Pengamat: Sistem Bubble di Liga 1 Harusnya Tidak Terlalu Lama

Mercy Raya - Sepakbola
Sabtu, 29 Jan 2022 19:35 WIB
Pesepak bola Persib Bandung Mohammed Rashid (kiri bawah) berselebrasi bersama rekannya, Beckham Putra (atas) dan David Da Silva setelah berhasil membobol gawang Borneo FC dalam pertandingan sepak bola Liga 1 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar Bali, Selasa (18/1/2022). Persib berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 1-0. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/hp.
Sistem Bubble Liga 1 disebut tak boleh terlalu panjang. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta -

Pengamat sepakbola Mohamad Kusnaeni menyebut Liga 1 harusnya tidak terlalu lama menerapkan sistem bubble. Potensi kebocoran mungkin terjadi meskipun pelanggarannya kecil.

Hal itu disampaikan Bung Kus menyusul munculnya adanya kasus COVID-19 di kompetisi Liga 1. Seperti diberitakan sebelumnya, sembilan pemain Persib Bandung dikabarkan terpapar COVID-19 dalam tes swab PCR menjelang duel dengan Tira Persikabo pada Sabtu (29/1/2022). Dalam pernyataan Persib dijelaskan bahwa semua pemain tanpa gejala.

Meskipun dihantam badai virus Corona, faktanya hasil tersebut tak memengaruhi jadwal pertandingan. PT Liga Indonesia Baru (LIB) tetap akan menggelar laga Maung Bandung melawan The Army di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali pada pukul 20.45 WIB.

"Ini kan memang situasi yang tidak normal. Memang tidak ada sebenarnya sistem yang betul-betul efektif ya. Kita ingat zaman IBL kan kejadiannya sama, sistemnya bubble sekalipun sebetulnya tidak menjamin pada dasarnya," kata Kusnaeni kepada detikSport, Sabtu (29/1/2022).

"Yang menjamin itu jika ada kedisiplinan, kepatuhan yang penuh dari semua yang terlibat (pemain, pelatih, ofisial, perangkat pertandingan, dan sebagainya) dalam sistem tersebut. Ada satu saja yang tidak disiplin itu berpengaruh terhadap keseluruhan," dia menjelaskan.

"Makanya, saya selalu mengatakan tidak pernah ada sistem yang sempurna untuk mencegah penularan, baik sistem bubble atau apapun, karena potensi itu ada tergantung pada tingkat kedisiplinan," imbuhnya.

Kusnaeni juga mengatakan potensi kebocoran juga dapat terjadi jika sistem bubble yang diterapkan pada kompetisi terlalu lama. "Apalagi jika terjadi di satu tempat, itu akan menciptakan kejenuhan, dan secara enggak sadar, katakan lah pergi ke supermarket, beli minuman, kebutuhan apa, tahu-tahu mampir ke ATM."

"Memang itu manusiawi dan tak hanya terjadi di sepakbola, cabang olahraga lain juga bisa terjadi. Makanya, kalau bisa tidak terlalu panjang waktunya karena menciptakan kejenuhan. Jika itu terjadi maka potensi terjadi pelanggaran-pelanggaran walaupun kecil (sifatnya)," ujarnya.

Menurutnya, sistem bubble diterapkan tidak lebih dari tiga pekan atau paling lama satu bulan. Setelah itu, tim harus dikembalikan.

"Tapi lagi-lagi ya saya katakan sistem apapun tetap potensinya ada (bocor). Katakan lah karantina dua pekan, transportasi menuju kota lain juga bisa kena. Jadi inilah risiko punya kegiatan di tengah kondisi (pandemi COVID-19) seperti ini. Sebenarnya tidak apa-apa, yang penting punya komitmen, siapa yang terkena (COVID-19) konsekuensinya tidak boleh terlibat dalam kegiatan. Jangan dipaksakan. Jika itu dilakukan akan menuntut tanggung jawab masing-masing pihak."

Sehubungan itu, ia juga berharap, adanya kesepakatan dari klub bersama pihak penyelenggara terkait lanjut atau tidaknya sebuah pertandingan jika ada pemain yang terpapar.

"Artinya berapa jumlah minimal yang memungkinkan sebuah tim berhak untuk meminta pertandingan ditunda. Jika misalnya 9 anggota tim terpapar, tujuh di antaranya pemain inti dan harus main. Rugi dong tim itu. Jadi harus ada kesepakatan tentang berapa banyak jumlah anggota yang terpapar yang membuat sebuah tim berhak minta penundaan," ujar Kusnaeni.

"Jika tidak pertama merugikan tim, yang kedua mengurangi mutu kompetisi, dan yang ketiga menciptakan ketidakpastian. Jadi kalau kompetisi ini harus diatur dengan cermat tak bisa melihat nanti. Sejak awal harusnya sistem bubble dibuat ketentuannya," dia menegaskan.



Simak Video "Persib Menang, Bobotoh Konvoi Lagi di Jalanan Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/cas)