COVID-19 Serang Cabor, Perlukah Liga Dihentikan Sementara?

Mercy Raya - Sepakbola
Senin, 31 Jan 2022 16:50 WIB
Persebaya Surabaya unggul 3-0 saat bertanding melawan Persib Bandung Rabu (8/12) malam. Dua gol Bajul Ijo berasal dari Taisei Marukawa.
COVID-19 merebak, perlukah Liga-liga sementara dihentikan? (Foto: Pius Erlangga/detikcom)
Jakarta -

COVID-19 menyerang di tiga kompetisi cabang olahraga yakni sepakbola, basket, dan voli. Lantas masih perlukah liga-liga olahraga di Indonesia dihentikan sementara?

Seperti diketahui, liga-liga kembali bergulir seiring dengan melandainya kasus penularan virus Corona di Indonesia. Kepercayaan pemangku kebijakan memberikan izin juga ditandai dengan komitmen dan kedisiplinan panitia penyelenggara, serta perserta dalam uji coba kompetisi yang dilakukan.

Seperti sepakbola dengan Piala Menpora 2021, kemudian basket, saat menggelar IBL 2021 secara bubble penuh. Kedua turnamen itu dinilai sukses sekaligus menjadi 'tiket' untuk menggelar musim selanjutnya.

Setelah kompetisi musim 2022 kembali bergulir dan kini nyaris separuh jalan, kasus COVID-19 kembali muncul beriringan di tiga kompetisi tersebut. Dari mulai sepakbola, basket, kemudian voli karena sejumlah pemain dinyatakan positif terpapar virus Corona.

Dari ketiga cabang olahraga itu pula hanya basket yang memutuskan menunda pertandingannya. Yakni Satria Muda Pertamina vs Evos Thunder Bogor, Satya Wacana Salatiga vs Pelita Jaya, dan Indonesia Patriots vs NSH Mountain Gold Timika.

Sedangkan dua cabor lainnya menetapkan terus menjalankan laga, dengan catatan para pemain yang terinfeksi langsung dikarantina.

Padahal format yang diterapkan sudah menggunakan sistem bubble atau gelembung. Artinya, peluang atlet untuk keluar dan kontak dengan publik di luar area gelembung kecil terjadi jika tanpa ada aturan yang dilanggar.

Lantas masih efektif kah penerapan sistem bubble di kompetisi?

"Prinsip setuju bubble sebagai solusi kompetisi yang aman. Kuncinya semua harus disiplin Prokes (Protokol kesehatan). Karena di beberapa kasus, ada yang tidak disiplin, misalnya penjagaan di asrama yang tidak ketat sehingga ada atlet yang keluar. Jadi kuncinya disiplin," kata pengamat olahraga Djoko Pekik Irianto kepada detikSport, Senin (31/1/2022).

Djoko sekaligus mengutarakan tak sependapat bila munculnya kasus membuat kompetisi harus dihentikan meskipun hanya sementara. Ia menyarankan untuk fokus mengatasi inti masalahnya.

"Artinya, kompetisi tetap jalan, bersamaan tangani kasusnya. Prosedur tracing harus dilakukan, jika ada yang positif, itu yang dikeluarkan, namun kompetisi tetap jalan," imbau Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori) ini.

"Jadi menurut saya tidak perlu (dihentikan kompetisinya) spesifik atasi masalahnya. Poinnya harus ada solusi tanpa menghentikan kompetisi dan perlu ada kontrol yang ketat kepada penyelenggara terkait Prokes," dia mempertegas.

Sehubungan itu, sanksi bisa diberikan jika masih ada pihak-pihak yang tidak disiplin menjalankan aturan protokol kesehatan. "Pemberian sanksi bisa dipertimbangkan," sebutnya.

(mcy/cas)