Komunikasi Publik PSSI Dinilai Buruk, Diminta Gaet Sosok Ini Jadi Jubir

ADVERTISEMENT

Komunikasi Publik PSSI Dinilai Buruk, Diminta Gaet Sosok Ini Jadi Jubir

Lucas Aditya - Sepakbola
Jumat, 21 Okt 2022 21:40 WIB
Logo PSSI
PSSI disarankan menggaet sosok ini menjadi juru bicara. (Foto: Hasan Al Habshy)
Jakarta -

PSSI dinilai melakukan komunikasi publik yang buruk terkait Tragedi Kanjuruhan. Federasi sepakbola nasional itu disodori satu sosok untuk menjadi juru bicara.

Tragedi Kanjuruhan sudah memakan 134 korban jiwa. Peristiwa itu terjadi pada 1 Oktober 2022, usai Arema FC ditumbangkan Persebaya Surabaya.

Tindakan pihak keamanan melepaskan tembakan gas air mata membuat kekacauan di Stadion Kanjuruhan. Pada awalnya, 129 orang dinyatakan meninggal, lalu bertambah lima orang hingga saat ini.

Polisi sudah menetapkan enam tersangka dalam Tragedi Kanjuruhan. Ketua Panpel Arema FC, Abdul Haris, dan Dirut PT Liga Indonesia Baru, Akhmad Hadian Lukita, dua di antaranya.

PSSI beberapa kali melakukan blunder dalam memberi pernyataan ke publik. Anggota Exco PSSI, Sonhadji, menyebut Tragedi kanjuruhan adalah takdir Tuhan.

Pada awalnya, PSSI enggan melakukan permintaan maaf. Induk sepakbola Indonesia itu menilai kesalahan cuma ada di tingkat panpel.

Karena desakan publik, Ketum PSSI, Mochamad Iriawan, akhirnya meminta maaf dan siap bertanggung jawab pada 13 Oktober 2022.

Pengurus PSSI lain yang sering berbicara ke pewarta soal tragedi Kanjuruhan ada Yunus Nusi (Sekjen PSSI), Ahmad Riyadh (Exco PSSI), juga ada Vivin Cahyani Sungkono (Exco PSSI).

Belum lagi acara fun football PSSI dengan FIFA yang menjadi sorotan tajam. Mereka dihujat karena dinilai tak mempunyai kepekaan terhadap pada korban Tragedi Kanjuruhan.

Founder Football Institute, Budi Setiawan, memberi saran ke PSSI. Dia yang menilai komunikasi publik PSSI buruk. Sosok dr. Reisa Brotoasmoro dinilai pantas menjadi juru bicara PSSi. Dia dinilai mempunyai kapasitas yang baik agar PSSI tak tersandung masalah ini.

"Kami melihat sosok dr. Reisa Brotoasmoro patut dan layak dipertimbangkan menjadi jubir PSSI. Kepiawaian dr. reisa menyampaikan perkembangan harian dalam masa pandemi menjadi bukti bahwa dia mampu meredam kebosanan dan kemarahan masyarakat selama terkurung di rumah," kata Budi dalam keterangan yang diterima detikSport.

"Tupoksi Reisa sebagai jubir PSSI tentu bukan bicara kebijakan dan teknis sepakbola, tentu dia akan sangat kesulitan untuk mempelajari tentang sepakbola dan PSSI dalam waktu singkat. Tupoksi Reisa adalah memberikan keterangan pers mengenai apa sih sebenarnya yg dirapatkan oleh PSSI bersama AFC, FIFA, dan Pemerintah."

"Keterbukaan ini menurut kami penting tersampaikan ke publik agar pssi mendapatkan kembali kepercayaan FIFA dan Pemerintah, terutama publik, karena bagaimanapun publik adalah alasan PSSI ada. Sosok Reisa, saya yakin mampu mengelola ekspektasi publik. Perlu diingat, seringkali penyampai pesan sama penting dengan isi pesan itu sendiri. Istilah sepakbolanya naturalisasi dr. Reisa," kata dia menambahkan.



Simak Video "Erick: Sepakbola Nomor 1 di RI, Tapi Dikotori oleh Kita Sendiri"
[Gambas:Video 20detik]
(cas/raw)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT