Itulah beberapa episode yang tersuguhkan dalam laga The Lilywhites versus Pompey di White Hart Lane, Minggu (18/1/2009), yang berkesudahan 1-1, yang ditandai dengan sejumlah figur yang melakukan "reuni".
Buat tuan rumah hasil tersebut tentu saja tidak diingini karena tim kesayangannya tak bisa menang dalam enam laga terakhirnya di Liga Inggris. Namun mereka pun harus bersyukur sedikit karena terhindar dari kekalahan, karena Portsmouth-lah yang lebih dulu mencetak gol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Defoe pada pertandingan ini melahirkan beberapa kisah. Ia kembali tampil di London utara sejak digaet Spurs lagi pada 9 Januari lalu, setelah bermain untuk Portsmouth dalam satu tahun terakhir. Ia dipulangkan dengan sejumlah uang plus dua pemain Spurs, Younes Kaboul dan Pedro Mendes. Kaboul pun dalam laga hari ini dimainkan.
Suporter Pompey pasti "benci" sekali pada Defoe karena membuyarkan potensi kemenangan mereka. Sebelum gol itu ia malah sudah diberi reaksi negatif dari pendukung tim lawasnya itu. Di menit-menit awal, setiap kali menyentuh bola, siulan panjang selalu terdengar dari sektor penonton Portsmouth.
Sebaliknya, Defoe tentu saja dianggap pahlawan buat Spurs, tidak seperti Sol Campbell. Orang tak pernah lupa betapa suporter Spurs sangat membenci mantan bek internasional Inggris itu ketika memutuskan pindah ke Arsenal pada 2001. Maklum, The Gunners adalah musuh terbesar Spurs.
Saking bencinya, sampai saat ini Campbell belum dimaafkan. Saat Spurs bertandang ke Fratton Park September lalu, pemain gaek itu masih saja mendapat teriakan-teriakan tak menyenangkan dari suporter Tottenham. Polisi sampai-sampai mengambil tindakan karena cemoohan itu sudah bersifat rasis dan melecehkan -- Campbell disebut homo.
Untungnya perlakuan lebih buruk kali ini tidak terjadi justru di stadion yang pernah sembilan tahun dihuni Campbell. Walaupun sesekali masih dicemooh, tapi itu tergolong normal. Namun, Campbell boleh jadi tetap merasa tak enak karena bola yang ditembakkan Defoe di menit 70 menggelosor dari kolongnya, dan kemudian bersarang di gawang David James.
Terakhir, Redknapp pun bereuni dengan tim dan asisten lamanya. Sebelumnya ia membesut Portsmouth selama empat tahun dan Tony Adams adalah tangan kanannya di Fratton Park sejak Juni 2006. Adams yang naik pangkat setelah Redknapp pindah ke Spurs berhasil meredam seniornya itu. Buat Redknapp, paling tidak ia tidak mendapat cibiran dari suporter Portsmouth seperti yang sempat diberikan pada Defoe.
(a2s/roz)











































