baggot Cs pun absen pada final leg kedua di Stadion Nasional, Singapura, Sabtu (1/1/2021). Laga ini berakhir imbang dengan skor 2-2, membuat Thailand unggul agregat 6-2 usai menang 4-0 di leg pertama.

Terkait hal itu, Shin Tae-yong sebetulnya memuji Pemerintah Singapura yang bersedia menyelenggarakan Piala AFF. Tapi, ia menilai banyak keanehan dalam sistem bubble yang diterapkan di Piala AFF.

Dari pernyataan Shin Tae-yong, pelanggaran keempat pemain itu dilakukan pada 15 Desember 2021. Pemerintah Singapura dan panitia Piala AFF sempat membentuk tim investigasi sebelum akhirnya menjatuhkan sanksi baru-baru ini.

"(Hukuman itu) sangat mengecewakan. Pertama, sebelum itu saya mau mengucap terima kasih ke pemerintah Singapura dan Federasi Sepakbola Singapura (FAS) karena mengadakan Piala AFF walau sedang pandemi (COVID-19)," kata Shin Tae-yong seusai laga final.

Baca juga: Air Mata Garuda

"Tapi sangat mengecewakan secara administrasi, banyak masalah di tengah-tengah karantina juga. Pagi ini baru dikabarkan empat pemain tak bisa dimainkan. Ini akibat kejadian terjadi tanggal 15 (Desember 2021), karena terlalu sumpek di kamar terus," ujarnya menambahkan.

Sistem bubble yang dilakukan di Piala AFF dipilih agar peserta dari luar negeri tak membawa virus COVID-19 terutama varian Omicron. Pada kenyataannya, hotel yang ditunjuk panitia ternyata tidak steril dari masyarakat umum. Di hotel, para pemain tetap menjumpai orang lain yang bukan peserta Piala AFF.

"Pemain keluar hanya sebentar saja dikasih teguran penalti. Tak masalah sebenarnya, kami mengerti. Tapi, ada banyak orang umum di lantai (hotel) kami," tutur Shin Tae-yong.

"Akhir pekan pun ada yang mabuk juga karena ada pesta. Sangat-sangat berisik dan membuat kami terganggu untuk istirahat. Ke depan harus ada perbaikan untuk masalah seperti ini agar kami fokus ke pertandingan saja," ucapnya.

(adp/pur)