ADVERTISEMENT

Nugroho Setiawan Soroti Tiga Poin dari Tragedi Kanjuruhan

Afif Farhan - Sepakbola
Senin, 03 Okt 2022 17:13 WIB
Kegunaan Gas Air Mata Sebenarnya, Kini Jadi Sorotan di Tragedi Kanjuruhan
Nugroho Setiawan Soroti Tiga Poin dari Tragedi Kanjuruhan (Foto: AFP via Getty Images/STR)
Jakarta -

Nugroho Setiawan, satu-satunya orang Indonesia pemilik lisensi FIFA Security Officer ditanya pandangannya soal Tragedi Kanjuruhan. Ada tiga poin penting.

Tragedi Kanjuruhan pecah seusai laga Derby Jawa Timur, Arema FC kontra Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam WIB.

Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya. Suporter tuan rumah selanjutnya turun ke lapangan setelah laga tuntas, terjadilah kericuhan yang tidak terhindakan.

Suporter dan pihak kepolisian bentrok di lapangan, sampai-sampai pihak keamanan melepas gas air mata. Gas air mata sampai-sampai ditembak ke arah tribun.

Para penonton yang panik berdesak-desakkan untuk keluar dari stadion. Di situlah disinyalir banyak korban jiwa meninggal dunia akibat sesak nafas. 125 Korban jiwa meninggal dunia.

ABC.net.au mewawancarai Nugroho Setiawan, Security Officer di Asian Football Confederation (AFC), yang sebelumnya menjabat sebagai Head of Infrastructure, Safety, and Security di PSSI. Dirinya menyebut tiga poin penting dari Tragedi Kanjuruhan.

"Saya menyesali sekali hal tersebut terjadi, karena sebenarnya semua itu bisa dikalkulasi dan diprediksi, kemudian dimitigasi. Ada satu mekanisme yang secara umum di manajemen adalah risk management untuk membuat suatu mitigation plan," jelasnya.

"Saya bicara ini secara normatif ya, karena saya tidak ada di lokasi saat itu. Faktor penyebab itu bisa banyak hal. Ada tiga poin dalam penyelenggaraan pertandingan," tambahnya.

Yang pertama ada tiga poin dalam penyelenggaraan pertandingan. Yang kedua adalah kondisi infrastruktur, harus dilakukan assessment. Yang ketiga adalah supporter behaviour.

"Ketiga aspek ini harus tersinkronisasi, dan ketika kita melakukan penilaian risiko atau risk assessment, kita akan akan menghasilkan sebuah rencana pengamanan yang disetujui bersama, jadi suatu agreed behaviour and procedure," ungkapnya.

"Nah, sinkronisasi ini mungkin yang tidak terjadi," lanjutnya.

"Mungkin ketika risk assessment dilakukan, kesimpulannya menjadi keputusan yang tidak populer, misalnya pertandingan dilakukan di siang hari, dengan pembatasan jumlah penonton, dan lain-lain. Pasti tidak populer dan tidak memenuhi aspek revenue," tegasnya.

Nugroho Setiawan menutup, formula yang mempertemukan persepsi itu semua adalah pencegahan, bukan penindakan!

"Formulanya adalah pencegahan, bukan penindakan ... dan ini di Indonesia harusnya bisa saja, tinggal kemauannya saja, dan didorong oleh political will," jelasnya.

"Kalau menurut kultur kita kan ini kan bukan bottom-up tapi top-down, jadi ya harus dari atas. Mungkin instruksi presiden itu harus diterjemahkan dengan baik dalam rangka menciptakan situasi yang aman, dari atas harus menginisiasikan atau menginstruksikan perbaikan-perbaikan yang di-lead dari atas," pungkas Nugroho yang sejak tahun 2020 tidak menjabat lagi di PSSI.

(aff/rin)

ADVERTISEMENT