Mencari Jodoh Timnas Indonesia

Mencari Jodoh Timnas Indonesia

- Sepakbola
Senin, 22 Jan 2007 12:19 WIB
Mencari Jodoh Timnas Indonesia
Jakarta - Hampir semua orang berteriak "cepat ambil dia!" ketika Peter Withe dipecat timnas Thailand. Namun terbukti orang Inggris itu tidak berjodoh dengan kesebelasan "Merah Putih".Withe, yang direkrut PSSI pada Maret 2004, dinilai telah gagal dan oleh sebab itu diputus kontraknya. Buat negeri yang sudah terlalu lama merindukan prestasi di tingkat regional (sebelum ke level internasional), mantan pemain Aston Villa itu tidak mampu memberikannya.Pria berusia 55 tahun itu tidak memberikan satupun gelar juara dari tidak banyak turnamen yang diikuti Indonesia dalam kurun waktu dua setengah tahun, termasuk kejuaraan paling bergengsi di ASEAN, yakni Piala AFF (sebelumnya Piala Tiger).Dus, untuk sebuah negeri yang cenderung menomorsatukan kemenangan dalam kultur sepakbolanya, polesan teknis Withe ujung-ujungnya hanya dilihat dari hasil akhir. Bermain bagus tapi kalah saja dikritik, apalagi tampil buruk dan keok.Sebagian orang mungkin menyayangkan pemberhentian Withe. Ia, sebagaimana diakui beberapa pemain, sedikitnya telah memberi perbaikan dalam hal fisik dan karakter tim. Ia juga sangat cerewet untuk mengubah mentalitas anak-anak buahnya, kendati hasilnya juga belum tampak drastis.Namun, sekali lagi, untuk tim yang terlalu frustasi pada prestasi dan dalam kultur sepakbola yang mendewa-dewakan kemenangan, barangkali tak ada alasan lagi untuk mempertahankan Withe. Logika paling cepat adalah, di tingkat ASEAN saja gagal total, apalagi di Piala Asia bulan Juli nanti.Terlepas dari sisi plus-minus Withe, faktanya kursi pelatih timnas Indonesia, biar jelek-jelek begini, mirip dengan Inggris: sama-sama panas, sama-sama rentan. Tercatat sejak 1951 telah terjadi 27 kali pergantian pelatih. Ini berarti rata-rata pelatih timnas Indonesia hanya bertahan selama dua tahun.Figur seperti apa yang sesungguhnya dibutuhkan untuk mengangkat derajat kesebelasan kita? Kalau kita tergopoh-gopoh mencari "emas", maka yang dibutuhkan adalah sosok Raja Midas, yang sentuhan tangannya selalu menghasilkan emas.Di tingkat dunia, banyak figur semacam ini. Sebut saja Bora Milutinovic yang pernah membawa lima negara berbeda ke putaran final Piala Dunia. Atau yang belakangan naik daun adalah Guus Hiddink, yang hanya dalam waktu enam bulan mampu menambah bobot pada timnas Australia sehingga sanggup menembus babak 16 besar Piala Dunia 2006.Kalau problem utama timnas kita adalah pelatih, kenapa tidak sekalian merekrut Hiddink, misalnya? Tapi sayangnya bukan itu. Pelatih yang bermutu dan "berjodoh" dengan PSSI bukanlah masalah terbesar sepakbola Indonesia. Untuk keseratus kalinya, masalahnya ada pada sistem. Berkaitan dengan aspek kepelatihan, sebuah kompetisi yang berkualitas mutlak dibutuhkan untuk merangsang terciptanya kerangka sebuah tim nasional yang baik, tidak hanya dalam hal teknis bermain bola, tapi juga karakter dan mental para pemain.Diskusi soal sistem sepakbola Indonesia, sampai ke akar-akarnya, rasa-rasanya tak pernah berhenti dan tak ada habisnya. Jika tak ada perubahan signifikan, sekelas apapun si pelatih, tak ada jaminan timnas kita berprestasi dalam waktu singkat. (a2s/mel)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads