Keane memulai karir manajerialnya tahun 2006 di Sunderland dengan memesona. Eks kapten Manchester United tersebut sukses membawa klub itu mengokohkan posisi di puncak klasemen divisi Championship berkat laga tak terkalahkan sepanjang 17 laga.
Di akhir musim, Sunderland pun promosi ke Liga Primer, dengan bonus titel juara divisi satu. Keane disanjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai akhirnya pada 4 Desember 2008, di mana dia mundur setelah Sunderland hanya bisa mengais 15 poin dari 15 partai. Sunderland ditinggalkan Keane di urutan 18, posisi teratas zona degradasi.
"Sayang sekali jadi seperti ini. Lima pekan lalu orang-orang menari-nari di jalanan Sunderland, sepakbola memang benar-benar dunia yang lucu. Rasanya lenyaplah sudah sebuah kerjasama, saya mendoakannya yang terbaik," ucap Chairman Sunderland Niall Quinn di situs timnya.
Keputusan mundur Keane itu dilontarkan setelah tiga hari bernegosiasi dengan pihak Sunderland dan Quinn. Negosiasi tak berhasil, pria yang akrab disapa Keano itu pun mundur.
"Roy Keane tidak dipecat karena kami memiliki tim yang buruk, dia mundur karena kami punya sebuah tim bagus di mana dia merasa tak bisa melangkah lagi. Ada perbedaan besar di sana," tegas Quinn yang bersama Keane pernah bahu-membahu membela timnas Republik Irlandia. (krs/krs)











































