Korban Tragedi Kanjuruhan Kebanyakan Remaja

ADVERTISEMENT

Korban Tragedi Kanjuruhan Kebanyakan Remaja

muhammad aminudin - Sepakbola
Minggu, 02 Okt 2022 12:21 WIB
This picture taken on October 1, 2022 shows security personnel (lower) on the pitch after a football match between Arema FC and Persebaya Surabaya at Kanjuruhan stadium in Malang, East Java. - At least 127 people died at a football stadium in Indonesia late on October 1 when fans invaded the pitch and police responded with tear gas, triggering a stampede, officials said. (Photo by AFP) (Photo by STR/AFP via Getty Images)
Korban Tragedi Kanjuruhan Kebanyakan Remaja (Foto: AFP via Getty Images/STR)
Jakarta -

Tragedi Kanjuruhan menelan ratusan korban jiwa. Tragedi yang terjadi setelah laga Arema FC vs Persebaya itu, kebanyakan korbannya remaja dan dewasa.

Tragedi Kanjuruhan terjadi setelah laga Derby Jawa Timur, Arema FC kontra Persebaya Surabaya pada lanjutan Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Persebaya menang 3-2 atas Arema. Selanjutnya, para suporter Arema yang tidak puas dengan hasil tim kesayangannya itu menyerbu lapangan.

Kericuhan tidak terelakkan. Suporter dan pihak kepolisian saling serang, berujung tembakan gas air mata.

Situasi makin mencekam, kepanikan tak terhindarkan. Banyak korban yang alami sesak nafas yang berujung meninggal dunia.

Tragedi Kanjuruhan menelan 130 korban jiwa. Bahkan, ratusan korban lainnya masih dirawat.

"Korban meninggal 130 orang," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo ketika menjawab pertanyaan detikJatim pada Minggu (10/9/2022) pukul 10.40 WIB.

Sebelumnya, data Dinkes hingga pukul 06.30 WIB menyebutkan jumlah suporter yang meninggal versi Kadinkes Kabupaten Malang masih sebanyak 125 orang plus dua polisi. Sementara korban dirawat dari sebelumnya 180 orang menjadi 186 orang.

"Yang banyak remaja maupun dewasa," kata Wiyanto soal korban yang meninggal dunia.

Wiyanto mengungkapkan, banyaknya korban jiwa disebabkan situasi panik karena chaos hingga ada yang terinjak-injak. Namun secara medis penyebab kematian diduga karena sesak nafas.

"Situasi panik karena chaos dan terinjak-injak. Kalau secara medis karena sesak nafas. Untuk kondisi tubuh, ada yang luka-luka, patah tulang ada," ujarnya.

Artikel ini sudah tayang di detikJatim, silakan baca selengkapnya di sini.

(mua/aff)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT